
Bantu like rate komen dan vote jika kalian suka 🥳
Saat sudah merasa tenang, Seto mengajak calon istrinya itu untuk makan, di dalam hotel Seto sangat sopan, ia tidak berbuat macam-macam dengan Arini walaupun hal itu dapat di lakukan. Ia tahu betul Arini adalah berlian yang harus ia jaga.
Saat sedang menyuapkan makanan terakhirnya, ponsel Arini berdering telepon dari om Atmojo. wanita itu mengerutkan kening, ada apa? mungkinkah Alana rewel?.
"Halo Om?" sapa Arini.
"Arini?" suara itu terdengar begitu bergetar dan sedih.
"Bunda?" ternyata itu adalah suara istri omnya.
"Ayahmu." wanita paruh baya itu tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Ada apa bunda?" Arini begitu ketakutan saat kata ayah di sebutkan nyonya Atmojo dengan terputus dan menggantung.
"Tadi om mu menemukan ayahmu pingsan di kamar mandi." Jawabnya.
Arini mendadak panik, seluruh tubuhnya lemas dan wajahnya berubah pucat. Hatinya begitu cemas mungkinkah sesak nafas ayahnya kambuh.
"Bagaimana keadaan ayah sekarang bunda?" tanya Arini begitu cemas.
Seto yang mendengar itu, langsung menyentuh tangan Arini bertanya ada apa dengan gerakan mulut, tanpa bersuara. Arini tak menjawab Seto paham, ia genggam tangan calon istrinya itu, yang semakin lama semakin dingin.
"Di mana ayah sekarang?" tanya Arini dengan air mata yang sudah lolos dari tempatnya.
"Rumah sakit dharma."
Arini kemudian mengakhiri telepon, ia dengan segera mengatakan akan menyusul ayahnya itu.
setelah menjelaskan semuanya kepada Seto akhirnya tak menunggu lama mereka segera bergegas.
Setengah jam kemudian.
dengan di temani Seto, akhirnya Arini telah sampai di rumah sakit Dharma, disana ia bertemu om Atmojo di ruang ICU.
Bagaimana Om? Arini ketakutan.
Belum sempat omnya menjawab, dokter yang menangani ayah Arini keluar dari ruangan. Dokter mencari keluarga pak Hadi.
"Bagaimana dokter?" tanya Seto ia yang paling tenang di sini.
__ADS_1
"Mari kita bicarakan di ruangan saya, suster masih mengambil hasil labnya." ajak dokter ramah.
Arini mengikuti dokter bersama Seto, sedangkan om Atmojo memutuskan untuk berjaga di depan ruang IGD.
Di dalam ruangan Dokter.
"Pak Hadi terkena serangan jantung." dokter mengatakan itu dengan menarik nafas, menambah tingkat kecemasan, dalam hati Arini meningkat.
"Stroke ringan, untung segera di bawa ke Rumah sakit." dokter memeriksa hasil tesnya.
"Apa yang harus kami lakukan dokter?" tanya Arini dengan raut muka yang semakin cemas.
"untuk dapat sembuh, di butuhkan dukungan keluarga dan terapi teratur. Pasien jangan banyak pikiran dan selalu berikan motivasi." Dokter berkata, sambil merapikan lembaran berkas hasil laboratorium pak Hadi.
"Terimakasih Dokter," jawab Seto. " Berapa lama ayah di rumah sakit." lanjutnya.
"Kemungkinan bisa 2 hari perawatan, bisa di lanjutkan dengan rawat jalan."
Arini tertunduk sedih, begitu juga dengan Seto dirinya akan melangsungkan pernikahan dengan Arini 2 hari lagi, bagaimana jika pak Hadi belum sadar juga?. akankah pernikahannya di undur.
Seto menelepon Bimo dan mengabari maminya itu bahwa mungkin malam ini ia akan menemani berjaga untuk calon mertuanya.
Bimo di suruh Seto untuk mengawasi pergerakan Rico, jangan sampai lelaki itu berulah lagi terutama pada calon istrinya.
Kemudian Arini menceritakan apa yang di sampaikan dokter tadi padanya. Kemudian
Atmojo pamit pulang, lalu malamnya ia akan kembali mengantarkan makanan untuk putrinya itu.
namun Seto menyuruh om Atmojo untuk beristirahat saja, soal makan biar nanti Seto yang mengurusnya. Om Atmojo mengangguk mengerti akan apa yang di sampaikan Seto kemudian ia berpamitan pulang.
Bulir air mata Arini mengalir lagi, ia sangat cemas akan kondisi ayahnya. takut-takut kalau ayahnya belum sehat sampai hari pernikahannya tentunya itu akan menjadi kesedihan bagi Arini.
"Ya Tuhan.. sembuhkan ayah hamba." pinta Arini dalam batin.
Seto menenangkan calon istrinya itu, "sudah..semua akan baik-baik saja." ucap Seto menguatkan.
Satu jam kemudian Arini sudah tenang, Seto berpamitan untuk mencari makan dan Arini mengiyakan.
Tak butuh waktu lama Seto kembali dengan membawakan makanan dan buah, "makanlah dulu sayang, kau juga harus mengisi perutmu agar kuat menjaga ayah." Arini mengangguk mematuhi nasehat Seto.
Arini kemudian memakan apa yang Seto bawa tadi "makasih Mas." ucapnya dengan melihat lembut ke arah Seto.
__ADS_1
Arini begitu terenyuh, Seto memperlakukannya dengan sangat manis dengan penuh kasih sayang. Sangat jauh berbeda dengan Rico mantan suaminya.
"Makasih untuk apa sayang? cuma makan malam ini." Seto tersenyum.
"Bukan cuma itu aku.." Arini belum sempat melanjutkan Seto sudah memotong ucapannya.
"Aku apa sayang?"
"Kalau nggak ada mas Seto mungkin aku.." Arini menunduk.
"Aku mencintaimu." potong Seto lagi lalu ia menyuapi Arini dengan penuh kasih sayang.
Seto menemani Arini di rumah sakit, ia juga menelfon Bimo agar selalu memberikan kabar terkini mengenai Rico, sungguh amarah di hati Seto sulit padam rasanya jika melihat bekas gambaran tangan Rico yang menyentuh wanitanya.
Keesokan paginya, Arini di bangunkan oleh Seto, ia tidur menjelang subuh.
"Em..sayang ada apa?" tanya Arini yang masih mengantuk.
"Ayah sudah bangun." seketika mendengar itu rasa kantuk Arini menghilang.
Seto tersenyum walaupun Seto tidak tidur semalaman, namun wajah Seto masih kelihatan fresh berbeda dengan dirinya yang kusut bagaikan baju yang tidak di setrika.
Arini segera masuk ke ruangan ayahnya. Ia memeluk sang ayah dengan haru "ayah..aku takut." ucap Arini seraya memeluk ayahnya dengan terisak.
Seto berada tak jauh dari calon istrinya itu. Ayah Arini masih lemas jadi ia hanya bisa tersenyum melihat kehadiran calon menantunya itu. Saat ayah Arini tersenyum padanya Seto segera merah tangan calon mertuanya itu dan menggosok pelan.
"Lekas sehat yah..kami sangat cemas kalau ayah begini." ucap Seto.
Pak Hadi mengalami stroke ringan akibatnya kakinya pincang saat di buat jalan dan lidahnya seakan mati rasa sebagian sebelah kanannya. untuk sembuh pak Hadi harus terapi teratur di rumah sakit.
Dalam hati pak Hadi ia harus bangkit, putrinya akan menikah dua hari lagi, ia sangat kesulitan bicara membuat sudut matanya berair karena tak mampu menyampaikan apa yang ia ingin katakan.
"Kenapa ayah menangis?" tanya Arini seraya mengusap air mata ayahnya.
Pak Hadi hanya tersenyum, ia menepuk punggung tangan putrinya dengan lembut.
"I-da-ha-pa." ucap pak Hadi dengan terbata (tidak papa).
"Ha-kan." Arini mencoba memahami beberapa saat kemudian ia baru menyadari ayahnya meminta makan. Arini menepuk jidatnya "astaga aku lupa menawari ayah makan." ucapnya dengan tersenyum kikuk Seto yang melihat itu juga ikut tersenyum.
Saat di suapi arini pak Hadi diam termenung seperti memikirkan sesuatu. "Ada apa ayah?" tanya Arini yang memperhatikan raut wajah ayahnya.
__ADS_1
Pak Hadi hanya menggeleng. namun pandangannya tak lepas dari Seto.
Bersambung…..