Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 64.


__ADS_3

Dan benar saja, Seto sampai di kediamannya sangat larut, waktu menunjukkan sudah hampir jam setengah dua belas, Seto melihat sekeliling, sepertinya semua penghuni rumahnya sudah terlelap, melihat lampu yang telah padam. Seto menuju ke kamar utama ingin segera rasanya ia memeluk istrinya itu.


Seto sedikit terkejut, dirinya tidak mendapati Arini di kamar utama, kemudian ia mencari di kamar lain, hasilnya pun sama nihil ia tidak menemukan istrinya itu. Seto kemudian teringat dengan segera kakinya di ayunkan menuju ke kamar yang letaknya paling dekat dengan kamarnya.


Saat membuka pintu kamar itu, hati Seto menjadi lega, ia menemukan Arini tidur di sana dengan memeluk sang buah hati. dengan gerakan pelan ia mendekati mereka berdua. Hatinya mendadak hangat saat ia memperhatikan kedua wajah yang sedang tidur terlelap itu. 


Seto memperhatikan Alana dengan serius, bila Arini sangat mencintai anak ini, maka dirinya harus berbuat hal yang sama, Alana adalah bagian dari Arini, jika dirinya mencintai Arini, berarti ia harus bisa menerima kekurangan dan kelebihan istrinya. Dia akan menganggap Alana anaknya sendiri, mencintai dan menyayanginya layaknya darah dagingnya sendiri, sampai nanti ketika ia memiliki anak kandung, ia berjanji tidak akan merubah perasaan sayangnya terhadap Alana.


Seto berusaha konsisten, dirinya sudah memutuskan untuk menikahi Arini yang telah memiliki anak satu dari pernikahannya terdahulu, jadi dirinya tidak akan merubah apapun, akan sama rasa sayang dan cintanya sampai kapanpun.


Seto mengusap kepala Alana dengan lembut, Seto merasa kasihan pada anak ini, di umurnya yang masih terbilang balita, dia tidak mempunyai figur ayah yang kurang baik, Seto akan berusaha menjadi sosok itu, dirinya akan berusaha dengan baik menjadi ayah Alana. Semoga saja Tuhan merestui niat tulusnya.


Seto memutuskan untuk berbaring di sebelah Arini, untung saja di sini tidak ada pengasuh jadi ia bisa langsung terlelap di sisi istrinya itu. Seto memeluk Arini dari belakang, membenamkan wajahnya pada kerimbunan rambut Arini yang hitam dan beraroma stroberi itu. Aroma tubuh Arini selalu membangkitkan gairahnya, Seto mulai menggeser tangannya, dengan gerakan pelan tangannya sudah mencakup dua buah kenyal milik Arini. Meremasnya dengan pelan. Dan sialnya piton milik Seto sudah terbangun.


Seto berusaha menempelkan sesuatu yang sudah mengeras itu ke bok*ng Arini.


Suara tangis Alana membuat Seto mendadak terkejut, dia menghentikan aksinya, padahal di pikir Alana juga belum paham, namun entah mengapa ia mendadak panik seperti maling yang ketahuan tuan rumah. 


Seto terdiam, menunggu Alana kembali terlelap, setelah sepuluh menit menunggu, putrinya itu kembali terlelap. Seto mengintip bocah kecil itu, ia mendadak bernafas lega, rupanya Alana hanya mengigau meminta susu, Seto sempat merasakan kekhawatiran yang tidak perlu.


Suara tangis Alana meredupkan hasratnya, kemudian ia memutuskan untuk tidur saja, ia memeluk istrinya dengan erat hingga ia tertidur dengan lelapnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Kita cerai aja. Cla."

__ADS_1


Bak di sambar petir, tubuh Clara lemas seketika, lututnya menjadi lemah tak mampu menyangga badannya. Ia terduduk di lantai dengan membenamkan wajah di antara kedua kakinya. Air mata begitu deras mengalir dan tak mampu tertahan lagi, nafasnya mendadak sesak dengan rasa kecewa yang teramat sangat.


Dan yang ia takutkan selama ini terjadi Rico telah mengetahui bahwa dirinya mandul, sungguh badai ini terlalu dini untuknya. Rico menatap lurus ke arahnya dengan rahang yang sudah mengeras, hingga mata yang dulu selalu menatapnya dengan teduh kini seketika berubah menjadi tatapan marah, kalut, dan tentunya Rico sangat kecewa dengannya.


"Maafin aku." 


Seharusnya dia mengatakan ini dari awal, Clara sangat menyesal, Rico berdiri membelakanginya, menarik rambutnya ke belakang, andai saja ia tidak membuka laci itu, dan andai saja ia melenyapkan surat dari rumah sakit, badai ini tidak akan terjadi. Clara menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Jadi inilah alasan kamu bohongin aku soal tespack kemarin?" 


Rico berteriak marah, menatap Clara dengan tajam. Rahangnya mengeras, Clara dapat melihat kemarahan Rico begitu luar biasa. Clara paham Rico sangat kecewa karena dirinya berbohong pada suaminya itu.


Andai saja Rico tahu alasan Clara meninggalkannya dulu karena hal ini, Clara tidak ingin mengecewakan Rico kelak, namun takdir berkata lain dirinya membutuhkan uang maka dari itu ia mendekati Rico lagi, dan berhasil masuk kembali dalam hidupnya.


"A-aku." 


Clara tidak dapat mengatakan apapun, hanya bisa menunduk dan menangis, ia tahu ini semua adalah salahnya. 


"Jawab aku Clara!"  desaknya lagi, namun nada suara Rico tak sekeras tadi. Namun tetap saja Clara tidak berani menatap matanya, itu masih sangat berat baginya.


"A-aku dulu ninggalin kamu karena alasan ini sebenarnya mas, aku tidak sempurna, namun hatiku menolak melepasmu, aku sangat mencintaimu mas, makanya aku nggak jujur aku takut kamu nggak mau nerima aku." akhirnya Clara menjawab setelah hening sejenak.


Namun Rico hanya diam saja, sepertinya lelaki itu tidak menerima alasan apapun. Dia telah meninggalkan istrinya dan anaknya hanya demi perempuan mandul seperti Clara, sungguh ini begitu konyol baginya. 


"Seharusnya kau mengatakan ini dari awal, aku menyesal telah meninggalkan Arini demi wanita mandul sepertimu!" 

__ADS_1


Clara semakin menangis, ia tidak menyangka Rico akan berkata sekejam itu padanya, sangat dan teramat menyakitkan seperti jutaan pisau yang sengaja di tancapkan ke dadanya.


Clara semakin terisak, Rico berjalan ke arah jendela dengan berulang kali memukul tembok. Rico tidak mau sekalipun memalingkan wajahnya untuk menatap Clara yang saat ini sangat terluka atas ucapannya.


"Alasan kamu ninggalin aku dulu karena ini?" 


Akhirnya Rico mengangkat suaranya juga, Clara hanya diam, dia masih menangis, padahal dirinya sangat berharap Rico saat ini memeluknya dan mengatakan, nggak apa-apa sayang, sudah jangan menangis. Aku terima kamu apa adanya tapi kenyataannya tidak seperti itu.


"Lalu kamu datang lagi ke kehidupanku, untuk apa?" 


Clara masih membisu, mungkin karena perasaan cintanya jadi ia secengeng ini. Padahal kalau dia di bentak orang, sudah pasti Clara akan memaki balik orang itu dan membalas dengan ucapan pedasnya.


"Jawab, aku. Clara!" 


Clara gemetar mendengar nada bicara Rico yang meninggi.


"Karena aku mencintaimu, aku nggak bisa lepasin kamu gitu aja mas." 


Tidak ada pertanyaan lagi setelah itu, Rico berjalan ke arah lemari pakaian. Mengabaikan Clara yang masih menangis, sekilas Clara dapat melihat mata Rico yang memerah. Clara berulang kali memanggil namanya dan mengatakan maaf namun tetap saja lelaki itu mengabaikannya. 


Melihat Rico yang hendak berkemas Clara mendadak panik, ia takut Rico meninggalkannya.


Bersambung...


author dah update 2 chapter hari ini ayo berikan aku semangat dengan banyak like komen rate dan vote 🥰

__ADS_1


__ADS_2