
buah semangka di Padang pasir
sebelum baca aku minta uang parkir.
dengan cara dukung aku melalui vote like komen dan rate !
happy reading...😘
Seto telah sampai di hotel. kakinya ter ayun dengan ringan di ikuti hatinya yang riang. siulan kebahagiaan lolos dari bibir yang baru saja mendapatkan asupan dari Arini tentunya. Sebenarnya ia tidak merasa baik-baik saja, sedikit cemas saat ciumannya tadi berlangsung.
Ia sekuat tenaga menahan sesuatu yang tadinya mengkerut di balik celana jeans-nya, Hinga sesuatu itu mencoba meronta dan berubah kian besar ibarat ular piton yang ingin bersembunyi di dalam gua. (Jangan di bayangin gays 🤣)
Sudah lama rasanya Seto tak mendapatkan pelumas jika dirinya tidak segera pulang pasti sesuatu yang di dalam jeans berulah.
Sesampainya di depan kamar hotel ia membuka pintu, kini kakinya sudah menapaki lantai dalam kamar, terlihat Bimo yang masih terjaga dengan memainkan game di ponselnya.
Bimo melirik dan memperhatikan punggung Seto yang langsung lenyap masuk ke kamar mandi, ia ingin segera berendam di bath up dengan air hangat, sesekali Seto tersenyum mengingat ciuman hangat yang ia tadi lakukan ke Arini.
Memang bagi Seto itu bukanlah ciuman pertama, dan bukan ciuman yang erotis hanya dengan Arini ia merasakan perbedaan, rasanya lain daripada yang lain.
Seto begitu menikmati kehangatan air di bath up itu, setidaknya ini mampu meredamkan gejolak pemberontak ular piton tadi, Seto tak habis pikir kenapa rasa bibir Arini berbeda dari bibir para wanita yang pernah di jamahnya.
"Dasar baby Se.." gumam Seto dengan menyentuh bibirnya yang masih membekas rasa ciumannya tadi.
Sementara Bimo yang masih terbaring di ranjang begitu penasaran mengapa bos-nya terlihat bahagia bak menang lotre. apalagi langsung mandi sungguh pikiran Bimo tidak bisa berpikir positif.
Saat ini Seto memejamkan matanya, menikmati aroma lavender yang menenangkan namun sesungguhnya pikirannya tak fokus, bayang-bayang bibir Arini serta keindahan tubuhnya tak bisa ia singkirkan dari otaknya. Seto adalah laki-laki normal, bahkan Lelaki itu sering menggagahi wanita di atas ranjang sebelumnya.
Sungguh bibir Arini membuatnya candu, kemudian ia memukul pelan kepalanya agar pikiran kotor lenyap dari otaknya.
" Ah.. bedebah kenapa tegang lagi sih," Seto bergumam sembari mengelus miliknya yang belum bisa ia jinakkan.
"Bos Se..?" suara Bimo di iringi dengan ketukan pintu.
"Bim..segera enyah dari balik pintu itu. Aku sedang tidak mau di ganggu!" ucap Seto dingin.
"Ini penting. apa bos Se sedang melakukan sesuatu?" goda Bimo, lelaki itu sudah memahami apa yang dilakukan sahabatnya itu di dalam kamar mandi.
"Bos ingat! mubasir." kata Bimo di iringi gelak tawa.
__ADS_1
"Gaji bulan depan ku potong Bim.
Bimo langsung terdiam, kalau sudah menyangkut soal gaji ia tak bisa berkutik. no money life will be empty. itulah motto hidup Bimo.
"Ampuni aku bos Se.." ucap Bimo dengan terkikik.
"Enyahlah dari balik pintu itu wahai jomblowan bedebah." teriak Seto dengan mengutukinya.
Seto beranjak ingin menyudahi mandinya, saat bercermin di kamar mandi sekelebat bayangan Arini menggodanya lagi, "ah, baru mengingatnya saja dia sudah bangun." Seto menggelengkan kepala, sembari menatap bagian kebanggaannya yang sedikit kembung.
Ia keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, tubuh kekarnya yang indah, pinggulnya yang kokoh serta kulit seputih kapas itulah nilai plus dari seorang Seto.
Tangannya terulur mencari baju tidur untuk ia kenakan. "Jam berapa besok Bim?" tanya Seto dengan mengancingkan bajunya.
"Nah..itulah mengapa tadi aku memanggilmu bos..jadwal untuk besok di undur Minggu depan."
"why? Seto menoleh meminta penjelasan Bimo.
"Lagi musim pandemi bos..akses ke luar kota susah."
Seto menganggukkan kepala, ia kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang yang tak jauh dari ranjang Bimo. mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing hingga tak sadar waktu menunjukkan jam setengah satu pagi.
"Aku tahu kau pasti marah padaku, marah pada semua yang telah aku lakukan padamu."
Rico terdiam sesaat.
"Aku memaafkanmu, kali ini." ucap Rico kemudian.
Clara menghela nafas panjang, dalam hatinya ia senang karena dengan Rico memaafkannya rencana yang sudah ia susun tidak akan gagal. Clara sangat terobsesi dengan uang dan kemewahan.
Sekali lagi Clara memperhatikan mata Rico, ia telah membawa kotak obat untuk mengobati buku tangan Rico yang terluka. Ia sesekali mengamati wajah suaminya itu terlihat ada rasa kecewa yang terpancar.
"Kenapa kau berdusta Clara?" mimik muka Rico sendu saat Clara sedang mengobatinya, entah mengapa lelaki itu menjadi berlebihan begini.
Clara tak menjawab, ia masih sibuk mengobati luka Rico.
Tiba-tiba bayangan Arini sekelebat muncul di otaknya. membuat Rico menarik tangannya dan beranjak meninggalkankan Clara.
Wanita itu berteriak, memanggilnya namun ia tak peduli dan pergi meninggalkan Clara.
__ADS_1
Clara tidak mengejar, setelah Rico lenyap dari sana ia melemparkan kotak obat tadi kesembarang arah. "Ah..damn it! kenapa aku teledor sekali menaruh tastpack itu." teriak Clara mengutuki kebodohannya.
Ting Tong.
Hari menjelang pagi, Arini pun telah bersembunyi di dalam selimut dengan memeluk Alana. telinganya terganggu kala dering ponsel miliknya bersuara.
Bel terus berbunyi berkali-kali, namun Arini tak mendengarnya, ia terbangun karena suara ponselnya.
Baby one more Time. nada dering Arini saat ini.
Arini meraih ponselnya, nama sang suami tertera di dalamnya. seketika jantung Arini berpacu kencang, inikah rasanya berselingkuh, selalu saja merasa waspada.
"Ya..ada apa menelfon mas." tanya Arini berpura-pura acuh untuk menutupi ketegangannya.
"Buka pintu. Aku ada di luar." perintah Rico.
Arini menekan tombol merah, pertanda panggilan itu di akhiri dengan gerakan pelan ia mencoba turun dari ranjang agar tak membangunkan Alana.
Kaki polosnya menapaki anak tangga, karena ingin cepat membukakan pintu ia terlupa memakai sandalnya. hingga pintu pun terbuka terdapat Rico yang berdiri di baliknya dengan telapak tangannya yang di perban.
Arini teringat bahwa ia lupa membereskan sisa suguhan untuk Seto tadi. Itu seketika membuat Arini panik dan wajahnya memucat jika Rico masuk sudah di pastikan lelaki itu akan menanyainya.
"Haruskah aku mengelabui mas Rico?"
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Arini dalam hati.
"Haa..pusing." Arini terus merengek dan bicara dalam hati ia mengusap kasar wajahnya.
Rico yang melihat Arini tidak seperti biasanya mendadak curiga, ia bahkan di biarkan mematung di luar pintu. "Apa yang membuatmu terlihat cemas?" tanya Rico dengan memperhatikan wajah istrinya.
"Tanganmu kenapa mas?" tanya Arini mengalihkan pembicaraan.
"Kecelakaan kecil," Kemudian Rico melangkah masuk mendahului Arini yang masih mematung di samping pintu.
Namun keberuntungan berpihak pada Arini, Rico terus melenggang masuk tanpa memperhatikan sekitar. Arini yang melihat Rico langsung naik ke lantai atas kini bernafas lega, ia segera mengemasi yang berada di meja ruang tamu. Jantungnya seolah maraton inikah rasanya berselingkuh seakan jauh dari ketenangan.
Sedangkan di sini Arini takut ketahuan di sana Seto takut kehilangan. selucu itu hubungan perselingkuhan.
Bersambung....
__ADS_1