Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 107.


__ADS_3

Dering telepon dari Bimo, membuat ia sejenak menghentikan sesaat kegiatannya menyibakkan rambut Hana. Kebetulan Bimo sedang tidak terburu-buru kembali ke kantor, Karena semua tugas sebelumnya telah ia selesaikan dengan baik. sehingga saat ada yang  meneleponnya ia pun segera mengangkat.


Ternyata yang menelponnya adalah sekretaris kedua Seto.


"Halo.." jawab Bimo santai.


"Pak Bimo, Pak Seto menyuruh saya untuk menghubungi anda dan menyuruh Anda untuk kembali ke kantor sekarang juga,"


Bimo mengerutkan keningnya, lalu bertanya "kenapa bukan pak Seto sendiri yang menghubungiku? Apa terjadi masalah?" 


"Pak Seto sangat sibuk, harap maklum pak." 


"Oh. Baiklah." setelah itu Bimo pun menutup panggilan.


Setelah berpamitan kepada Hana, Bimo pun segera melajukan mobilnya menuju ke kantor, tak membutuhkan waktu lama, mobilnya pun telah memasuki area parkiran. Setelah berhasil memarkirkan mobil itu Bimo segera turun dan berjalan masuk menuju ke ruangan.


Sesampainya di ruangan..


"Apa ada masalah Bos?" suara Bimo segera mengalihkan perhatian Seto yang fokus menatap layar komputer.


Suara Bimo sangat keras, sehingga mengganggu pendengarannya dia tidak marah. Tetapi dia hanya mengangkat alisnya dan menatapnya.


Wajahnya Seto cemberut dan masih menatapnya seolah bosnya ini akan menelan seluruh tubuhnya.


"Masih ingin menikahinya dengan tergesa-gesa?" 


"A-apa?" Bimo di buat bingung oleh ucapan Seto baru saja.

__ADS_1


Seto memegang dagunya dengan jari yang ramping, "sepertinya kau tidak sebodoh itu." 


Apa? Maksud dari ucapan bosnya ini sebenarnya apa dan kapan ia bodoh?.


"Maksud bos Se?"


"pisau yang tumpul, dan karatan tidak akan mampu membantumu mengupas buah walaupun di paksa sekuat tenaga dan susah payah, jika kau masih ingin mengupas buah itu, setidaknya gunakan pisau baru atau jika memang terdesak kau tau kan apa yang harus kau lakukan?"  


"Dan perbaiki laporanmu! sejak kapan kau melakukan kesalahan seperti ini?" Seto melemparkan berkas dengan sigap Bimo pun langsung menangkapnya.


Sementara itu, Saat ini Arini sedang bercengkrama dan bersenda gurau dengan Alana dan ayahnya serta kebetulan mami Septi juga berada di sana, ya setelah permintaan Arini beberapa hari yang lalu ingin menemui ayahnya tersebut Seto berinisiatif untuk mengajak ayah mertuanya itu saja untuk tinggal di rumah mereka, selain untuk membuat istrinya senang, Seto juga menginginkan mertuanya itu lebih dekat dengan anak dan cucunya, semua itu di lakukan Seto semata hanya untuk membuat semua orang yang di cintainya bahagia.


Saat bercengkrama sambil menikmati teh akan teriknya siang hari, tiba-tiba Arini merasakan sedikit kram di perutnya. Ia pun berpamitan kepada ayah dan mertuanya untuk ke kamar mandi dan mereka pun mengijinkannya.


Namun setibanya di kamar mandi, Arini di buat terkejut saat mendapati noda flek di ****** ********. Mendadak khawatir karena ini belum bulan kelahiran yang seharusnya, Arini segera kembali di mana mama mertuanya dan ayahnya sedang duduk, ia pun segera memberitahukan apa yang baru saja ia lihat, dengan sigap mami Septi mengajak Arini untuk memeriksakannya ke rumah sakit dengan di antar sopir, sementara itu Alana di tinggal bersama ayahnya.


Sebelum mereka pergi, ayah Arini berpesan untuk mengabari secepatnya saat Arini telah di periksa.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. 


Setelah Arini masuk di ruang pemeriksaan, Mami Septi bermaksud untuk keluar dan hendak menghubungi Seto lagi, namun tetap saja anaknya itu tidak menjawab panggilannya.


Di dalam ruangan, Arini memegang perutnya yang semakin terasa kencang, kedua matanya mendelik menahan rasa sakit yang begitu luar biasa bahkan rasa sakit itu menembus hingga ke punggungnya.


Dokter melakukan tensi darah kepada Arini, namun tekanan darah Arini mendadak rendah, setelah melakukan pemeriksaan ternyata bayi dalam kandungan Arini akan segera lahir, bisa di katakan bayinya lahir lebih cepat dari hari perkiraan lahiran yang di tentukan.


Dokter akan melakukan operasi Caesar, tetapi sebelum itu dokter meminta persetujuan dari pihak keluarga, untuk menyetujui tindakannya itu.

__ADS_1


Arini seharusnya bisa melakukan persalinan dengan normal, namun karena bayinya lahir pada bulan yang belum semestinya, dokter terpaksa menyarankan untuk segera mengeluarkan sang bayi melalui operasi Caesar, agar bayi selamat. 


Namun karena keputusan mendadak seperti ini, mami Septi harus menunggu persetujuan dari anaknya yaitu Seto, membuat Arini harus lebih sabar menahan rasa sakit untuk menunggu persetujuan suaminya itu.


Dan tepat pada waktunya, Seto akhirnya mengetahui apa yang sedang di alami istrinya saat ini, dengan melajukan mobilnya sangat cepat akhirnya Seto sampai di rumah sakit setengah jam kemudian. 


"Mas.." Arini berucap lirih menahan rasa sakit, kedua matanya tak mampu menahan air mata yang sebelumnya ia tahan itu. Seto mengusap lelehan air mata yang membasahi wajah istrinya, ia menatap Arini dengan tatapan pilu, seolah ia merasakan betapa sakitnya apa yang sedang di rasakan Arini sekarang. 


Arini meremas kuat lengan Seto, saat rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Rasa sakit yang seolah seperti jutaan silet yang menyayat perutnya, mematahkan satu persatu tulang punggungnya, saat anak yang ada di kandungannya sedang mencari jalan lahirnya.


Namun Arini tidak ingin mengeluh, biar bagaimanapun ia pernah merasakan sakit yang sedang di alaminya ini ketika melahirkan Alana, tetapi bedanya sakitnya ini jauh sepuluh kali lipat dari yang pernah ia rasakan sebelumnya. Apa karena anak yang akan di lahirkannya adalah laki-laki? Adakah perbedaan antara melahirkan anak laki-laki dan perempuan? Serta apakah melahirkan anak kedua jauh lebih sakit di bandingkan melahirkan anak pertama? (Jawab di kolom komentar bagi yang sudah merasakan dan tahu) 


Arini hanya merintih dan bertanya "mas.. apakah masih lama?" tanyanya dengan mata terpejam, Seto mengusap air mata yang membasahi wajah pucat istrinya itu.


"Sebentar lagi sayang..tahanlah..kalau kau merasakan sakit remas saja tanganku." Seto menyodorkan tangannya, namun Arini hanya merintih dan menolak usul dari suaminya itu, ia memilih tak bersuara saat rasa sakit itu kembali menyerangnya.


"Mas sakit sekali..." hanya itu yang di ucapkan Arini dengan memejamkan matanya serta air matanya terus mengalir.


Setelah mempersiapkan segalanya, dan telah mendapatkan persetujuan dari Seto, kini dokter akan melakukan tindakan operasi kepada Arini, sementara Seto ia di minta menunggu di luar ruangan, karena sesuai prosedur rumah sakit dokter tidak mengizinkan siapapun termasuk suami kecuali pihak medis masuk ke dalam ruangan selama operasi berlangsung.


Seto menurut walaupun hatinya di liputi rasa gundah dan kekhawatiran yang tidak terlukiskan, Ia berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi itu, wajahnya yang tampan kini di selimuti rasa kegelisahan yang mendalam.


Ia di tenangkan oleh mami Septi, Seto terus menatap pintu ruang operasi itu, rasanya ia sangat tidak sabar dan ingin mendobrak pintu itu. 


"Seto." suara itu mengalihkan perhatian Seto dan tiba-tiba...


Bersambung..

__ADS_1


jangan lupa beri aku semangat dengan cara like komen rate dan vote semua itu gratis kok jadi jangan lupa ya wkwkwk


 


__ADS_2