
Hari demi hari berlalu, kehidupan rumah tangga Arini dan Seto semakin harmonis, hubungan yang terjalin diantara keduanya semakin lengket bak perangko karena kehadiran kedua malaikat kecil yang semakin hari semakin menggemaskan. Setelah berkunjung ke toko perhiasan beberapa Minggu yang lalu, kini Arini semakin merasa bahwa Tuhan sangatlah baik kepadanya, setelah terlepas dari belenggu Rico, ia mendapatkan pengganti yang jauh lebih segalanya dari mantan suaminya itu.
Yang selalu berkesan bagi Arini, Seto selalu memberikan buket bunga untuknya hampir setiap hari, buket bunga yang di berikan Seto beragam dari yang ukurannya kecil hingga sampai yang tidak dapat di peluk Arini. Kalau semisal Seto tidak memberikan bunga, ia akan menggantinya dengan hal romantis lain yang tentunya membuat Arini merasa wanita paling beruntung.
Namun ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu tepatnya tiga hari yang lalu, tanpa ia duga Rico mendatangi kediamannya di saat Seto tidak berada di rumah, hal itu tentunya akan memicu kontroversi, terlebih hal seperti ini sangatlah di benci oleh Seto yang bersifat posesif kepadanya.
Sepintas ia teringat akan perkataannya..
"Apa kau tau masalalu memang mengajarkan kita banyak hal, salah satunya Adalah kebencian!"
Ia spontan mengatakan itu, karena dengan sengaja Rico menyinggungnya, mengatakan dirinya menjual harga diri kepada Seto dengan tuduhan saat ia masih menjadi istrinya, Arini dengan sengaja berselingkuh. Namun bak pepatah lempar batu sembunyi tangan, Rico seolah tidak menyadari bahwa tuduhannya itu adalah gambaran dari dirinya sendiri saat menjalin hubungan terlarang bersama almarhumah Clara.
Rico pada saat itu tidak menjawab perkataan Arini, lalu Arini pun melanjutkan ucapannya," Hal kebencian itu adalah kau! Aku begitu membencimu. Beberapa tahun kita berpisah tetapi mengapa Kau masih saja suka mencampuri urusan orang lain sampai sekarang?!"
Rico terkejut, bahwa saat ini mantan istrinya sedang memberikan dia pelajaran! Arini telah berubah bahkan sekarang ia mengatakannya dengan sangat arogan!.
Seperti biasanya Rico pun tersulut emosi, " kau pikir kau paling suci disini?! Aku hanya ingin mengajak putriku untuk tinggal bersama dimana salahnya?!"
"Omong kosong apa yang baru saja kau bicarakan? Coba katakan lagi! Apa kau benar-benar sudah tidak memiliki rasa malu meminta hal sebesar itu kepadaku?" suara Arini sedikit menurun tetapi sangat menusuk.
"Apa kau tuli?!" Rico mengatakannya dengan raut wajah yang begitu murka, "Apa kau pikir kau begitu hebat hingga menghalangi antara aku dan Alana?!"
Mata Arini seperti anak panah yang siap di luncurkan dari busurnya, " Rupanya kau tidak pernah belajar dari kesalahanmu, aku rasa hanya kematian yang dapat menghentikanmu!" Arini sangat puas dapat mengeluarkan kekesalan di hatinya.
__ADS_1
Rico semakin marah dan mengamuk, ia menerobos tubuh Arini yang berdiri di tengah pintu, pria itu berteriak memanggil nama putrinya hingga menciptakan kegaduhan yang mengusik seluruh penghuni rumah tak terkecuali Galang, balita itupun menangis karena terbangun dari tidurnya.
Saat kekacauan semakin menjadi, Arini sedikit takut kalau-kalau sampai Rico mendapatkan Alana dan membawanya pergi, terlebih di saat itu Seto masih berada di kantor, dan Arini sangat kewalahan menghadapi Rico yang keras kepala dan muka tembok itu.
"Rico jangan berteriak di rumahku! Keluar!!" Arini meraung dengan marah.
Namun suara dingin seorang pria tiba-tiba membuat nyali Rico menciut, sepertinya ia benar-benar akan mati saat ini juga.
" Rupanya ada tamu tidak di undang dan dengan beraninya membuat kekacauan di rumahku, apa yang kau inginkan bung, tembakan atau sayatan?" Seto tiba-tiba datang berkata begitu dingin dengan sikap siap menyerang.
Tetapi untuk menutupi kegugupannya, Rico berdalih, ia mengalihkan pandangannya ke Arini dan tersenyum lembut ke arah wanita itu.
"Mantan istriku tersayang, untuk tadi aku minta maaf jadi bisakah aku bertemu dengan putriku, dan bisakah jangan libatkan orang lain dulu untuk urusan kita?
"Yang kau maksud orang lain disini juga memiliki hak, jadi berbicaralah dengan baik karena bisa saja ucapanmu barusan akan menjadi boomerang untukmu nantinya!"
Suara pintu terbuka pun menyadarkan lamunan Arini, terlihat suaminya telah kembali dari kantor dengan wajah yang begitu lesu, " mas terlihat sangat lelah?"
Arini segera membantu Seto melepaskan baju kantornya, menaruh tas dan sepatu ke tempatnya lalu tak lupa memasukan baju kotor tadi kedalam ember. setelahnya ia bergegas membuatkan Seto secangkir kopi.
Tak butuh waktu lama kopi itupun ia suguhkan, lalu ia duduk di hadapan Seto, hal itu membuat pandangan Seto menatap Arini dengan serius, dan ia pun tidak suka Arini duduk di hadapannya. Sofa yang ia duduki cukup lebr untuk di isi berdua, bahkan sofa di kamar jauh lebih kecil dari ini namun bisa mengakomodasi kenikmatan bercinta yang menyenangkan bagi keduanya, kalau cuma untuk di duduki berdua ini jauh terbilang lebih dari cukup.
"Sepertinya Arini kembali tidak peka, bisa-bisanya dia memilih duduk di situ, dan membiarkan di sampingku kosong, sepertinya aku harus memberikannya pelajaran!" batin Seto.
__ADS_1
"Kemarilah!" Seto menepuk ruang kosong di sebelahnya dengan nada gusar.
"Kau tahu, aku tidak suka kau duduk di situ, kita terhalang meja, itu tidak bisa membuatku menyentuhmu! dan aku benci itu!" ucap Seto saat Arini berada di sampingnya, ucapannya begitu dalam hingga membuat hati Arini bergetar.
Entah berapa kali dan berapa ratusan Arini mengalami momen yang hampir sama, tetapi tetap saja setiap kata yang begitu ambigu dari Seto mampu membuat hatinya berdesir, bahkan hanya tangannya di genggam olehnya mampu membuat Arini merinding seolah Seto adalah kewaspadaan yang perlu di takuti tetapi tidak mungkin untuk ia lewatkan.
"Maafkan aku," seketika Arini menjawab, di penuhi oleh rasa bersalah yang membuat Seto terkekeh.
"Kenapa kau meminta maaf dengan cara yang biasa, tentunya kau bisa menggantinya dengan cara yang lebih menyenangkan!" ucap Seto sambil menahan senyum.
Setelah menyelesaikanan kalimatnya, Seto tidak sabar lagi, ia pun mulai menempelkan bibirnya ke bibir ranum Arini, menyelipkan bibirnya sendiri, mencecap dengan lidahnya, menyentuh titik-titik kenikmatan yang selalu membuatnya candu ciuman itu semakin panas dan bergairah sebelum pada akhirnya Seto berhasil mengakhirinya.
Seto sudah kepalang tanggung, hasrat lebih dari sekedar berciuman pun memaksa Seto segera memberi kode pada Arini untuk berpindah ke kamar, untuk kali ini untungnya Arini peka, ia pun dengan segera menuju kamar dan di susul oleh Seto.
Tak berlama-lama, hasratnya yang telah menggebu membuat ia mendorong tubuh Arini supaya berbaring di sofa yang berada di kamar itu, di susul dengan dirinya yang siap merasai setiap inci bagian dari tubuh istrinya.
"Kau tahu permintaan maaf seperti ini yang lebih mudah aku maafkan sayang?!" ucap Seto dengan bergerak maju mundur menikmati permainannya.
Bersambung....
hayoloh...pada ......wkwkkwkwkkw maaf ya baru bisa update author lagi kurang enak badan. untuk kalian jangan lupa jaga kesehatan ya...dan jangan lupa berikan dukungan untukku dengan cara like komen rate dan vote ya ❤️🥰
__ADS_1