
Malam harinya, Alana di antarkan ke kamar anak-anak oleh Seto dengan menggendongnya, dengan sesekali menciumi pipi Alana.
Setelah menemani anak itu, ia kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Arini telah mengenakan baju tidur dan berbaring di sampingnya berbincang-bincang sejenak kemudian mereka pun terlelap dengan sendirinya.
Hari berikutnya Dio mengunjungi rumah Seto, ada beberapa hal yang ingin ia bicarakan dengan sahabatnya itu terlebih soal proyek mall yang hampir saja rampung.
Namun saat hendak mengetuk pintu, Dio sedikit terkejut karena pintu rumah Seto sedikit terbuka dan hal yang tidak terduga ia dapat menyaksikan adegan yang membuat jiwa kejombloannya meronta-ronta.
Saat ini Seto sedang mencium bibir Arini adegan yang di lihat Dio begitu romantis sehingga ia memutuskan untuk mengintip daripada meneruskan tujuannya.
Tangan Arini menggantung di leher Seto, sedangkan bibir Seto berpindah ke telinga Arini, setelah beberapa saat terlihat mereka menyudahinya dan Seto merapikan kembali penampilannya.
"Aku..akan ke atas dulu," Arini menjilat bibirnya yang sedikit bengkak, dia berbisik dan mengangkat jempolnya sambil menunjuk ke arah belakang. Arini buru-buru berbalik untuk naik ke atas.
Melihat tubuh istrinya yang hampir menghilang, mata Seto menjadi suram. Pria itu mengusap bibirnya menggunakan jari-jari panjangnya seolah nafsunya masih tersisa, menghentikan gejolak secara mendadak bagi seorang lelaki itu sangatlah menyebalkan.
"Sepertinya adegan romantis yang baru saja aku lihat membuat pemain utamanya sangat tidak puas?!" suara seseorang dari ambang pintu terdengar. tepat saat itu Seto berbalik dan melihat Dio di sana.
Temannya itu telah menyaksikan adegan tadi tapi Seto biasa saja dan tidak begitu kaget.
"Apa yang baru saja kamu lihat?" Seto bertanya dengan suara berat kemudian menggerakkan tangan ke udara dan memberi isyarat Kepada Dio untuk mengikutinya.
Dio tersenyum jahil, kemudian berpura-pura mengedarkan pandangannya dan berkata " Aku hanya sedang melihatmu bermain-main dengan istrimu."
Seto sangat senang, ia tidak dapat menahan untuk tidak melakukan sesuatu pada sahabatnya itu.
Sebenarnya Seto sudah menyadari kehadiran Dio, tetapi ia hanya membiarkannya menjadi penonton. Seto tahu jika ia menegurnya Dio akan merasa terbunuh akan rasa malu karena tidak sengaja melihatnya.
"Mengintip adalah sesuatu yang tidak sopan. dan itu perbuatan tercela." Seto duduk di sofa dan berhadapan dengan lelaki itu.
Dio berdebat dengannya " Kawan, aku adalah seseorang yang tidak dapat seketika mengalihkan pandangan ketika melihat sesuatu yang menarik, dan terlepas dari itu melakukan tindakan seperti tadi di depan umum sangatlah tidak pantas."
Seto terbahak, lalu ia berkata lagi " aku mengaku salah, karena menyuguhkan tontonan yang menyinggung perasaan lelaki jomblo, haha."
"Dasar Gila!" umpat Dio.
"Bagaimana dengan semalam?" Dio bertanya lagi pada akhirnya Seto pun menceritakan tentang kejadian semalam yang telah di laporkan Bimo padanya.
__ADS_1
"Tetap seperti biasanya, lelaki sialan itu masih saja berani Sombong."
"Kamu sendiri setelah tahu kenyataannya, apa yang kamu pikirkan tentang Dea?" tanya Seto dengan serius.
Dio menggeleng enggan.
"Aku nggak tahu To, yang jelas aku sudah tidak ada sangkut pautnya lagi." timpal Dio enteng.
" Jadi apakah aku bisa menyimpulkan, yang kamu ucapkan barusan itu artinya kamu sudah move on?"
Dio tertegun sesaat, " bisa di katakan seperti itu."
"Kamu yakin?"
"Apa kamu seorang wanita? hingga aku harus berusaha menyakinkan mu?" jawab Dio seraya terkekeh.
" bedebah." Kesal Seto seraya membakar rokoknya.
"Kalau di pikir-pikir, keputusan yang kamu ambil sangat bijak, kesempatan yang kamu berikan sama Dea nggak hanya sekali bukan?"
Dio menghela nafas, " aku hanya berpikir, seorang wanita yang bisa berbohong soal perasaan kedepannya tetap saja dia akan selalu menipu."
Ketika Seto hendak menjawab, Arini datang dengan membawa beberapa cemilan dan kopi kemudian meletakkannya di hadapan kedua lelaki itu.
"Duduklah di sini!" ucap Seto seraya menepuk ruang kosong di sampingnya, Arini menurut dan sedetik kemudian duduk di samping suaminya mendengarkan apa yang tengah di bahas para lelaki ini.
Tiba-tiba Alana datang dengan langkah kecilnya, gadis itu sepertinya habis selesai di mandikan terlihat wajahnya di penuhi dengan bedak bayi, seperti biasanya gadis itu akan meminta ciuman kepada kedua orang tuanya setelah di rasa badannya bau wangi.
Setelah memberikan ciuman, Alana masih betah berada di pangkuan papanya dan seperti memperhatikan sesuatu "papa, kenapa lehel papa melah?"
Seto kaget akan pertanyaan putrinya, begitupun Arini di buat terkejut oleh pertanyaan mendadak anaknya itu.
Di lehernya ada bekas merah yang di buat Arini semalam, dan jelas hal itu sangat mencolok adegan ini membuat keadaan semakin ambigu.
Telinga Arini memanas, Dio yang ikut mendengarnya berusaha menahan tawanya mati-matian.
Seto tersenyum nakal, tanda merah di leher Seto benar-benar membuat Arini malu di depan tamu dan putrinya sendiri.
Alana dengan pandangan fokus masih terpana, ada penilaian serius di matanya. Alana mempertimbangkan antara harus bertanya juga pada mamanya atau paman yang saat ini berada di hadapannya juga.
__ADS_1
"Paman, apa papaku di gigit halimau?" Akhirnya pertanyaan itu di tujukan pada Dio, lelaki itu sedikit tertegun Kemudian dengan tersenyum menjawab.
"Sayang, terkadang seorang wanita bisa seperti harimau."
"..." Arini merasa bahwa tidak seharusnya ia berada di sini. Arini meraih Alana kemudian bangkit dari duduknya " kalian lanjutkan saja ngobrolnya, aku akan meminta Alana untuk membantu menjaga Galang sebentar."
"Mama..hali ini aku tidak mau menjaga adik Galang, kata paman wanita bisa jadi halimau aku tidak mau nanti mengigit adik Galang juga."
"...." Arini merasa kali ini Alana telah terkontaminasi.
"jangan dengarkan pamanmu! paman hanya bercanda." ucap Seto memberikan pengertian kepada anaknya.
Alana mengangguk, kemudian menurut dan mengikuti Arini.
Tak lama kemudian, Arini mengantarkan Seto sampai dia pergi dengan Dio. Sampai mobil itu menghilang dari lingkungannya, wajah Arini masih merah.
Arini menenangkan dirinya, menepuk wajahnya dan masuk kembali ke dalam rumah. Alana sedang duduk di sofa dengan memakan biskuit, Arini sibuk membersihkan bekas cangkir dan piring tadi sambil bertanya kepada Alana. " Apakah ada tempat yang ingin kamu kunjungi hari ini nak?"
"Ya.., hali ini aku ingin pelgi ke taman dan bermain ayunan di sana."
"Ok. Mama akan memberi tahu mbak Tami untuk mempersiapkan segalanya, kita akan pergi kesana bersama adik Galang."
Seto duduk di dalam mobil, kemudian Dio memberikan iPad kepadanya.
"Apa?" Seto bertanya.
"Pilihkan aku salah satu wanita, aku akan mengajaknya kencan buta nanti."
Seto mendorong iPad kembali, pada akhirnya dio hanya memberinya tiga kata " apa terlihat konyol?"
Di sisi lain.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Kata Dea gemetar, luka di tubuhnya masih belum kering dan itu menyulitkannya untuk lari dari pria brengsek di hadapannya.
"Menurutmu, setelah kau berhasil membuatku babak belur seperti ini apa yang akan aku lakukan kepada j*l*ng sepertimu?"
Dea begitu tidak mengerti tentang apa yang Rico bicarakan, "maksud kamu apa?"
"Jangan Rico sakit." Jerit Dea histeris saat Rico dengan sengaja menyentuh lukanya.
__ADS_1
Bersambung.....
minta bantuan like komen rate dan vote dan share cerita ini agar semakin semangat akunya terimakasih. 🥰