
Usai mengangkat telepon, Dio pun kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya, guratan kekesalan terlihat sangat jelas di wajahnya. Tentu saja hal ini tidak luput dari perhatian Tiara, gadis manis itupun langsung mengerti jika kekasihnya sedang merasa kesal, " ada masalah apa kak?" tanya Tiara berbasa-basi.
"Biasa hal-hal sepele yang sering terjadi di kota kecil." jawabnya.
"Hai." Sapa seseorang yang kini telah berada di samping mereka duduk.
Sontak karena sapaan itu keduanya pun langsung menoleh ke sumber suara, "h-hai.." sapa balik Tiara yang sedikit kikuk dengan si pemilik suara tadi.
"Bisa tolong tinggalkan kami sebentar?" Tanya seseorang itu kepada Tiara, karena Tiara adalah tipikal orang yang tahu diri tentu saja permintaan itu langsung di sanggupinya, walaupun dalam hatinya ada rasa kesal tersendiri.
"Tiara tetap di tempatmu!" suara dingin Dio pun menghentikan langkah Tiara yang hendak meninggalkan tempat duduknya.
"Dio..aku butuh bicara berdua denganmu." Ucap seorang wanita yang tak lain ialah Dea.
"Dan dengan tidak sopannya kau mengusir kekasihku?!" Sela bara.
"Oh.. ayolah Dio, pembicaraan kita terlalu dewasa untuk di dengar oleh anak kecil sepertinya, bahkan aku tidak bisa menjamin dia akan memahaminya!" Jawab Dea dan membalas singgungan Dio.
"Kau tahu artinya privasi..kau tau caranya berbicara yang sopan dan baik dengan orang lain?" tanya Dio lembut.
"Apa kau sedang mengajariku?" tanya Dea yang semakin membuat Dio kesal.
"Kita menempuh pendidikan paling minim itu sembilan tahun lamanya, ku rasa itu sudah cukup bagimu untuk mengajari bagaimana tata cara bersopan santun dan menghargai orang lain!" ucap Dio lembut namun menusuk.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu saja, mengapa jadi panjang lebar begini!" Dea menjadi kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah Tiara dengan wajah jutek.
"Kak Dio.." Panggi Tiara menyela perdebatan panas diantara kedua mantan kekasih itu.
"Kau tahu Dea.. wanita yang kau sebut anak kecil ini adalah calon istriku!" ucap Dio dengan nafasnya yang naik turun.
Dea sangat terkejut mendengar pernyataan Dio yang bagaikan jutaan anak panah yang dengan tepat menembus dadanya, mengambil seluruh oksigen dalam tubuhnya sehingga yang tersisa adalah rasa sesak yang menyiksa.
"Hahaha lucu sekali," ucap Dea sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang membuatmu tertawa?" Tanya Dio dengan tatapan tidak sukanya.
__ADS_1
"Pertama, aku tahu bagaimana seleramu!, yang kedua dia ini masih bocah sayang! Ah..leluconmu sangat membuatku geli," ucap Dea sambil tertawa.
"Kamu mau bukti?"
Ucapan dari Dio membuat Dea menghentikan tawanya.
Dio pun beranjak berdiri, meraih tangan Tiara dan hal itu membuat Tiara mau tak mau ikut berdiri juga, lalu Dio membawa Tiara kedalam pelukannya dan kemudian mencium bibir Tiara di hadapan wanita yang pernah singgah di dalam hatinya.
Dio terus mencium bibir Tiara dan tidak memberikan kesempatan pada kekasihnya itu untuk menghirup udara, mengabaikan tolakan darinya, Dio semakin mencium bibir Tiara dengan ganas sehingga yang terlihat keduanya sedang mencipta ciuman yang erotis.
Tiara merasa malu dan takut, bahkan ciuman kali ini terasa begitu panas baginya, tapi mulutnya dan tubuhnya mengkhianati hantinya, bahkan seolah tubuh Tiara memberikan sinyal lebih untuk Dio.
Perlahan Dio melepaskan ciumannya, lalu menatap mata Tiara yang kini terbuka secara perlahan.
"Terlalu suka, apa memang sudah punya bakat hmmm??" bisik Dio yang membuat Tiara begitu malu, lalu Dio pun kembali mencium bibir Tiara di hadapan Dea yang hatinya sudah hancur berkeping-keping.
Dea menitikkan air mata, setelah apa yang di tunjukkan Dio di hadapannya.
"Jangan! cukup! Kita di depan umum kak," ucap Tiara dan mendorong dada Dio yang semakin erat mendekapnya, hingga dua gundukan kenyal miliknya yang tidak terlalu besar itu dapat merasakan detak jantung Dio yang semakin memburu saat hendak memperdalam ciumannya.
Di tempat lain pada hari berikutnya..
"Gimana bunda..lama Arini tidak berkunjung, apa butiknya masih berjalan dengan lancar?" tanya Arini kepada nyonya Atmojo yang telah ia anggap sebagai bundanya.
"Alhamdullilah sayang, masih berjalan lancar, bagaimana apa kamu mau mengurus butik bunda lagi?"
"Kalau untuk itu, belum bisa bunda.. Galang masih repot banget," jawab Arini dengan tersenyum. dan wanita paruh baya di hadapannya juga ikut tersenyum mengangguk.
Suara ponsel Arini berbunyi nyaring, mengangetkan Arini yang tengah berbincang dengan bundanya itu, ia pun segera melihat ke layar ada nama mas suami yang terpampang di sana.
"Halo mas.." sapa Arini setelah ia menggeser ikon berwarna hijau tadi.
"Masih di rumah bunda mah..?"
"Iya nih mas..ada apa?" tanya Arini ia mendadak khawatir kalau-kalau putranya itu menangis.
__ADS_1
"Nanti pulangnya biar aku jemput saja, sekalian ada yang mau di beli," ucap Seto.
"Oh .baiklah mas, aku tutup ya teleponnya,"
Setelah mendapat persetujuan dari Seto, Arini pun meng-klik tombol merah dan kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Kenapa sayang?" tanya bunda.
"Tadi mas Seto bilang, nanti pulangnya Arini mau di jemput, sekalian ada barang yang mau di beli bunda.."
Wanita paruh baya itupun mengangguk, kemudian tak terasa hari sudah semakin sore, Arini rasanya belum puas bercengkrama dengan bundanya itu, namun mobil suaminya sudah terdengar memasuki pelataran rumah keluarga Atmojo, dengan di akhiri pelukan Arini pun berpamitan dan meninggalkan rumah itu, sebelumnya Seto juga berpamitan, dan mobil pun melenggang pergi meninggalkan pelataran rumah bergaya Eropa itu.
"Mas.. memangnya mau beli apa?" tanya Arini dengan memakai sabuk pengaman.
"Beli obat kuat" jawab Seto yang sontak membuat Arini terbelalak.
"Mulai deh.." ucap Arini dengan memukul pelan tangan bahu suaminya.
"Eh..sayang..aku lagi nyetir, jangan main pukul-pukul," ucap Seto mengingatkan.
"Makanya..kalau di tanya mas jawabnya yang bener dong.."
"Mau beli perhiasan sayang.."
"Buat siapa mas? Mami??"
"Nanti juga kamu bakalan tahu!"
Setelah itu Seto pun semakin mempercepat laju mobilnya menuju toko perhiasan, karena hari semakin sore, takutnya Toko itu sudah tutup, karena sesuai perjanjian Seto akan tiba kurang lebih dua puluh menit lagi.
Di sisi lain, Rico semakin frustasi, bukan hanya dia pengangguran lagi sekarang, melainkan kondisi tubuhnya juga mulai tidak sehat, terakhir kali ia mengunjungi dokter, ia di diagnosa menderita penyakit ginjal, namun masih bisa di selamatkan jika Rico memperbaiki pola hidup dan rutin cek up, namun malang tidak dapat di tolak jangankan untuk cek up ke dokter untuk makan sehari-hari dan membayar kontrakan rasanya ia kembang kempis, Rico hanya bisa mendesah, meratap, dan berharap keajaiban dari author segera tiba.
Bersambung....
Halo halo hai.... author seneng banget akhirnya akun author sudah bisa pulih dan cerita ini sudah bisa author lanjutin.. untuk itu jangan lupa dukungan untukku dengan cara like komen rate dan vote sebanyak-banyaknya agar mas Seto semakin naik rating, author seneng sekali berkat dukungan kalian Istrimu Adalah Pilihanku naik level dan popularitas menjadi 1M lebih makasih para readers tercinta sehat selalu kalian ❤️🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Jangan lupa komen ya....