Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 91.


__ADS_3

"Apa?!"  Rico begitu terkejut, tanpa di jelaskan lebih ditail, lelaki itu dapat memahami maksud dan inti dari pernyataan Tomi.


Dengan dadanya yang kencang, dan wajahnya yang memerah ia bergumam " emang aku butuh pekerjaan, tapi pekerjaan yang kamu tawarkan itu sangat buruk. Kamu pikir aku cowok apaan?!" 


Setelah itu, Rico menyesap rokoknya dengan kuat lalu membuang puntungnya ke sembarang arah.


Untuk waktu yang lama, dada Rico masih naik turun menahan amarah.


"Bos, kamu sendiri yang tanya pekerjaan padaku, Beberapa tempo lalu waktu bos ke rumahku, aku sudah bilang..ada pekerjaan, tapi aku rasa nggak akan cocok." 


Tomi mencoba memperingatkan Rico, yang hendak marah padanya.


Tomi hanya berpikir, dan memberikan jawaban atas pertanyaan Rico tentang lowongan pekerjaan.


Setelah itu, Tomi juga membuang puntung rokoknya, lalu dia memegang sandaran tangan di kursi taman itu. Lalu berkata " kau sendiri yang bertanya pekerjaan padaku, kau tahu sendiri bos bagaimana kehidupanku yang sebenarnya, kalau mau cari  yang bersertifikat halal, bukan padaku tanyanya." 


Rico berpikir, bagaimana pria ini bisa bangga mengakui dunia gelapnya?.


Namun bukankah yang di katakan Tomi benar adanya, toh selama ini Rico juga tahu, jalan pria ini selalu mengandalkan jalan pintas, cepat dapat uang hanya dengan sekali kerja.


"Aku tidak mau menjual diriku pada wanita kesepian, selain itu aku juga sudah mencari pekerjaan baru."


Tomi sangat tidak puas dengan jawaban Rico, ia melirik lelaki itu dengan tatapan meremehkan, dan berkata " lain kali jangan bertanya pekerjaan apapun padaku bos, aku rasa semua pertanyaanmu nanti akan ku jawab dengan jawaban yang sama.


Rico menyilangkan kedua kakinya.


Memandangnya, dan mencoba mentelaah ucapan Tomi untuk sementara waktu, lalu berkata " Ya. Aku yang salah telah bertanya padamu, jadi lupakan tentang tadi."


Lalu Tomi beranjak, "ok." Lalu pergi meninggalkan Rico tanpa berbalik lagi.


Rico mengambil nafas dalam-dalam, dan mencoba yang terbaik, untuk mengendalikan suasana hatinya. Menatap punggung Tomi yang mulai tidak terlihat, lalu bergumam " Aku tak menyangka, hidupku akan menyedihkan seperti ini, bahkan tawaran pekerjaan yang baru saja aku dengar sangat merendahkan harga diriku,"


kemudian Rico beranjak meninggalkan taman itu, untuk kembali ke rumah, ia akan kembali mencari pekerjaan besok.

__ADS_1


Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, setelah melewati rutinitas tadi siang, kini saatnya Arini bersantai. Arini dan Alana duduk di depan Tv,  di ruang keluarga. Arini juga membawa beberapa cemilan yang akan ia nikmati bersama putrinya itu.


Arini sedang memilih beberapa tontonan yang ia rasa cocok untuk Alana, beberapa kali ia mengganti channel, namun belum juga menemukan tontonan yang pas untuk Alana.


"Ama, ithu.." ucap Alana saat melihat sponsor pasta gigi anak-anak di layar televisi.


"Ah..ini ya, cuma iklan anak manis," ucap Arini dengan menciumi pipi bulat Alana.


Ting..tong..


Bel rumah berbunyi, Arini menghentikan ciuman untuk Alana, lalu ia bergegas ingin membuka pintu, Ia berpikir itu pasti Seto telah pulang kerja.


"Mama buka pintu dulu ya sayang," ucap Arini memberi pengertian kepada anaknya, lalu menitipkan putrinya itu kepada pengasuh, setelah berada di pintu, ia memutar gagang kenop dan membukanya. Arini begitu terkejut dengan tamunya kali ini. 


"Mas." Pekik Arini.


"Arini, dimana putri kita?"


Arini sangat panik, mengapa Rico mendadak mengunjunginya, apalagi saat ini Seto belum pulang, ini akan menjadi masalah besar nantinya.


"Aku hanya ingin bertemu dengan putriku, dimana dia, bisakah kau mempertemukanku dengannya?" Jawab Rico dengan tatapan yang tak di alihkan sedikitpun ia fokus menatap perut Arini yang sedikit buncit.


"Alana baik, dia sedang nonton TV, dan maaf aku tidak bisa mempertemukanmu dengan Alana saat ini, karena suamiku sedang tidak berada di rumah." 


"Kau mencoba menghalangi pertemuan antara ayah dan anak?" Rico memandang ke arah Arini dengan serius, dan Arini merinding di buatnya.


"Aku tahu maksud sebenarnya mas Rico kemari, hanya ingin mengganggu kami. Kami sudah bahagia mas memiliki keluarga baru seperti sekarang, jadi tolong jangan ganggu kami lagi!" Arini langsung to the poin, ia menduga kedatangan Rico saat ini tidak lain hanya untuk mengacaukannya.


"Aku merindukan kalian Rin." Rico mencoba memeluk mantan istrinya itu dengan air mata yang sudah merembes di sudut matanya, jelas saja Arini segera menghindar. 


Melihat Arini yang bergerak mundur, Rico tidak memaksa Arini, lalu ia menatap mantan istrinya itu dengan sejuta kepiluan yang kini sedang ia rasakan.


Arini hendak menutup pintu, namun Rico kembali bersuara hingga mengurungkan niatnya " aku hanya ingin bertemu Alana, tolong jangan kamu halang-halangi."

__ADS_1


"Aku akan memikirkannya, untuk kali ini aku tidak dapat mengabulkan permintaanmu mas." Jawab Arini lalu menutup pintu rumahnya tak lupa juga ia menguncinya.


Rico menatap hampa pintu itu, lalu tak terasa air mata mengalir begitu saja tanpa permisi. Ia bergerak menjauh dari kediaman Arini, rasanya menyedihkan sekali tidak dapat bertemu dengan anak sewaktu-waktu.


Keesokan paginya.


Sinar matahari membias jendela kamar, semalam Seto pulang sangat larut, melihat suaminya yang kelelahan, tidak mungkin Arini bercerita tentang kedatangan Rico pada malam tadi. Ia takut itu akan membuat suaminya semakin pusing.


Seto baru saja terbangun karena sinar silau matahari, dirinya melihat Arini yang sudah tidak berada di tempat tidur.  Seto sudah bisa menebak di mana keberadaan Arini saat ini. Seto segera turun dari tempat tidur dan beranjak masuk kedalam kamar mandi.


Di dapur, Arini dengan di bantu asisten rumah tangga, ia sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Namun di tengah kesibukannya, ia mendengar ketukan pintu dari luar rumahnya, Arini mengentikan aktivitas memasaknya dan berjalan untuk membukakan pintu.


 Lalu Arini menarik gagang pintu itu yang baru saja ia unlock,  dan kedua matanya terkesiap, saat melihat sosok wanita yang tak asing berdiri di depan pintu rumahnya itu.


"Bu Dea?"  Arini berucap lirih.


"Hai Rin, apa kabar kok nggak ngabarin sih kalau kamu yang jadi istrinya Seto." Sapa Dea dengan melambaikan tangannya.


"Ah. Maaf, Ada perlu apa ya Bu Dea datang kemari?"  Arini masih nampak terkejut, ia melupakan bahwa Dea mantan bosnya ini adalah sahabat dari suaminya.


"Aku kemari untuk mengucapkan selamat untuk kalian berdua, dan dimana Mas Seto?"  jawab Dea dengan melihat kedalam rumah. 


"Ah. Iya, terimakasih, silahkan masuk Bu, mas Seto di dalam sedang bersiap-siap" ucap Arini dengan menyunggingkan senyum terpaksanya.


"Memangnya mas Seto nggak cerita, kalau aku sudah pulang sejak kemarin?" tanya Dea dengan tersenyum. Arini seketika menduga Seto yang sibuk seharian kemarin apakah sedang menghabiskan waktu untuk bersama Dea.


"Tidak, mungkin mas Seto lupa.."


"Mah.." teriak Seto lalu mengalihkan perhatian mereka berdua.


Bersambung...


duh kayaknya mulai panas lagi nih.. butuh mas Bimo deh buat ngademin wkkwkwk

__ADS_1


jangan lupa like komen rate dan vote


__ADS_2