Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 112.


__ADS_3

Malam harinya Seto mengajak Arini beserta kedua anaknya untuk menghadiri pesta pernikahan Bimo dan Hana.


Namun sebelum mereka menuju ke acara tersebut, Seto telah menyiapkan ruangan khusus untuk anak-anak agar tidak rewel saat di acara nanti. tak lupa ia juga berjanji kepada Dio untuk bertemu di tempat di jam yang bersamaan.


BINTANG JAYA HOTEL


Acara pernikahan Bimo cukup mewah dan meriah di salah satu ballroom hotel yang cukup ternama di kotanya.


Seperti janji Seto, lelaki itu yang telah membiayai semua kebutuhan pernikahan Bimo sebagai bentuk rasa terimakasihnya karena selama ini kinerja yang begitu luar biasa dan kesetiaan Bimo dalam bekerja.


Acara itu tak luput di hadiri para orang-orang penting, yang tak lain relasi serta teman dari kedua belah pihak. sementara mami Seto tidak dapat hadir karena saat ini beliau sedang berada di luar negeri seminggu yang lalu.


Beberapa saat kemudian, Seto sekeluarga, serta Dio telah sampai di pesta pernikahan sahabat sekaligus asistennya itu. Arini dengan di temani pengasuh mengajak Alana dan Galang supaya jauh dan terhindar dari suara bisingnya musik yang berdentum cukup keras.


Sementara Seto dan Dio, mereka berjalan ke depan untuk menghampiri Bimo dan juga Hana yang terlihat begitu sibuk menyalami para tamu undangan.


"Selamat untukmu Bim." Seto sejenak memeluk Bimo.


"Bos..," Bimo membalas pelukan Seto.


" Ternyata di sini kisahku lah yang paling malang, teganya kalian meninggalkanku sendiri dalam kejombloan." kesal Dio, Seto dan Bimo seketika terkekeh mendengar keluhan sahabatnya itu.


"Cepatlah menikah, tiada guna banyak uang tanpa kehangatan." ledek Bimo, sambil menepuk pundak sahabatnya itu.


" Orang yang telah menikah mengapa jadi banyak bicara sekali." kesal Dio, lalu ia memeluk Bimo seraya berbisik.


"Ingat, memasuki hutan yang belum pernah di cangkul kau harus berusaha lebih keras, aku punya rekomendasi obat kuat untukmu."


"Sialan!" Bimo tertawa, Seto yang paham pembicaraan kedua manusia lucnut di hadapannya hanya bisa menggelengkan kepala. dan Hana yang tak paham hanya tersenyum.


"Hana.. selamat untukmu, Bimo orang yang baik, dan sedikit sembrono jadi jangan segan-segan untuk menendangnya kalau Bimo melakukan kesalahan." ucap Dio seraya menyalami Hana.


"Astaga.." desah Seto.

__ADS_1


"Hana.. selamat untukmu, semoga menjadi keluarga bahagia dunia akhirat." ucap Seto Kemudian.


"Bu Arini nggak ikut bos?" tanya Bimo.


"Ikut, tapi kan..ngajak Galang dan Lana, bisa-bisa jagoan dan putriku rewel nanti bising banget di sini. Makanya aku suruh mereka untuk di ruangan lain, yang agak jauh supaya nggak bising."


"To..boleh nggak aku ngajak Galang? untuk aku gendong saja tapi nggak aku bawa kesini kok, di sudut sana aja?" tanya Dio seraya menunjuk ke arah yang ia inginkan.


"Lah.. untuk apa kau malah mau ngajak Galang? kau tak mau cari wanita di sini?" tanya Bimo.


"Nah.. justru itu, aku pengen ngajak Galang supaya para wanita mengira aku telah memiliki anak." jawab Dio.


"Terus kamu gendong Galang sendirian? Nanti di kira papa duda dong.." celetuk Bimo.


"Dasar Gila.!" umpat Seto seraya tertawa dan memukul bahu sahabatnya itu.


"Sudah waktunya kau menikah, jadi tidak perlu acara pinjam anak." ledek Seto.


Seto terkekeh setelahnya Seto berpamitan terlebih dahulu untuk menemui Arini dan anak-anaknya, dan Dio melanjutkan mengobrol dengan para relasi yang ia kenal.


Di tempat lain.


Rico sudah menduga hal semacam ini akan terjadi, jadi sebelum Dea menamparnya ia terlebih dahulu memegang pergelangan tangan wanita itu dan kemudian menghempaskannya.


Dengan di banjiri air mata dan rasa marah yang menggebu-gebu, Dea berteriak memaki dengan sumpah serapah yang begitu menusuk di telinga bagi siapa yang mendengarnya.


Dea datang dengan membawa hasil USG janinnya, malam ini ia menggunakan baju yang menampakkan sekali perut buncitnya. Ia sangat marah ketika mulut tidak beradab Rico mengatakan anak yang di kandungannya adalah anak hasil dari beberapa lelaki lain. Ia menyangkal dengan tegas kalau itu adalah darah dagingnya.


"Dea..hanya dengan sekali hubungan aku tak yakin dia adalah anakku. Aku tidak bermaksud merendahkanmu tapi tolong jangan memperkeruh suasana. jujur saja siapa ayah kandung dari janinmu, aku akan membantu berbicara padanya?!" 


Dea tertawa sakit " aku tidak menyangka..selain picik kau adalah lelaki pengecut." 


Dea kemudian berkata dengan menyumpahi serta memasukkan kembali ke dalam tas hasil USG yang sempat ia tunjukkan kepada Rico tadi " Semoga kau tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan!" 

__ADS_1


Rico menatap Dea, " Dea.." 


Dea berlalu meninggalkan Rico dan tidak menoleh lagi.


Dea memegang dadanya, dan memasuki mobil. Rico melirik kembali sosok yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya di kegelapan.


Angin yang dingin, dan tubuh kurusnya mengigil kedinginan selama hamil nafsu makan Dea sangat buruk hingga berat badannya turun. lampu mobil yang redup seolah menambah kegelapan dan kesunyian di hidupnya.


Saat ini Dea merasakan sesak di dadanya, cinta butanya kepada Seto membuatnya terjerumus dalam kekhilafan hingga membuat kerunyaman berkepanjangan seperti sekarang.


Kemana ia akan mengadu? Tidak ada bahu untuk ia bersandar, tidak ada ruang untuk ia berkeluh kesah. Tidak ada teman hidup yang menyemangatinya dalam menjalani kehamilan seperti sekarang. Andai waktu dapat di putar sudah pasti ia tak akan melakukan kesalahan seperti sekarang.


Dea melajukan mobilnya tak tahu arah, ia menyusuri keheningan malam dengan lelehan air mata yang tak berhenti mengalir sedari tadi, hatinya begitu kalut ia tak tahu harus berbuat apa. Hidup rasanya juga tiada gunanya lagi. 


Dea mencoba menghibur dirinya sendiri dengan masih terisak " jangan merasa menyesal Dea. Bagaimanapun ini sudah terjadi, jadi sekarang fokus kepada kehamilan saja. Tidak apa-apa semua akan baik-baik saja." 


Dea tertawa " tunggu saja Rico, aku akan membuatmu menyesal karena telah merendahkanku!" 


"Beep, beep , beep, beep..." sebuah mobil menyembunyikan klakson tiba-tiba.


Dea segera menoleh dan melihat mobil hitam yang bergegas keluar dari kanan depan dengan  kecepatan tinggi mendadak menghampiri Dea yang baru terfokus mengemudi.


Dea sangat panik, kemudian ia menjadi kosong dan tak tahu harus berbuat apa. Ia mendengar suara pengereman yang tajam berbunyi, Dea mencoba membelokkan dengan sekuat tenaga untuk menghindari tabrakan dengan mobil di hadapannya.


Namun malang tak dapat di tolak, Dea kurang cepat dan akhirnya tabrakan maut tak bisa di hindari, Dea terlempar dari mobil dan sedetik kemudian pandangangannya menjadi gelap dan hanya gelap lalu ia tak tahu apa selanjutnya.


Sebelum matanya terpejam ia meraba ke arah perut " Anakku?!" gumamnya dengan wajah yang berlumuran darah dan tampak menakutkan.


Kemudian...


Bersambung.....


hmmm...ayo mana dukungannya like komen rate dan vote tembus 50 komentar aku update 5 chapter.

__ADS_1


__ADS_2