Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 101.


__ADS_3

Mendengar kata-katanya, Rico merasa semakin muak dan ia tidak akan membiarkan Seto selalu merendahkannya, namun saat melihat Bimo berjalan maju, nyalinya sedikit menciut, selain tubuhnya yang lebih kecil daripada Bimo, lawannya itu juga sedang membawa pemukul baseball.


Seto menoleh ke Bimo dan berkata dengan  dingin " Bimo, apakah kemampuan memukulmu perlu di asah dengan objek A*J*NG liar ?" 


"Ya. Sudah lama aku tidak mengasahnya, aku bisa mencobanya sekarang." Kata Bimo.


Rico mendadak panik, lalu ia berjalan mundur dan mengatakan " Arini, kedatanganku ke sini tak lain hanyalah untuk bertemu putriku, biar bagaimanapun aku adalah ayah biologisnya dan sudah sewajarnya aku menginginkan bertemu dengannya. Aku tidak bermaksud merendahkanmu tadi, jadi tolong biarkan aku bertemu dengan Alana." 


Arini merasa konyol, ketika melihat Rico manusia super egois berperilaku seperti ini, rasa kebencian pada mantan suaminya itu sudah mendarah daging hingga melihat Rico memohon seperti sekarang, ia tidak merasa iba sama sekali.


Merasa Seto semakin erat memeluk pinggangnya, Arini merasa sedikit geli dan sakit " Mas sakit ah," 


Mengapa mas Seto mencubitku?


"Diam!" Seto berbisik dengan lembut.


Arini merasa heran, lalu ia menatap Seto dengan kompleks hingga seolah bola matanya membulat sempurna.


"Apa??" Seto mendongak dan mencubit gemas pinggang Arini lagi.


Di hadapan kedua manusia jomblo yang sedang melihatnya, tindakan mereka hanya saling menggoda dan menampilkan kemesraan.


Bimo berkata sambil mengalihkan pandangannya, " Aku selalu berada di posisi yang salah, melihat kemesraan pasangan suami istri ini, andai saja aku bisa menggali lubang sekarang ingin rasanya aku lenyap di dalamnya, sangat tidak menghargai kamalangan seorang jomblo!"


"Bos Se, dia sudah merendahkan nada bicaranya, dan memohon apakah saya perlu melanjutkan mengasah kemampuan memukul ?" tanya Bimo kemudian.


"Anjir masih juga menampilkan kemesraan, berhentilah saling menggoda itu sangat menyakitkan bagi seorang jomblo." gumam Bimo dalam hati ia mulai frustasi melihat bosnya semakin memperlihatkan kemesraannya.


Seto memandang Arini " dia adalah ayah biologis dari Alana, dan tidak ada kata mantan ayah jadi kaulah yang memutuskan."

__ADS_1


Arini malu, " aku menginginkan dia pergi sekarang karena aku belum merelakan Alana bertemu dengannya." 


Pada akhirnya Rico di seret secara tidak hormat, sangat frontal sekali saat ia mendatangi rumah itu dalam keadaan sombong, dan seolah ia menakutkan, nyatanya ia kalah dalam aspek apapun.


Sebenarnya kemesraan yang di tampilkan Seto tadi untuk membantu Arini, agar mantan suaminya itu melihat sekarang istri yang ia sia-siakan dulu menjadi istri paling bahagia dengan kehidupannya sekarang.


Arini benar-benar memahami maksud Seto tadi jadi selepas kepergian Rico secara tidak hormat ia mengucapkan terimakasih kepada suaminya itu. Karena Arini bukan tipe manusia kacang lupa kulitnya.


Seto masih memasang wajah cemberut " jika aku tidak segera turun tadi, kau akan membiarkan dia terus membentakmu seperti tadi dan merendahkanmu?" 


Arini menatapnya dan berkata.." tapi..mas Seto di sini sekarang, tidak ada yang perlu aku takutkan lagi kan?"


Sejujurnya hanya dengan Seto berada di sini, Arini sudah mempunyai kekuatan dan keberanian. rasanya sangat baik memiliki suami yang selalu mendukungnya.


Pandangan mereka semakin dalam dan mendekatkan wajah satu di antara lain, saat melihat bibir ranum Arini, mata Seto terpaku dan semakin mendekati objek itu.


Bimo datang dan berdehem menyela mereka dengan cara yang menjemukan "  Tolong hargailah saya sebagai jomblo di sini, tidak baik mempertontonkan adegan 21+ di kalangan seperti saya." 


Seto memutar bola matanya malas,  dia berbicara dingin sambil berjalan "  Bimo, kau ini bodoh atau apa? bukankah edukasi seperti ini seharusnya banyak kamu pelajari untuk menyongsong hidupmu di masa depan?" 


Kata-katanya tepat menghujam di hati Bimo, sungguh menyedihkan sekali nasib seorang jomblo sepertinya, selalu salah dan di salahkan.


Bimo tidak menjawab perkataan Seto, ia melirik Arini dengan canggung dan segera mengatupkan tangan dengan sedikit membungkuk, lalu ia bergegas mengikuti Seto yang saat ini sudah membuka pintu mobil dan hendak masuk ke dalamnya.


Ketika mereka pergi, Arini melambaikan tangannya sambil berteriak "hati-hati Mas!"


Seto membuka kaca mobil dan memberikan ciuman jauh lalu mobilnya berlalu meninggalkan rumahnya menuju ke tempat pertemuan dengan klien.


Sementara itu Rico berada di kamarnya, ia membanting botol sampanye dan menghancurkan apa saja yang ada di jangkauannya, berteriak dengan keras dan merasa frustasi karena saat ini dirinya merasa di hina.

__ADS_1


Botol sampanye itu ia lemparkan ke sudut kamar hingga membentur dinding, seketika botol itu pecah dan belingnya berserakan di mana-mana.  dia juga menendang guling berulang-ulang dan menginjak-injaknya seolah-olah itu adalah Seto.


"Bagaimana bisa aku di rendahkan seperti ini." teriakkan Rico menggema di kamarnya.


"Dea? sepertinya wanita itu bisa membantuku, apalagi dia sangat tergila-gila dengan Seto sialan itu." seolah mendapatkan angin segar Rico tersenyum simpul.


"Wah.. seperti biasa aku begitu luar biasa, tidak mungkin aku mengalah begitu saja!" Rico menyanjung dirinya sendiri.


Mengatakan demikian, Rico bangkit dan mencari-cari di mana ponselnya, ia ingin segera menghubungi wanita itu.


Rico sudah bolak-balik mengacak-acak kamarnya tetapi ia tidak menemukan ponselnya, semakin ia frustasi semakin sulit ponsel itu ia temukan, lalu ia terduduk sejenak mengingat dimana ia meletakkan benda pipih itu.


Bak gayung bersambut, ponselnya berbunyi dengan menajamkan telinganya Rico mulai mencari sumber suara, "ah ketemu!" akhirnya Rico menemukan ponselnya berada di kolong ranjang.


Namun baru saja ia menyentuhnya, ponselnya tiba-tiba saja menggelap dan ternyata Batrenya lowbat, " sialan!" Rico merasa kesal karena benda pipih itu mati lalu ia berjalan ke arah lemari untuk mengambil charger.


Setelah berhasil mengambil charger itu, ia mencolokkannya ke lubang ponsel, namun ia heran kenapa daya ponselnya tidak bertambah padahal sudah ia colokkan ke terminal listrik.


Rico menyalakan lampu kamar, dan hasilnya lampu itu tidak menyala, lalu ia mengira listriknya padam dan ia berjalan turun untuk mengeceknya, tak selang berapa lama ia sudah sampai di samping rumah tempat sekring itu terpasang.


Bukan masalah listriknya padam melainkan ia lupa mengisi token listrik, bahkan suaranya begitu nyaring " tit..tit.. tit.." suara yang memicu amarah Rico lagi.


Ia mengusap rambutnya frustasi, jangankan mengisi token listrik, untuk makan hari ini saja ia tidak punya uang sama sekali, sisa uangnya habis buat ongkos untuk mendatangi rumah Arini tadi.


Apalagi tadi ia menggunakan taksi, jarak antara rumahnya dan sang mantan istri bisa di katakan jauh, dan sudah pasti meteran Km berjalan dengan enjoynya dan menguras isi dompet Rico.


Apakah ini yang dikatakan sudah miskin tetapi banyak gaya? 


Lalu..

__ADS_1


Bersambung...


Maaf ya baru bisa update dua hari ini author tidak enak badan, ini aja aku paksain update biar kalian para pembaca setia tidak selingkuh wkwkkeke dan tetap berikan like komen rate dan vote agar mas Seto semakin lancar memberikan Rico pelajaran.


__ADS_2