
Malam pun menjelang, saatnya Arini menidurkan Alana. Arini mencoba membolak-balikkan halaman buku cerita, mencoba memilih cerita mana yang akan di ceritakan untuk putrinya itu. setelah beberapa saat akhirnya Arini mendapatkan cerita yang menarik yaitu kisah "duyung Aria,"
"Mama..celita apa?" suara Alana membuat Arini menoleh ke arah putrinya.
Dia meletakkan buku cerita dan mengusap lembut kepala Alana, mencoba mengecek suhu badannya, setelah merasakan suhu badan Alana baik-baik saja Arini merasa lega.
Alana kini beranjak dan berdiri di atas kasur dengan melompat kecil, hal itu membuat Arini tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, rupanya putrinya ini sudah tumbuh dewasa.
Seto tidak kekurangan apapun, jadi semua kebutuhan untuknya beserta Alana terpenuhi tanpa ia harus memintanya sekalipun, walaupun demikian Arini sangat berhati-hati dalam memakai uang, ia menyadari betapa tidak baik jika menghabiskan uang dengan tidak bijak.
"Sudah sayang, ayo tiduran! Mama akan menceritakan dongeng untukmu." mendengar itu Alana pun menurut, putri kecil itu berbaring dan mendengarkan dengan patuh apa yang di ceritakan mamanya.
Beberapa saat kemudian, Alana pun masuk ke alam mimpinya, Arini memberikan ciuman singkat di puncak kepala Alana, lalu menitipkan putrinya itu kepada pengasuh karena ia akan kembali ke kamarnya, untuk menunggu Seto pulang.
Tepat pukul 9 malam, Seto sampai ke rumahnya. Dia berjalan memasuki rumah, setelah pintu di buka oleh pelayan Seto segera masuk dan melangkahkan kakinya menuju lantai atas tepatnya menuju kamar.
"Sayang.." ucap Seto dengan mengetuk pintu kamar.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka, " Sudah pulang mas, maaf aku tidak mendengar suara mobilmu." Arini segera meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya. Lalu meraih tas kerja dan membawanya masuk.
Seto hanya menganggukkan kepalanya, lalu melangkah masuk ke dalam dan mendudukkan dirinya di sofa kamar.
Seto melepaskan jas dan kemejanya di sofa, dan Arini menaruh tas kerjanya ke lemari. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mas." ucap Arini.
"Tidak usah sayang, duduklah! Aku akan menyiapkannya sendiri kasian pasti kamu kecapekan, apalagi perutmu semakin besar setiap harinya." ucap Seto seraya memeluk Arini dari belakang dan mengelus perut buncitnya.
"Apakah dia menyusahkanmu hari ini?" tanya Seto dengan menunjuk perut Arini.
"T-ti-dak mas," jawab Arini terbata, ia merasa geli karena Seto menciumi lehernya.
"Mas, mandilah dulu." ucap Arini lagi.
"Sayang.., mandilah aku bisa pingsan mencium baumu." Arini sedikit kesal, karena Seto tidak menurut dan malah mengigit lehernya.
"Tapi jika ku buat pingsan karena kelelahan bagaimana?" ucap Seto dengan memutar tubuh Arini untuk menghadap padanya.
Kini mereka berdua saling pandang, Seto tidak bisa menahan untuk tidak merasai bibir ranum milik istrinya itu, dengan lembut ia menciumnya dan menyesapnya menyusuri rongga mulut Arini, seketika Arini meremang saat tangan Seto sudah menyusuri dan memegang lembut dengan sedikit meremasnya di bagian dada. tak hanya sampai di situ, kini tangan Seto memegang bagian bawahnya dan ia menyusuri leher jenjang Arini dan memberikan tanda merah disana.
Perlakuan Seto saat ini membuat Arini seolah melayang keenakan, "Mas..." ucap Arini dengan suara parau.
"Hem.." jawab Seto dengan melanjutkan aksinya.
__ADS_1
"Mas..mandilah dulu, kau sangat berkeringat, aku Ahh.." Arini tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya saat tangan Seto menyelinap masuk ke hutan rimba yang saat ini sudah mulai basah.
"Mas.." ucap Arini dengan mendorong pelan tubuh Seto.
"Apa?" Seto sejenak menghentikan aksinya, dan menatap manik hitam Arini.
"Mandilah dulu, tubuhmu sangat berkeringat dan ini malam semakin larut, tidak baik mandi terlalu malam dengan cuaca yang tidak menentu seperti ini." ucap Arini dengan membenahi bajunya.
"Bawel sekali," ucap Seto dengan mencubit hidung Arini.
"Ok, aku mandi, tapi setelah itu bersiaplah untuk ku makan." ucapnya lagi dengan menggigit telinga Arini pelan, lalu masuk ke kamar mandi.
Arini masih mematung, lalu sedetik kemudian ia tersadar " mati aku." gumam Arini dengan menepuk jidatnya.
Beberapa saat Seto keluar dari kamar mandi, dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya, rambutnya yang basah serta menetes di tubuh polosnya menambah kesan seksoy dan menawan saat di pandang.
"Apa?" pertanyaan Seto baru saja membuat Arini tersipu, ia ketahuan sedang memperhatikan tubuh kekar milik Seto saat ini.
"Apa? cepatlah pakai bajumu," Arini berkata dengan pura-pura sok sibuk menata tempat tidur.
"Jangan menahannya, aku bisa membantumu untuk melepaskannya." goda Seto.
"Apaan sih, ih.." Arini melemparkan bantal ke arah suaminya, hal itu membuat Seto tertawa karena berhasil menjahili istrinya itu.
Arini mengangguk, kemudian merebahkan tubuhnya di kasur dan di susul oleh Seto, " Tidurlah!" ucap Seto seraya mengecup puncak kepala Arini, dan mengelus perutnya hingga wanita yang di cintainya hanyut ke dalam alam mimpinya.
Pagi menjelang, Arini menggeliat namun ia merasakan ada sesuatu yang sedang menindih perutnya sehingga ia merasakan sedikit enggap, ternyata itu tangan Seto yang memeluknya, ia mencoba menyingkirkan tangan itu dengan pelan, setelah berhasil Arini duduk dan mengambil air minum di atas nakas.
"Pelan-pelan minumnya,"
Arini meletakkan gelas itu, "sudah bangun mas?" tanyanya dengan memperhatikan mata Seto yang masih terpejam.
"Belum."
"Belum kok bisa ngomong." Arini terkikik, lalu ia kembali merebahkan tubuhnya di samping Seto, karena jam masih menunjukkan pukul tiga pagi.
"Tapi yang bawah sudah bangun." ucap Seto dengan masih memejamkan matanya.
Arini makin terkikik, " ada-ada saja, sudah tidurlah masih pagi ini."
"Tidurin dong." Seto semakin menggoda istrinya.
"Apaan sih mas, ih.." Arini menepuk pelan dada Seto, hal itu membuat Seto membuka matanya.
__ADS_1
" Apa?" ucap Seto dengan mendekatkan wajahnya.
"Ini masih pagi, bobok lagi mas."
"Bentar saja sayang.." ucap Seto.
"Apanya?" Arini pura-pura tidak paham.
"Ngaduk semen." jawab Seto lalu membuka kancing baju milik Arini.
"Mas.." Arini mencoba menahan gerakan Seto yang ingin melucuti pakaiannya.
"Bentar doang."
"Nggak percaya," jawab Arini.
"Percaya ajalah mah." ucap Seto lalu mencium dua semangka yang baru saja di keluarkan dari tempatnya.
"Emm..." leguh Arini "nakal."
Seto semakin membuat Arini melayang di setiap sentuhannya, setelah puas bermain dengan dua semangka super itu, Seto beralih ke leher dan telinga Arini hingga membuat wanita itu meleguh dan mengeluarkan suara yang semakin membakar gairah Seto.
"Em..mas.." ucap Arini yang semakin melayang.
Melihat Arini yang sudah terbawa suasana Seto segera memberikan apa yang Arini mau saat ini, ia mencium kening istrinya lalu melepaskan celana yang masih membungkus kue apem yang Seto rasa sudah mulai basah.
Setelah bungkus itu terlepas, Seto menghadapkan Pitonnya, untuk memasuki gua yang terdapat di dalam hutan rimba, setelah di rasa posisinya pas, Seto segera melakukan penyatuan. Seto melakukannya dengan pelan, tentu saja ia tidak mau menyakiti anak yang saat ini masih dalam kandungan Arini.
Keringat Seto mulai bercucuran, setelah hampir dari satu jam ia bercocok tanam di hutan itu, Arini bisa menduga kata sebentar dari suaminya hanyalah kebohongan, buktinya saja sampai saat ini setelah ia keluar untuk beberapa kali, Seto belum saja menuntaskan acara melepaskan bisa piton itu.
"mas sudah a-aku." ucap Arini tersengal-sengal.
Melihat istrinya mulai kelelahan, akhirnya Seto mengangguk dan "ah.. mah, aku kelu-ar."
Cairan putih itu menyembur ke dalam hutan dan Arini dapat merasakan kehangatannya.
Tiba-tiba...
Bersambung.....
cuaca boleh saja mendung, bahkan akan basah saat hujan mulai turun tapi kalian jangan basah ya wkwkkwkwk
jangan lupa like komen rate dan vote 🥰🥳
__ADS_1