Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 122.


__ADS_3

Arini menggulung selimut, dan bersandar di kepala ranjang menonton TV yang berada di kamarnya. Namun, Arini tertidur.


Ketika Galang terbangun dan menangis, Arini setengah sadar ia segera menenangkan putranya itu dengan memberinya Asi.


Galang segera terlelap kembali, setelah itu Arini meletakkan Galang di baby box yang ada di sebelah ranjangnya. Ia kembali duduk di tepi ranjang mengeluarkan ponselnya dari bantal, dan melihat ke arah layar. 


Sudah lebih dari jam sepuluh malam, namun Seto belum juga pulang. Ini sudah larut Arini khawatir terjadi sesuatu kepada suaminya itu.


Arini memikirkannya, tetapi ia belum mengambil tindakan untuk menelepon Seto, suaminya itu juga tidak mengirimkan pesan apapun seperti alasan mengapa ia pulang terlambat. Arini berpikir mungkin Seto lembur jadi ia tidak meneleponnya, karena takut menganggu.


Arini menggenggam ponselnya dan mendengus, ketika melihat keadaan malam di luar melalui jendela kamar ia merasakan kosong di hatinya.


Arini mematikan tv, ia melihat kembali Galang yang sedang lelap lelapnya, bahkan putranya ini begitu mirip dengan Seto, putih, hidung mancung serta calon posturnya yang tinggi.


Ketika sedang melayang melamunkan Galang, teleponnya berdering, ia segera merendahkan volume suaranya agar tidak membangunkan Galang. dan ketika melihat nama " Papa " dia tersenyum senang.


" Halo sayang.." Arini mendengar suaranya, bahkan hanya mendengar suara Seto segala pemikiran negatif tadi lenyap seketika.


" Kamu belum tidur mah?" tanya Seto.


"Hmm..Aku tadi menonton TV, dan tertidur lalu Galang bangun dan menangis jadi aku terbangun, apa pekerjaanmu belum selesai mas?" 


" Belum mah, aku akan pulang larut malam ini."


Arini sejenak terdiam, " apa kau lembur sendirian mas? lalu Bimo tidakkah dia menemanimu?" 


" Ya, aku bersama Bimo sekarang. Tidurlah aku akan pulang secepatnya!" 


"Baik mas, jangan larut-larut aku menunggumu." setelah mengatakan itu panggilan pun di akhiri.

__ADS_1


Malam ini hujan lebat, menjelang subuh Seto pun baru sampai di kediamannya. sesampainya di rumah ia langsung menuju lantai atas bergegas masuk ke kamar mandi lalu setelahnya ikut merebahkan diri ke ranjang bersama Arini.


Seto membangunkan Arini, " mah.. kepalaku sakit banget nih pijitin." pinta Seto dengan nada manja.


Arini pun terbangun, mengucek matanya sebentar untuk mengumpulkan seluruh nyawanya. " Baru pulang mas?" tanya Arini, ia melihat Seto yang mengigil di dalam selimut, Arini pun memegang dahinya dan benar saja suhu badan Seto sangat tinggi sepertinya suaminya itu sedang demam.


Arini pun mengikuti apa keinginan Seto yang meminta untuk di pijit, dari sudut mata Seto air mata pun mengalir itu karena suhu badannya begitu panas, dan lagi di tambah kepalanya yang begitu nyut-nyutan.


Arini turun dari ranjang, ia mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air dingin dari kamar mandi. Tak lupa ia juga mengambil handuk kecil untuk mengompres Seto. Terlihat Seto sedikit tenang, namun masih saja sudut matanya mengeluarkan air mata, karena suhu badannya belum juga turun.


" Minum obat penurun panas ya, mas..?" bujuk Arini, lalu ia mengambil kotak obat yang tersimpan di dalam lemari di samping tempatnya tidur. tak lupa ia juga mengambil air  putih untuk Seto meminum obatnya.


" Kamu tadi lembur sudah makan malam mas?"  Arini yakin suaminya ini pasti melewatkan makan malam, apalagi jadwal pekerjaannya yang begitu padat membuatnya selalu melupakan makan terlebih Arini tidak berada di sampingnya tadi jadi tidak ada yang mengingatkan.


" Belum sayang, mas tadi sibuk banget lupa untuk makan. Bisakah kau buatkan aku sesuatu yang hangat?" Seto berkata dengan nada yang begitu manja, selama berumah tangga sejauh ini, ini adalah pertama kalinya Arini melihat Seto sakit dan benar kata orang seseorang yang tidak pernah sakit. Sekalinya sakit ia akan begitu manja seperti bayi.


" Nah kan.., mas ini selalu sibuk bekerja tetapi makannya tidak di perhatikan. tunggulah aku akan membuatkan makan sebentar, jangan dekat Galang dulu mas! Aku takut nanti flu menular."  


Arini pun dengan cekatan memotong wortel dan bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat sup. Saat Arini fokus dan sibuk menyiapkan sup tiba-tiba ia di buat terkejut karena ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


Seseorang itu adalah Seto, ternyata Seto menyusulnya ke dapur. Arini dapat merasakan tubuh Seto yang lemah, suaminya itu menyandarkan kepalanya di pundak Arini, tentu saja hawa panas dari tubuh Seto merembet ke tubuh Arini.


" Loh, kok mas nyusul.., tadi kan sudah aku bilang tunggu di kamar?" Arini menghadiahkan sebuah kecupan singkat di pipi Seto. Lelaki itupun semakin mengeratkan pelukannya.


" Hatchih..hatchih...hatcih..." Seto bersin ia pun mengucek hidungnya yang tersumbat terlihat hidungnya itu juga memerah.


" Pusing banget kepalaku mah, buatin aku wedang jahe dulu gih ! Biar enakan ini tenggorokan."  suara Seto sudah mulai serak,  Arini berbalik dan memijat pelipis suaminya sebentar lalu ia menuruti apa yang di inginkan Seto.


" Duduk dulu mas.aku buatin bentar." Seto pun menurut.

__ADS_1


" Mah..banyakin jahenya, biar kerasa pedesnya." titahnya lagi.


" Sebelum minum wedang jahe, sebaiknya mas makan dulu takutnya perut mas nanti malah maag," 


Beberapa saat kemudian, Seto telah makan dan meminum wedang jahenya, lalu ia kembali ke kamar dan menyembunyikan dirinya di balik selimut, Seto mengigil membuat Arini sedih melihatnya, wajah suaminya itu juga mulai pucat.


Arini pun memakaikan jaket tebal kepada Seto dan memakaikan kaos kaki tak lupa ia juga menaikan suhu AC agar sedikit hangat. 


" Masih dingin mas?" 


" Sudah sedikit baikan, tidurlah lagi dan urusan masak biarkan di masak yang lain, kamu cukup urus Galang Lana dan aku saja." 


Siang harinya.


Tubuh Rico menegang, kedua matanya membulat sempurna dan keringat dingin pun mulai bercucuran.


Seorang pria bertubuh besar dan di penuhi tato mendekatkan tubuhnya hingga tubuh Rico terhimpit, lelaki di hadapannya jelas begitu menantangnya.


" Kau tidak bisa lari dari kenyataan, bayar hutangmu sekarang, atau aku akan menghancurkan senjata masa depan yang berada di dalam celanamu sekarang!" bisiknya.


Selama ini Rico telah berjudi, ia meminjam uang kepada rentenir untuk memuaskan keinginannya itu, namun bukannya untung ia malah semakin buntung, harapannya untuk menambah uang malah menambah kemelaratan. Sekarang sudah tanggal jatuh tempo pembayaran yang telah di sepakati sebelumnya dan Rico tidak mampu membayarnya.


" Tolong bang, beri aku sedikit waktu lagi aku akan membayarnya." rengek Rico dengan bersujud di kaki preman itu.


Bukannya menjawab Rico malah di tendang dan di hajar tanpa ampun, preman itu juga tidak segan-segan menyayat beberapa kulit Rico dengan pisau kecil hingga darah segar pun bercucuran.


" Aku kasih waktu sampai sore ini, kalau tidak jangan bermimpi untuk hidup!" 


Lalu...

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like komen rate dan vote biar aku makin giat update ya 🥳


__ADS_2