
Hari semakin sore, Rico memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Tetapi sebelum itu ia ingin mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa mie instan dari sisa uang seratus ribu yang saat ini menghuni dompetnya.
Ia berjalan masuk dengan bibir yang pucat, menahan lapar membuat tubuhnya semakin gemetaran. Lalu tidak berlama-lama, Rico mengambil mie dan beralih mengambil roti.
Ia sangat terkejut, raut wajahnya menjadi bingung saat ia melihat sang buah hati serta mantan istri yang sedang berjalan memasuki supermarket juga.
"Bukankah itu Alana, dan Arini?" gumam Rico, matanya membulat sempurna dan bersembunyi di balik rak.
Begitupun Arini, sebenarnya ia telah mengetahui keberadaan Rico, lelaki masa lalunya itu, lalu ia acuh lebih baik pura-pura tidak tahu daripada akan runyam seperti dulu ketika tangannya di pegang oleh Rico. Saat tak sengaja juga bertemu di supermarket seperti ini.
Kemudian tidak lama, datang Seorang lelaki yang mengejar langkah kaki Arini yang tak lain adalah Seto. dengan penuh kasih sayang Seto menggandeng juga tangan mungil putrinya yang saat ini berjalan untuk memilih sesuatu yang di jual di supermarket ini. Pemandangan itu tentunya tak luput dari perhatian Rico.
Seto yang masih berjalan dengan riang menggandeng Alana tidak mengetahui, saat ini ayah kandung dari putrinya itu juga berada di supermarket ini.
Rico terlihat iri, seharusnya dia yang menggandeng putrinya sekarang, Ia ingin menghampiri mereka namun nyalinya ciut kembali saat ia sadar kondisinya sekarang.
Lalu tiba-tiba Seto merangkul pinggang Arini, membuat wanita itu terkejut. Ia melirik ke arah Seto, lalu Seto membalasnya dengan sebuah senyuman. Senyuman itu seolah mengisyaratkan kau harus hati-hati, jadi berjalanlah dengan fokus. Kemudian Arini mulai mengerti ia mengembangkan senyumnya dan fokus untuk berjalan menuju rak susu.
Keluarga kecil itu nampak bahagia, Rico yang melihat itu merasa hampa, andai saja dia tidak serakah, mungkin saat ini posisi Seto adalah dirinya.
"Arini. Apa kamu sudah benar-benar melupakanku?" gumam Rico dalam hati.
Rico merasa terkucilkan, jiwanya kesepian. Lalu ia dengan cepat meninggalkan tempat itu dengan menyelesaikan pembayarannya. Kini dalam dompetnya sisa uang lima puluh ribu saja. Ia akan menggunakan uang itu untuk membeli minum.
Arini memperhatikan Rico yang sudah keluar dari supermarket, ia sangat lega setidaknya Rico tidak membuat keributan dan begitu pula Seto tidak melihat keberadaan Rico.
Malam harinya.
"Arini..? bagaimana kau sampai disini?" tanya Rico dengan mata membulat.
__ADS_1
"Aku kebetulan sedang ijin keluar tadi, aku tau kondisi keuanganmu sedang memburuk, untuk itu aku membawakan sesuatu"
"Bawakan apa?" Rico duduk tegak, ia memperhatikan Arini dengan jelas, malam ini ia berpakaian formal, mengenakan pakaian hitam rambutnya di ikat tinggi, membuat mata Rico tak bisa berpaling, salah satu keseksian yang di miliki Arini.
"Aku tahu kamu belum makan malam ini, badanmu juga nampak lebih kurus, apakah ***** makanmu memburuk?" Arini meletakkan bungkusan yang ia bawa dan meletakkannya di meja.
Rico tersenyum, ternyata Arini masih peduli padanya.
Namun rupanya itu hanya mimpi. Rico sangat kesal saat ia terbangunkan oleh suara petir dari langit. "Sialan rupanya aku memikirkan Arini sampai terbawa mimpi." decak kesal Rico dan membuang guling ke sembarang arah.
Di kediaman Seto.
Suasana di luar rumah nampaknya sedang hujan, sebab rembesan airnya terlihat membasahi kaca kamar Seto yang tertutup tirai itu.
Hawa dingin seperti ini membuat Arini ingin makan mie instan. Padahal hari sudah malam, nampaknya ia harus melanggar aturan suaminya yang melarangnya mengkonsumsi mie instan saat hamil buah cintanya ini.
"Mas.." Arini memanggil Seto di ujung pintu yang sedikit terbuka, panggilan Arini begitu terdengar seksi di telinga Seto.
Arini mengerucutkan bibir, setiap di panggil serius jawaban Seto selalu mengarah ke situ menyebalkan.
"Nanti aja ehem-ehem nya, aku pengen banget makan mie instan nih mas." ucapan Arini membuat Seto mengerutkan kening.
"Aku sudah keras melarangmu makan mie instan."
"Ini yang pengen anak kamu, mie instan pake telur mata sapi, lalu tidak lupa sayuran sawi dan sedikit saos pedas. tapi yang buatin mas Seto." Arini sudah membayangkan mie buatan suaminya itu, rasanya pasti enak dan bikin ia ngiler saat membayangkannya.
Mungkin benar adanya, kali ini Arini yang sedang merasakan nyidam. usia kandungan Arini hampir memasuki empat bulan. beberapa Minggu yang lalu keluarga besar telah berkunjung untuk memberikan selamat atas kehamilan istrinya itu.
"Hmm..kasian anakku masih dalam perut sudah di fitnah." celetuk Seto.
__ADS_1
"Seriusan ini yang pengen anak kamu." ucap Arini dengan nada memelas.
"Mas.. cepetan. Nanti anakmu ngiler loh kalau nggak di turutin."
Akhirnya Seto beranjak, beberapa saat kemudian Seto tengah sibuk menyiapkan apa yang di minta Arini barusan. Seumur-umur baru kali ini ia masak sendiri di dapur, tetapi tidak apa, demi baby Se yang akan menjadi penerusnya kelak ia rela melakukan apa saja. Apalagi cuma mie instan yang terbilang masih sangat mudah ia sajikan.
"Mas, bisa nggak masak..kok lama banget, kalau nggak bisa sini biar aku aja." suara Arini mengangetkan dirinya, lalu secepat kilat ia membalikkan badan untuk melihat istrinya.
" Bisa kok sayang, udah kamu duduk aja ini akan menjadi mie spektakuler yang tiada duanya di Indonesia raya ini."
Arini terkekeh, "mie spektakuler itu yang bagaimana, namanya mie instan mau di apakan juga rasanya mie instan mas."
Bau mie instan sudah mengusik Indra penciuman Arini, lalu mie yang di idamkan Arini kini sudah tersaji di atas meja. Lalu ia melihat tampilan mie yang baru saja di masak suaminya itu, ia tersenyum bisa juga rupanya mas Seto masak, gumamnya dalam hati.
"Cobalah, rasanya pasti beda." ucap Seto dengan was-was menunggu hasil review Istrinya itu.
"Gimana enak kan?" tanya Seto lagi.
Arini memasukkan mie itu kedalam mulut, setelah beberapa saat tadi ia tiup untuk menghilangkan panasnya, dan rasanya sangat aneh, sangat hambar sekali.
Melihat ekspresi Arini yang biasa saja, Seto jadi semakin was-was. "Kenapa mah?" tanyanya kemudian.
"Coba mas Seto rasain, benar-benar ini mie spektakuler." Arini menyodorkan mangkuk mie itu dengan cekikikan.
Akhirnya Seto menyuapkan mie itu kedalam mulutnya, lalu ia memuntahkan mie itu rasanya hambar sekali lalu ia berjalan ke arah dimana ia membuka bungkus mie tadi, matanya berpusat pada tempat sampah dan ternyata kecurigaannya benar, ia malah membuang bumbu mienya dan itulah sebab mienya hambar tidak ada rasanya.
Ia kembali menghampiri istrinya, "hehe lupa aku masukin." ucap Seto dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Arini ikut cekikikan, "mie yang sangat spektakuler ya mas." Ledek Arini dan membuat Seto ikut tertawa.
__ADS_1
Bersambung....
minta like komen rate dan vote agar aku makin giat update 🥳❤️