Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 111.


__ADS_3

"Mengapa Dea jadi menyedihkan seperti itu ya mas." 


"Sangat, aku serasa tak mengenali Dea yang sekarang. cinta memang dapat merubah seseorang."


"Dia hanya memintaku untuk memberi tahu keberadaan Dio sekarang. Tapi untuk apa? Setelah cinta tulus yang di berikan Dio di sia-siakan, aku rasa kesendirian Dio itu jauh lebih baik daripada harus terbebani lagi jika Dea masuk lagi ke hidupnya."


" Kita doakan saja mas, semoga Dea mendapatkan kebahagiaan."


" Amin, sudah ayo tidur. nanti Galang pasti akan membangunkanmu." titah Seto dan langsung di turuti oleh Arini.


Setelah Arini terlelap, sebenarnya Seto sangat rindu bermain-main dengan dua gundukan kenyal serta gua yang selalu bisa menghangatkan kepunyaannya itu, namun ia sadar luka jahitan di perut istrinya masih basah. Ia takut jika mencoba bermain-main itu akan merobek jahitan istrinya.


Seto menutupi tubuh istrinya dengan selimut, malam ini ia akan begadang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. untuk itu dengan pelan ia turun dari ranjang lalu melangkah ke sofa yang berada di sudut kamar. Mendudukkan dirinya disana seraya memangku laptopnya.


"Tapi mengapa Dea tadi terlihat begitu cemas?"  tiba-tiba ia terpikirkan oleh Dea.


"Ah. Sudahlah." Seto menolak untuk berpikir secara keras.


Di sisi lain pasangan bucin sedang menantikan hari pertunangan yang akan di laksanakan tepatnya hari Senin nanti.


"Benarkah?"


Hana merasa malu " Aku memang tidak suka menonton, tapi Angga memaksaku untuk menonton bersamanya." 


"Benarkah?" Bimo lagi-lagi di buat tersenyum, mereka berdua sedang membahas tentang Hana yang pernah di ajak nonton film dewasa oleh Angga.


"Y-ya…" jawab Hana ragu.

__ADS_1


"Tapi Angga berkata kepadaku, dia selalu ketiduran dan kau menontonnya sampai film berakhir." 


Semakin Bimo berteman baik dengan mantan calonnya itu, semakin Hana merasa malu, karena sudah pasti semuanya akan di ceritakan. Hana sangat kesal, karena ia tidak bisa mengelak, Hana hanya bisa terdiam ketika Bimo terus menggodanya di telepon.


Setelah di pikir-pikir hanya Bimo yang bisa membuatnya tidak bisa berbohong dan satu-satunya lelaki yang dapat mengendalikan dirinya, Hana tak bisa menyembunyikan apapun dari lelaki ini.


"Kau tidurlah, ini hampir tengah malam." untungnya Bimo berhenti menggodanya tentang film dewasa, "kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya sayang.." Bisik Bimo di telepon.


"Yach.." Hana mengerutkan bibirnya, ia menghela nafas panjang. Hana merasa masih ingin berbicara panjang lebar dengan kekasihnya itu. Karena Hana masih merindukannya.


"Ada apa?" Bimo merasakan perubahan suasana hati Hana.


Hana masih ingin mengobrol dengannya, tetapi ini sudah larut malam. Esoknya kekasihnya itu masih harus bekerja jika ia memaksakan untuk mengajak Bimo begadang pastinya akan membuat Bimo kesiangan nanti.


"Nggak papa, ya sudah aku matikan teleponnya." 


Hana tersipu malu, "aku akan menutup teleponnya sekarang." Kemudian tanpa menunggu jawaban Bimo, Hana mengakhiri panggilannya. untuk waktu yang lama jantungnya masih berdetak kencang.


6 hari kemudian.


Malam ini Bimo dan Hana melaksanakan pertunangan, dan mereka akan segera melaksanakan pernikahan mereka enam bulan lagi sesuai kesepakatan antar keluarga.


Di sinilah Seto turut bahagia, sebab ia juga mendoakan untuk kebahagiaan teman sekaligus asistennya yang setia itu. di tambah wanita yang akan menjadi teman hidup Bimo adalah wanita baik-baik dan sudah pasti wanita yang di inginkan oleh Bimo.


Sedangkan tepat seminggu yang lalu, Clara berhasil melakukan operasi.


Operasi itu berjalan dan berakhir dengan lancar, bahkan setelah melakukan operasi keadaan wanita itu jauh lebih membaik dari sebelumnya. Rico juga selalu menemaninya, walaupun Clara tak memiliki harapan hidup panjang setidaknya harapannya di sisa umurnya saat ini ia ingin di temani oleh lelaki yang pernah mengisi hatinya itu. meskipun Clara hanya mampu terbaring di ranjang pasien dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.

__ADS_1


Namun Rico tak bisa berlama-lama menunggu Clara, kebijakan rumah sakit yang hanya memperbolehkan menjenguk pasien di jam-jam tertentu dan itupun hanya di beri waktu selama setengah jam saja membuat Rico hanya bisa menemaninya di waktu yang telah di tentukan rumah sakit.


Waktu terus bergulir, sudah hampir dua bulan Clara di rumah sakit, seperti hari biasanya Rico akan pulang dulu, setelah jam besuk berakhir. Namun baru saja ia sampai di kontrakan, rumah sakit mengabari Rico, bahwa kondisi Clara tiba-tiba menurun drastis. Hal yang begitu mengejutkan bagi Rico, dengan memesan ojek online Rico pun kembali untuk menuju rumah sakit, namun belum sempat ia sampai dan lebih tepatnya masih di setengah perjalanan, pihak rumah sakit mengabarinya kembali bahwa Clara telah tiada. Rico pun seakan tak percaya dan mendadak lemas saat mendengarnya.


Namun mengingat penyakit yang di derita Clara, sudah jauh-jauh hari dokter mengatakan kemungkinan terburuknya, untuk yang terakhir kalinya Rico akan mengantarkan ke peristirahatan terakhir wanita yang pernah di cintainya itu.


Dan hari ini tepat lima bulan kepergian Clara.


Bersamaan dengan itu ini adalah hari dimana Bimo dan Hana akan melangsungkan pernikahan, di sisi lain kandungan Dea juga telah membesar, bahkan ia tak mampu lagi menyembunyikan perutnya yang sudah membuncit itu di balik baju.


Namun di siang itu, Rico masih merasa berduka atas kepergian Clara, apalagi wanita itu telah menulis surat sebelum kepergiannya, ia meminta kepada Rico untuk memintakan maaf yang sebesar-besarnya kepada Arini, dan kepada siapa saja yang telah ia sakiti dulu. 


Saat ini Rico berada di pemakaman Clara, gundukan tanah yang terlihat basah itu kini telah di penuhi oleh bunga segar yang baru saja Rico taburkan. 


"Sayang..maafkan aku," Rico berbicara dengan batu nisan yang bertuliskan nama Clara 


Sementara itu di rumah, Dea begitu kalut di sisi lain ia mendapatkan undangan pernikahan Bimo, namun ia sangat sadar perutnya yang membesar tidak bisa ia sembunyikan lagi, dia tidak sanggup membayangkan tatapan para tamu nanti yang sudah pasti akan bertanya dan bahkan menggunjingkan kehamilannya yang datang ke pesta itu tanpa di dampingi oleh suami. terlebih di pesta itu sudah pasti bada Dio.


Apalagi selama ini tidak ada satupun orang yang tahu perihal kehamilannya ini, Dea mematut dirinya di depan cermin, ia sedari tadi mencoba memakai baju yang dapat menyembunyikan perutnya namun setelah di coba beberapa kali rasanya mustahil.


Mana bisa lagi perutnya ini di sembunyikan, Dea menangis, ia tidak tahan harus hidup menanggung beban seperti ini, terlebih Rico sangatlah tidak begitu peduli padanya, lelaki itu selalu menghindar saat di mintai pendapat tentang anak yang di kandungnya saat ini.


Padahal Dea hanya meminta saran, bukan meminta untuk di nikahi, dirinya juga tidak sudi harus berumah tangga dengan lelaki sialan seperti Rico.


Bersambung.....


seperti biasa cuma minta bantuan like dan vote biar aku makin giat update 🌹.

__ADS_1


__ADS_2