Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 62.


__ADS_3

Sekali lagi Seto mencium kening dan bibir Arini dengan lembut, ia puas dengan permainan panasnya, tubuh Arini sangat membuatnya candu, kemudian Seto mengambil piyama dan memakainya, setelah itu ia berjalan keluar dari kamar.


"Aku lupa mengirimkan pesan pada Bimo, masalah ini nggak bisa aku biarin berlarut-larut." gumam Seto dan langsung mengetikkan pesan kepada asistennya itu.


Ya Seto sengaja keluar dari kamar hanya untuk mengirimkan pesan, untung saja istrinya itu tertidur, jadi ia bisa keluar tanpa di tanya, Seto tidak mau sampai Arini tahu kalau sebenarnya ia sangat gelisah akibat ceritanya tadi.


Di Hotel.


"Apa kamu nggak bisa bantu aku Bim?" tanya Dio serius, dengan cepat Bimo menggeleng, tak tahu bagaimana caranya sedangkan sampai sekarang saja dirinya masih jomblo, namun hidupnya selalu di mintai pendapat tentang pasangan, sungguh menyebalkan, pacar saja tak punya, malam Minggu pun ia habiskan untuk bermain game di ponselnya. malah dirinya di mintai pendapat tentang percintaan.


"Susul dia." Mengangkat jari telunjuknya ke arah Dio.


"Heh…" Dio tersenyum mengejek, karena hal itu sudah sering ingin ia lakukan namun Dea selalu menolaknya.


"Nggak semudah itu," Beranjak menuju ranjang. 


Ya malam ini Dio menghabiskan malamnya lagi untuk menginap di hotel satu kamar dengan Bimo, semenjak Seto menikah, Bimo sering di temani oleh Dio, tentu saja lelaki itu sekalian curhat tentang asmaranya yang hampir kandas.


Emang gue pikirin, lagian udah tau nggak di cintai kok di pikir, kayak nggak ada cewek lain aja, mendingan jomblo nggak ribet, mikirin tugas dari bos Seto aja udah mumet di tambah suruh mikirin bucin yang gagal move on kayak gini, huh menyebalkan!.


Mungkin dengan mencuci muka dapat mengembalikan semangatnya, yang ia rasa sudah mulai turun itu karena melihat setumpuk berkas yang sudah menumpuk menunggu di sentuh dengan jari gemuknya itu.


"Apa jadwal Seto besok?" tanya Dio tiba-tiba, Bimo membuka ponselnya karena sedikit lupa setelah mendengar curhatan dari Dio.


"Santai sih, semua udah berjalan sesuai rencana, tinggal beberapa dokumen yang perlu di tanda tangani oleh bos Se saja." 

__ADS_1


Dio mangut-mangut mendengar penjelasan Bimo, ia menilai Bimo adalah sosok asisten yang sangat bertanggung jawab, sangat kompeten dan tidak salah jika Seto selalu mengandalkan dirinya.


Setelah pulang dari acara tadi, jika Seto dan Arini menghabiskan malamnya dengan berolahraga ranjang, beda halnya dengan pasangan Clara dan Rico, hubungan mereka makin hari makin tidak sehat, Rico semakin berjarak pada Clara, pikiran Clara benar-benar buntu, matanya mulai terasa panas, rasanya dia ingin menangis saat ini juga, sesakit inikah rasanya di abaikan, bahkan seolah Clara di buang setelah berhasil di dapatkan.


"Mas, semakin hari kamu sadar nggak, kita semakin berjarak.., waktu kamu mohon buat aku jadi istri kedua secara siri aku mau mas, karena aku yakin kamu sayang dan cinta sama aku, tapi nyatanya sekarang kamu abaikan aku mas.., hiks..kenapa sekarang kita berjarak mas?" tangis Clara pecah saat lagi-lagi Rico menepis tangannya saat ia berusaha mengajaknya berbicara.


Bagaimana bisa Rico seenaknya begini kepadanya, batin Clara, padahal dirinya sekarang adalah satu-satunya istri Rico, namun mengapa rasa sayang suaminya itu, terasa sirna semakin hari, semakin hari semakin nyata, Rico tak peduli padanya.


Rico dengan wajah datar menatap wajah Clara, ia menatap manik hitam wanita yang saat ini menangis tersedu-sedu di hadapannya. Tetapi Rico hanya membisu, padahal dalam hatinya ia juga tidak mengerti mengapa sekarang ia tak berselera dengan istrinya ini.


Seharusnya, saat ini kasih sayangnya, harusnya hanya tercurah untuk Clara seorang bukan?.


"Jangan-jangan kamu ngarepin Arini lagi mas? Kamu mau balikan lagi sama dia?" tebak Clara dengan nada sebal, nafasnya memburu tidak teratur karena emosi.


"Tutup mulutmu!" bentak Rico.


"Aku cinta sama kamu mas, jangan begini.." suara Clara melemah, tangis Clara mulai menjadi, namun lelaki itu hanya terdiam, seolah mendadak bisu.


lalu Rico menangkup wajah Clara, membawanya dalam pelukan, wanita itu terisak di dadanya. Rico menghapus air mata istrinya itu menggunakan ibu jarinya.


Namun tiba-tiba saja Clara mendorong tubuhnya cukup kuat, lalu dengan kasar Clara menghapus sendiri air matanya.


Kemudian Clara berjalan naik ke lantai atas meninggalnya, berulang kali Rico memanggil namanya namun tak di hiraukan, Rico hanya memanggilnya, tanpa ada niat mengejarnya sama sekali.


Rico hanya menatap punggung Clara yang semakin lenyap dari pandangan, ia juga bimbang, harus menyikapi bagaimana, jujur saja sekarang dirinya tidak berhasrat sama sekali dengan Clara, entah mengapa.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Clara menghempaskan tubuhnya ia masih menangis, di genggamannya seprei berwarna putih itu dengan erat, ia mengingat kata manis yang selalu di ucapkan Rico padanya.


"Kamu cantik Cla," katanya memuja, dengan suara seraknya. ya, kata itu yang selalu terucap ketika hasrat bergejolak di netra coklatnya. di awal kemesraan itu tercipta.


"Nggak usah takut, Aku tahu ini pertama kalinya buat kamu. Aku bakalan pelan-pelan sayang." bisiknya dulu yang membuat tengkuknya meremang, bayangan ini selalu menghantuinya, awal ia menyerahkan mahkota miliknya untuk Rico.


Dan saat memulai ritual olahraga ranjang untuk pertama kali, Rico begitu sayang padanya, hingga pertemuan keduanya Rico masih memujanya, dan kini berkahir dengan kehampaan, suaminya telah berubah. Padahal madunya sudah tidak ada, seharusnya ia adalah wanita satu-satunya yang Lelaki itu prioritaskan. Tapi kenyataannya tidak.


Air mata semakin menetes, saat Clara mengingat momen indah itu. 


Clara mengusap air matanya, kemudian ia berjalan mendekati meja rias, menatap dirinya dalam pantulan cermin. tangannya tergerak meraih lipstike merah di atas meja, kemudian mengoleskannya ke bibir tebalnya.


Ia melepaskan semua bajunya, menggantinya dengan lingerie, berwarna merah maroon yang dulu pernah di belikan Rico untuknya. 


Clara mengigit bibirnya, ia mengumpulkan niatnya, Clara ingin melancarkan aksinya untuk menggoda suaminya itu. Clara sangat merindukan hubungan biologis dengan lelaki itu. sudah lama pula dirinya tidak di jamah olehnya.


Mungkin hal itu terdengar konyol dan ganjil, tapi mau bagaimana lagi? tidak bisa ia pungkiri tubuh Clara benar-benar menginginkan sentuhan itu. Tapi bagaimana dirinya bisa hamil? walaupun di Sentuh Rico berulang kali pun tidak akan merubah kenyataan. Clara begitu frustasi, ia mengacak rambutnya itu dengan kesal. 


Kemudian ia menyisir rambutnya kembali, persetan dengan semua itu, lalu ia mematut dirinya di cermin lagi, bagaimana jika tidak usah mengenakan lingerie saja?.


"Mungkin ini akan membuat mas Rico bergelora." ucapnya dengan melepaskan lingerie dari tubuhnya.


Bersambung….


wah..mbak Clara sudah buntu ya? menurut kalian bagaimana nih?

__ADS_1


NB: Halo pembaca setia..jika kalian suka dengan karyaku, bantu aku ya buat share ke sosial media yang kalian miliki agar semakin banyak yang tahu tentang kisah mas Seto, jika kalian berkenan tentunya.


dan biar aku semakin semangat nih boleh dong minta like komen rate dan vote kan gratis 🥰🥳😘🌹


__ADS_2