Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 68.


__ADS_3

Sore ini Arini berniat segera pulang, saat ini dirinya masih di pelataran parkir pusat perbelanjaan, kartu ATM yang di berikan oleh Seto padanya beberapa hari yang lalu, tadi ia gunakan untuk belanja bulanan, seperti mengisi keperluan kulkas dan dapur, serta beberapa kebutuhan untuk Alana.


Arini berkendara sendiri menyusuri jalanan, karena ingin pulang dengan cepat, ia memutuskan untuk memotong jalan, karena jalan yang biasanya di lewati pasti macet parah.


Namun keputusannya berbuntut buruk, nasib sial menimpanya, beberapa motor dengan suara knalpot bising menghentikan mobilnya.


"Maaf, ada urusan apa ya, kalian menghentikan mobil saya?" Sejujurnya Arini begitu takut, karena saat ini seorang pria bertato dan berbadan besar mendekatinya, ia sangat trauma jika kejadian beberapa bulan yang lalu saat dirinya di cegat oleh preman saat malam-malam itu terulang lagi. 


"Kalau kalian menginginkan mobil saya ambilah, nih uang dan hp, bawalah semua." kata Arini dengan tangan yang sudah gemetar.


"Buang ponselnya!" Pria bertato tadi menyuruh anak buahnya untuk membuang ponsel milik Arini.


Dari belakang, seseorang dengan sigap membekapnya menggunakan kain yang telah di oleskan obat bius, awalnya Arini memberontak, namun semakin lama tubuhnya tidak ada daya, karena obat bius tadi dengan cepat telah bekerja membuatnya tidak sadarkan diri. Setelah itu beberapa preman tadi membawa Arini masuk ke dalam mobil dan membawanya ke suatu tempat.


Sedangkan di kantor, Seto beberapa kali menghubungi nomor Arini, namun nomor istrinya itu tidak aktif, sungguh hal itu membuat Seto mendadak cemas, tadi wanita itu berpamitan padanya untuk berbelanja, namun sekarang nomornya tidak aktif.


"Kenapa nomor Arini tidak aktif?" tanya Seto dalam hati.


"Kenapa bro?" tanya Dio yang memperhatikan raut wajah Seto yang begitu khawatir.


"Aku telfon Arini, tapi nomornya nggak aktif,Di..padahal tadi dia pamit ke supermarket, aku mau pastikan, Arini sudah sampai rumah apa belum." jawab Seto.


Dio menyuruh Seto mengulangi panggilannya, dan hasilnya pun sama, Nomor Arini tetap saja tidak aktif.


"Kenapa perasaanku mendadak nggak enak begini Di."


"Cari Arini sekarang Di suruh Bimo cepetan! teriak Seto frustasi.


Arini sudah berada di sebuah rumah yang tidak begitu besar, rumah itu terlihat sepi seperti tak berpenghuni.

__ADS_1


Arini masih tak sadarkan diri ketika seorang pria tidur di sebelahnya, Arini sudah tidak menggunakan sehelai benangpun, semua pakaiannya sudah terlepas dari badannya, kini wanita itu hanya di balut selimut tipis dan seorang lelaki yang memeluknya dengan bertelanjang dada.


Tubuh Arini di ikat oleh lelaki itu, gejolak dalam batinnya sudah meronta ingin merasai wanita yang berada di sampingnya kini.


Tangan serta kaki Arini sudah terikat, mulutnya telah di tutup menggunakan lakban hitam. Kaki Arini di ikat di ujung ranjang, hingga posisinya terlihat mengangkang. 


Perlahan Arini tersadar, seketika hawa dingin menyeruak masuk ke dalam pori-pori kulitnya, dan betapa terkejutnya saat ia melihat tangan dan kakinya sudah terikat, bahkan tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benangpun, dan ia semakin di kejutkan lagi saat seorang lelaki terlihat tersenyum miring kepadanya penuh maksud.


"Akhirnya sayang kamu sadar juga." Suara lelaki itu terdengar menjijikkan di telinga Arini yang tak lain itu adalah suara Rico.


Arini seketika mencoba memberontak, ia berteriak sekeras mungkin, ia sangat malu dan jijik melihat lelaki yang berada di hadapannya menatapnya dengan pandangan seperti serigala yang kelaparan.


Rico mendekatinya " kamu tahu nggak sayang.. setelah perceraian kita, aku selalu membayangkan tubuh indah ini," Rico menyentuh dagu Arini menggunakan telunjuk, dengan perlahan menyusuri setiap badan Arini, Arini mencoba memberontak dan memaki namun ia tak berdaya.


"Aku selalu teringat menikmati bagian ini." Rico duduk di atas Arini, ia menunjuk bagian yang di maksud tadi membuat air mata Arini seketika mengalir deras.


"Teriaklah sekeras mungkin sayang, ruangan ini kedap suara, jadi percuma saja kamu buang-buang tenaga untuk teriak!" kata Rico.


Arini menangis "b*ajingan kamu, untuk apa kamu melakukan semua ini padaku? Kita udah nggak ada urusan."


"Kamu tanya kenapa? Kamu udah berani ninggalin aku, bahkan menikah dengan Seto pria b*jingan itu. merendahkan aku di pesta waktu itu, apa kamu lupa?!" teriak Rico.


"Kita udah nggak ada urusan mas, tolong lepaskan aku!" pinta Arini.


Rico memegang dagu Arini, " tinggalin Seto, dan aku nggak akan sakitin kamu, kita balikan lagi, demi anak kita Alana, aku nggak benci kamu, tapi aku benci sama suamimu yang udah ngrendahin aku. gara-gara dia kamu berpaling dariku, berani menceraikan aku, dia merebut kamu dari aku!" 


"B*jingan kamu mas, kamu nggak sadar itu semua karena kesalahanmu sendiri!" 


PLAAK!!

__ADS_1


Rico menampar pipi Arini sekeras mungkin, hingga darah segar mengalir di sudut bibirnya, dengan pipi yang merah dan ada bekas tangan lelaki itu.


"Ini semua juga salahmu. Kalau kamu nggak nikah sama Seto dan mau balikan sama aku, semuanya nggak akan jadi seperti ini, aku nggak akan kasar sama kamu sayang.." ucapan Rico yang tadinya keras berubah melunak dengan memegang bekas tamparannya.


Rico dengan paksa mencium bibir Arini, tentu saja Arini memberontak, ia mengigit bibir Rico sekuat mungkin hingga bibir lelaki itu berdarah,Arini pun dapat merasakan bau amis memenuhi mulutnya, akibat darah Rico yang tertinggal di sana.


"Berani melawan kamu!" Rico menampar pipi kiri Arini lagi.


Rico semakin menggila, ia memegang kepala Arini, mendongakkannya ke atas, hingga lelaki itu dapat menyusuri leher jenjang Milik Arini, menciuminya hingga ke bahu wanita itu sesekali ia menjilatinya dengan rakus. menghisapnya hingga meninggalkan tanda merah di sana, tangannya yang kiri ia gunakan untuk meremas dua gundukan kenyal milik Arini dengan kasar.


Tangisan dan teriakan Arini tak membuat Rico berhenti, ia malah semakin menggila untuk merasai tubuh Arini yang telah lama di rindukannya itu.


"Ya Tuhan..tolong kirimkan penyelamat untukku siapapun itu!" doa Arini dalam hati.


Lelaki itu tetap sama seperti dulu, selalu kasar, Rico semakin ganas menjamah setiap bagian tubuhnya, lelaki itu tak segan-segan memukulnya ketika ia memberontak.


Rico menatap wanita di hadapannya lekat-lekat, ada perasaan marah, benci, kecewa dan rindu berkecamuk dalam hatinya. Sejujurnya ia sangat merindukan wanita ini, hari-harinya selalu di penuhi kegilaan dan frustasi, tidak bisa menemukan rumah barunya. Sekarang ia berhasil menculik wanita ini, ia akan melakukan apa saja, naluri binatang menguasainya sekarang. Rico tidak mampu lagi menahan hasratnya untuk tidak melakukan lebih dari ini.


Namun tiba-tiba saja tubuhnya di tarik kasar oleh seseorang, tak hanya itu wajahnya pun terasa nyeri karena seseorang itu memukulinya dengan sarkas.


Bersambung...


hayo tebak siapa yang nolong Arini?


A. Seto


B. Bimo


tulis di kolom komentar ya jangan lupa like dan vote biar aku makin giat update 🥳

__ADS_1


__ADS_2