
Rupanya Dea sangat menikmati permainan dari Rico, seperti saat ini dengan setengah sadar ia berkata di tengah kegilaan mereka berbagi keringat di ranjang hotel.
"Rupanya kau orangnya ah..nakal juga."
"Tapi kau menyukainya kan? sudahlah kita nikmati saja, bukankah kita sama-sama menginginkannya?" tanya Rico dengan semakin memacu adu gabrutnya itu.
Dea tidak bertanya lagi, ia sibuk berteriak mendesah karena Rico semakin membuatnya menggila, entah sadar atau tidak Dea sangat menyukai permainan dari Rico.
Dea seolah lupa, dengan tujuan dan misi mengapa ia mengajak bertemu Rico malam ini, bak seekor kucing, Rico tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan dikala ada mangsa empuk sekaligus gratisan ini.
Keringat mereka bercucuran, entah sudah berapa lama Rico bercocok tanam, mungkin karena terlalu lama ia tidak melakukannya langsung ke hutan rimba, biasanya ia lakukan hanya dengan bantuan sabun mandi, membuatnya kali ini lama untuk mengeluarkan benihnya itu, ia ingin menikmati lebih dalam dan lama.
Hampir satu jam lebih, akhirnya Rico menyudahi kegiatan panasnya itu, " tidurlah," ucap Rico.
Namun Dea tak menjawab, ia sudah sangat mabuk dan lupa daratan. Rico memunguti lagi pakaiannya, lalu bergegas pulang setelah membersihkan diri, meninggalkan Dea sendiri dalam kamar hotel itu.
Di kediaman Seto Permana pagi harinya..
"Gila!" ucap Seto terkejut, ia bersandar di sofa, sambil menyesap rokoknya, lalu pandangannya teralih menatap Dio dengan rasa terkejutnya.
Dio hanya tersenyum getir, ternyata semalam ia telah membuntuti Dea, yang berakhir ia harus menerima kenyataan bahwa wanita yang sempat menjadi kekasihnya itu sekarang berani nekad bermain api. Sampai-sampai bercocok tanam dengan sembarang benih, sungguh sembrono.
Seto mengambil bungkus rokok kemudian melemparkannya ke arah Dio, dan dengan sigap Dio pun menangkapnya, mengambil satu batang kemudian membakarnya.
"Tapi untungnya, kau sudah putus darinya." kali ini Seto angkat bicara.
Dio menyesap rokoknya dalam-dalam, ia hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan Seto.
Sementara itu, Rico tengah menikmati sarapannya, pagi ini suasana hatinya lebih baik dari biasanya, lalu seseorang mengetuk pintu membuat aktivitas sarapan paginya terhenti.
Seorang pria menggunakan masker berdiri di balik pintu saat pintu rumahnya berhasil ia buka, namun tunggu sepertinya ia mengenali perawakan tubuh pria ini seperti..Rico mengingatnya dengan keras, lalu kemudian ia teringat.
"Kau?!"
__ADS_1
Rico menatap wajahnya, dia sangat kesal. Pria yang mengenakan masker itu hanya tersenyum di balik maskernya, tanpa Rico mengetahui, namun sang pemilik rumah sepertinya tidak menyukai kedatangannya, jelas saja memang kedatangannya tidak akan pernah di duga dan di harapkan oleh Rico.
Tegang ketika, pria itu mulai ingin membuka maskernya, dengan tatapan yang tidak suka, Rico menjadi marah. Dia lebih jengkel saat masker pria itu berhasil terbuka, Hingga menampakkan dengan jelas sang pemilik wajah.
" kau adalah tuan rumah yang sangat buruk yang pernah aku temui."
Mata Rico seperti es yang sangat dingin ketika lelaki itu selesai berbicara.
Apa artinya ini? Rico mengerti, lelaki di hadapannya ini memang sengaja berkunjung, apa sebenarnya yang ingin lelaki ini bicarakan? Mencoba untuk mengancamnya?.
Dia tidak akan membiarkan ini.
"Mengancamku?" Rico menatap lelaki itu dengan pandangan meremehkan, "bagaimana bisa ia mengancamku di rumahku sendiri." ucap Rico dalam hati.
Sudah pasti, lelaki sialan itu yang menyuruh manusia menyebalkan seperti ini datang ke rumahku.
"Apa tujuanmu kemari?"
"Tanpa ku jelaskan, kau seharusnya telah paham. Apa kau begitu bodoh hingga tak memahami kedatanganku?" Dia menekankan setiap kata untuk mempermalukannya.
Lelaki di hadapannya mengambil sebatang rokok kemudian membakar dan menyesapnya, berlagak santai dengan menempelkan satu tangannya di pintu rumah Rico.
"Aku memberikan kesempatan untukmu menyelamatkan hidup, dengan catatan kau tidak melebihi batasanmu. Jika tidak, kesempatan untuk menyelamatkan hidupmu akan sangat sulit."
"Kau!!" Rico sangat geram, lelaki ini tau sekali cara menyulut emosinya.
Lelaki itu hanya tersenyum mengejek, Rico hendak angkat bicara lagi, namun kata-katanya tersangkut di tenggorokannya. Dia menatap lurus kepada lelaki yang sedang tersenyum meremehkannya itu, namun ekspresi lelaki itu berubah menjadi dingin dengan mata gelap, perubahan itu membuat Rico sedikit gelagapan namun ia sebisa mungkin menutupinya.
Rico terlihat dalam suasana hati yang mendadak memburuk.
Kata-kata itu terdengar mengancamnya dengan tatanan bahasa yang begitu elegan, lalu Rico kemudian berkata " sebaiknya, jangan terlalu ikut campur dalam urusan orang lain."
Lelaki itu mengerutkan kening, lalu menyesap rokok dalam dan membuang puntungnya, menatap Rico dengan pandangan siap perang dan berkata dengan serius " seharusnya ungkapan itu sangat pantas di tujukan untukmu!"
__ADS_1
Mata Rico menjadi merah.
Rico melihat lelaki itu juga menatapnya, Rico juga bisa merasakan tatapannya yang terbakar, namun Rico tidak memperdulikan itu.
"Aku masih memiliki hati, untuk berbelas kasih! Kalau kau mengabaikan apa yang aku katakan tadi, nyawamu adalah taruhannya." kata lelaki itu
Pria itu tersenyum miring, lalu berjalan meninggalkan Rico. Rico melihat kepergiannya dengan tatapan yang sangat marah, bagaimana ia bisa di ancam di rumahnya sendiri ? Merasa tidak terima Rico pun berteriak.
" Kau itu hanyalah kacung, jadi bersikaplah layaknya kacung, dan jangan mencoba mengancamku, sedikitpun aku tidak terprovokasi!"
Lelaki itu rupanya Bimo, lalu dia diam dan menghentikan langkahnya dengan wajah yang suram, entah kenapa ia marah ketika mendengar itu.
"Apa yang baru saja anda katakan? Katakan lagi!"
suaranya lebih dingin, dan menatap tajam ke arah Rico, lalu ia berjalan mendekat lagi ke arah lawan bicaranya itu.
Rico di kejutkan oleh tampilan yang menakutkan dari Bimo, dengan aura gelap dari wajahnya. Rico mundur selangkah, tubuhnya sedikit bergetar, lalu ia berjalan masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintunya. Lalu dengan cepat Bimo menendang pintu itu hingga menimbulkan suara yang begitu keras.
"Berani keluar Mati kau!" teriak Bimo lalu meninggalkan rumah Rico dengan raut wajah yang memerah.
Bimo melajukan mobilnya menuju kediaman Seto, hari ini adalah hari Minggu jadi malam tadi ia telah sepakat dengan Seto dan di suruhannya Bimo untuk mendatangi kediaman Rico sendiri, tujuannya adalah untuk memperingatkan lelaki itu agar tidak mengusik ketenangan rumah tangga bosnya itu.
Beberapa saat kemudian Bimo telah sampai di kediaman Seto, dan ia melihat mobil Dio terparkir di halaman rumah bos-nya itu.
Setelah menekan bel, salah seorang asisten membukakan pintu rumah, melihat Bimo yang berkunjung, asisten itu mempersilahkan masuk dan memberi tahu keberadaan tuannya yang saat ini sedang di ruang tamu bersama Dio.
Kedua pria itu melihat sosok yang baru saja datang ke ruangan, lalu Seto memperhatikan wajah Bimo yang tidak seperti biasanya. Ia bisa menebak apa yang membuat raut wajah Bimo demikian.
" Apa yang di ucapkannya, hingga membuatmu terprovokasi seperti ini?"
Bimo menoleh dan..
Bersambung....
__ADS_1
ayo dong semangati aku lemes banget nih
Banyak Like komen rate dan vote dan kalau bisa bantu share cerita ini agar semakin banyak yang tahu terimakasih 😉