Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 44.


__ADS_3

Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Seto bergerak cepat untuk mendekati Arini lagi, lelaki itu harus bisa mendapatkan hati wanita pujaannya bagaimanapun caranya. 


Siang ini mereka sedang makan siang di resto yang tak jauh dari butik yang di naungi Arini. Sebelumnya Seto telah menelfon wanita itu dan mengajaknya makan siang sekalian ia ingin tahu kehidupan Arini selama satu bulan terakhir ini.


"Rin..kamu mau pesan apa?" tanya Seto dengan menyentuh tangan Arini.


Seto mengajak Arini ke restoran yang cukup terkenal di kota itu, ia mulai memesan makanan seraya bertanya pada Arini.


Arini tampak berpikir, "samain saja dengan pesanan mu mas." ucapnya kemudian.


Pelayanan itu meninggalkan Seto dan Arini untuk memenuhi pesanan mereka. setelah menunggu beberapa saat pesanan mereka kini telah di hidangkan.


Di sela-sela mereka makan Seto bertanya "Selama satu bulan kau menghindari ku, apa kau tidak tertarik kepadaku?" 


Tiba-tiba Arini tersedak mendengar ucapan Seto.


dengan cepat Seto memberikan air putih untuk Arini "pelan-pelan Rin.. makannya."


Dengan di bantu Seto Arini kemudian meminum air itu, setelah di rasa nyaman di tenggorokannya ia mulai menjawab " Tidak, bukan begitu." ucapnya dengan sedikit ragu.


Seto mengambil tissue dan menyeka air yang membasahi di sekitar bibir Arini, " lantas?" sambungnya kemudian.


"mas.., balik ke posisi semula aku nggak enak dilihat orang," ucap Arini yang malu akan tatapan mata para pengunjung yang terfokus padanya.


"Apa itu artinya kau sedang memberikan kode, agar aku menyewa restoran ini secara pribadi?" ucap Seto dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya.


Mata Arini melotot, bukan itu maksud dari ucapannya, Seto sungguh senang menggodanya, lelaki itu dari sebulan yang lalu tak pernah berubah.


"Lalu kenapa kamu bisa di kota ini mas?" 


"Karena takdir." jawaban Seto membuat Arini mendelik, lelaki ini sungguh menyebalkan.


"Aku masih menunggu jawaban dari pertanyaanku tadi?" ucap Seto dengan mengelap bibirnya menggunakan tissue ia telah menyelesaikan makannya.


"Sebulan yang lalu aku menggugat cerai Rico, dan sekarang kami telah resmi berpisah. Aku tidak menghubungimu karena aku merasa kau pantas mendapatkan selain aku, yang lebih dari diriku, sedangkan aku sisa orang lain." jelas Arini ia juga sudah menyelesaikan makannya.


"Kau telah menghakimi perasaanku." ucap Seto.

__ADS_1


Arini bingung akan maksud dari ucapan Seto, apa maksud dari menghakimi perasaannya? 


Lelaki itu melambaikan tangan, meminta bill kepada pelayanan. "pembayaran melalui kartu kredit ya mbak," pelayanan itu mengangguk dan mengambil kartu yang di berikan oleh Seto.


Seto dan Arini telah menyelesaikan makan siangnya, ia beranjak dan mengulurkan tangannya agar Arini menyambutnya. "Aku antar kamu kembali ke butik." ucap Seto.


Sesampainya di butik Arini hendak turun dari mobil, namun secepat kilat Seto menahannya nalurinya membawa Arini dalam pelukannya, ia ingin meluapkan kerinduannya selama ini pada wanita itu. di dalam mobil, di ruang rapat kedua insan itu kini sedang  beradu bibir, ciuman yang lembut kini kian memanas seolah Seto enggan mengakhirinya.


"Mpphh.." Arini menahan dada Seto, sebagai kode agar lelaki itu melepaskan pagutan itu, pagutan yang bermula lembut kini berubah menjadi panas.


Seto pun akhirnya melepaskan pagutannya.


"Huh.." dada Arini naik turun, ia mengatur nafasnya, "Mas..aku hampir kehilangan nafas." 


Arini memukul dada Seto, namun lelaki itu hanya tersenyum menikmati tingkah manis wanita pujaannya. Seto tersenyum lembut kepada Arini. 


"Itu baru sebagian kecil pembayaran yang harus kau berikan, karena kau telah berani meninggalkanku dan balasan juga karena kau menghakimi perasaanku." ucap Seto seraya mengangkat tangannya untuk menghapus sisa saliva yang menempel di bibir bawah Arini yang berwarna merah muda.


"bibirmu bengkak Rin.." ucap Seto dengan tertawa ia gemas dengan Arini tadi hingga menciumnya secara ganas dan membuat bibir kekasihnya itu seperti tersengat lebah.


Arini dengan cepat memegang bibirnya.


"Siapa yang berani memperhatikanmu?" tanya Seto.


"Ya..para karyawan yang bekerja di sini," 


"tidak akan ada yang berani menegurmu, karena aku akan mengantarkanmu sampai masuk kedalam butik." ucap Seto.


Arini memajukan bibirnya, " kurang kerjaan." 


"Memang, jadi untuk itu apa mau kamu aku kerjai?" ucap Seto dengan tatapan anehnya membuat Arini begidik ngeri.


Arini secepat kilat turun, jika ia lama-lama di dalam mobil bisa-bisa yang di katakan Seto benar nantinya ia akan di kerjai oleh kekasihnya itu. Arini segera masuk ke butik meninggalkan Seto yang masih tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah manis kekasihnya.


"Wanita menggemaskan sepertimu, harus segera aku miliki Rin." gumam Seto kemudian melajukan mobilnya.


Sesampainya di ruangan, Arini menutup wajahnya ia masih merasakan malu, ciuman panas dengan Seto tadi sebenarnya membangkitkan gairahnya, tidak bisa di pungkiri dirinya adalah wanita normal yang pada umumnya akan merasakan gelayar aneh saat sesuatu membangkitkannya.

__ADS_1


"Aku sudah mencoba menghindarinya namun seolah semesta mempertemukanku denganmu lagi dengan cara yang berbeda," gumam Arini kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Seto lelaki itu telah sampai di apartemen, ia telah janjian dengan Dio dan Bimo untuk menemuinya di apartemen yang ia sewa semalam.


Ting Tong.


Bel apartemen Seto berbunyi, kakinya terayun menuju pintu kemudian membukanya. mata Seto sedikit terkejut karena bukan hanya Bimo dan Dio yang datang melainkan juga ada Dea di sana.


"Kita bahas pekerjaan ini di hotel yang sudah aku pesan, tidak enak ada Dea kalau harus ikut masuk ke apartemen.." ucap Dio setengah berbisik pada Seto.


Ia menatap Bimo, kemudian Bimo menganggukkan kepalanya, pertanda lelaki itu telah mempersiapkan segalanya. 


Ambasador Hotel.


Setibanya di sana Seto dan Bimo memarkirkan mobilnya di basement hotel tersebut, di ikuti Dio dan Dea di belakangnya.


Kemudian mereka berempat melangkah menuju resepsionis untuk melakukan cek in. kedua mata Dea tak hentinya memperhatikan Seto yang terlihat dingin kepadanya. karena jelas raut wajah Seto tak menganggap akan kehadiran Dea.


Seusai mereka berempat mendapatkan kunci kamar hotel, mereka masuk kedalam lift untuk menuju kamarnya di lantai 9. Dio sudah memesankan tiga kamar, satu untuknya, satu untuk Dea dan satunya untuk Seto dan Bimo kamar mereka berdampingan.


"Dio kapan mandor bangunan itu akan datang?" tanya Seto.


"Dia sudah sampai di Bandara, tetapi baru sore nanti dia akan menemui kita." 


"Baiklah, ayo Bim." ajak Seto kepada Bimo mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kamarnya.


Bukan tanpa alasan Seto mengabaikan Dea, wanita itu begitu terobsesi padanya membuatnya begitu risih.


"Bos.. Sekarang Dea adalah kekasih Dio." ucap Bimo di sela menurunkan baju yang ada di dalam koper.


"Itu hanya pelampiasan, aku tahu watak Dea." 


"Bim..ada Arini di kota ini," 


Mendengar apa yang baru saja bosnya ucapankan Bimo sedikit terkejut ," jadi Bos Se sudah menemukan Arini?" 


"Gawat!!" ucap Bimo yang mengundang penasaran Apa maksud kata gawat.

__ADS_1


Bersambung.....


like, rate, komen dan vote. aktifin juga tombol favorit agar dapat notifikasi jika mas Seto update 🥳


__ADS_2