
Akhirnya acara pelepasan benih ketimun itu tuntas juga, setelah berkutat hampir setengah jam dengan bantuan sabun mandi, Rico kini merasa sedikit lega, walaupun sebagai pria dewasa dan normal hal yang baru saja ia lakukan hanyalah sebatas opsi, garis besarnya tetap hutan rimba adalah tempat yang tepat untuk bercocok tanam.
Rico menyiram ceceran benih dengan bersih kemudian mencuci senjatanya itu. Setelah di rasa semuanya selesai, ia bergegas kembali ke ranjang untuk tidur.
Malam panjang yang dingin telah di lalui Rico dengan kehampaan, lalu pagi harinya..
Rico bangun dengan raut wajah yang sedikit bersemangat, dan hasratnya untuk menanam benih semalam sudah ia tuntaskan dengan metode jalan pintas. Seperti biasa, setiap pagi Rico akan sibuk membaca koran dan mencari lowongan pekerjaan di berita cetak itu.
Tak lupa juga ia sarapan pagi, untuk mengisi perutnya agar kuat menghadapi kenyataan. Saat ini Rico duduk di sofa ruang depan, dengan kedua mata yang fokus melihat lowongan pekerjaan di koran dan sesekali membulatinya dengan spidol saat di rasa lowongan itu cocok untuknya.
Di kediaman Seto Permana.
"Mah..abis nganter Mami nanti, aku langsung ke Kantor ya, nanti sepertinya aku pulang telat, jaga Alana dan calon anak kita ya. Aku sayang banget sama kalian bertiga." ucap Seto dengan mencium kening Arini, lalu ia mengelus perut istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Baik, mas. Sudah pasti aku akan menjaga dengan baik anak-anak kita. Tapi sebaiknya mas dan Mami sarapan dulu, itu sudah aku siapkan tadi di meja makan, ada sup iga kesukaan mas Seto loh.."
"Ayo mas, ke meja makan. Aku ke kamar Alana sebentar nanti aku nyusul mas." Arini hendak melangkah namun terhenti.
"Tunggu mah!." Seto menahan langkah Arini.
"Ada apa mas?" Arini berbalik dan menatap wajah Seto lekat-lekat, berusaha menunggu jawaban dengan tidak sabar.
Seto mendekat, tanpa aba-aba ia langsung melahap bibir merah milik Arini, jelas saja itu membuat Arini terkejut, apalagi ciuman yang di berikan Seto sangat liar, dengan kedua tangannya yang aktif meremas lembut semangka super miliknya.
Lalu Seto menyudahinya, dan berbisik "lain kali kalau mau keluar kamar, jangan lupa memberi jatah ciuman buat suami, kalau sampai lupa aku akan menghukumu lebih lama nanti malam."
Blush..
Pipi Arini merona seketika, " Astaga..dasar suami mesum." Kata Arini seraya memukul pelan dada Seto, kemudian segera berlalu menuju ke kamar Alana.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Seto bergegas masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan ibundanya kembali pulang. Setelah melambaikan tangannya, mobil yang di kendarai Seto segera melaju meninggalkan pekarangan rumah.
__ADS_1
Arini kembali masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintunya, dengan menggandeng tangan Alana, ia berjalan menuju kembali ke kamar, untuk bercengkrama dengan putrinya itu.
Hari mulai siang, matahari juga sudah terik seorang lelaki sedang berjalan di pinggir trotoar, dengan membawa tas kecil dan berjalan sedikit tergesa-gesa.
Ya. Lelaki itu adalah Rico, yang saat ini sedang ingin menuju ke alamat di mana lowongan pekerjaan tadi.
Rupanya semalam hujan, terlihat jalanan yang rusak tergenangi air, namun entah sial apa bagaimana baju Rico basah saat mendadak seorang pengendara motor melaju dengan kencang dan menyebabkan air muncrat mengenai bajunya.
"B*j*ngan !" umpat Rico seketika.
Pengendara tadi tidak menyadari, kalau ia telah membuat baju Rico menjadi basah dan kotor. Rico merasa hidupnya di penuhi dengan kesialan, ia merasa muak hidup miskin seperti sekarang.
Rico mendesah, tidak mungkin juga ia akan melanjutkan perjalanan ke tujuannya, dengan baju yang kotor dan basah seperti ini akan terlihat buruk dan membuatnya malu pastinya.
Akhirnya dengan hati yang dongkol dengan kekesalannya, Rico berjalan menuju bangku taman yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, ia akan beristirahat sejenak dan membeli air mineral untuk menghilangkan dahaganya dan meredakan emosinya.
Akhirnya Rico mendaratkan tubuhnya di bangku taman seorang diri, memandang beberapa pejalan kaki dan beberapa pedagang kaki lima yang tengah menjajakan dagangannya.
"Bos." seseorang memanggilnya, dan menepuk pundak Rico.
Rico terperanjat, lalu menoleh sosok yang ia kenal sedang tersenyum dengan topi yang menutupi kepalanya.
"Elu." ucap Rico, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke sembarang arah.
"Ngapain bos di sini? tanya Tomi, ya lelaki yang sedang ngobrol dengan rico saat ini adalah Tomi.
"Loh bajunya kenapa Bos? tanya Tomi lagi, saat melihat penampilan Rico yang amburadul.
"Huh. Kena sial aja tadi, pas aku jalan mau ke suatu tempat, e..malah ada orang bawa motor g*b*ok banget, itu air yang ada di jalanan muncrat kan kena baju. A*j*ng emang!" Rico mencoba menceritakan kesialannya tadi, sontak pernyataan Rico membuat Tomi mentertawakannya.
Rico melirik Tomi yang sedang tertawa, lalu seketika Tomi menghentikannya dengan menahan tawa itu. Rasanya ia tidak menyangka kalau Rico akan mendapatkan kesialan seperti ini.
__ADS_1
"Kamu sendiri ngapain di sini? tanya Rico dengan menyelidik.
Tomi mengambil bungkus rokok dalam saku jaketnya, lalu menyodorkan kepada Rico " rokok bos," ucapnya dengan mencoba membakar satu batang rokok untuk ia nikmati.
Rico meraihnya, lalu ia juga mengambil satu batang dan di bakarnya. Menyesapnya secara perlahan kemudian mengeluarkan asapnya. Ia kembali melirik Tomi yang belum menjawab pertanyaannya tadi, " tadi abis nganter cewek aja bos." Jawab Tomi kemudian.
"Oh." jawab Rico.
"Bingung nih, buntu banget pikiranku, kerjaan belum dapet, ada info nggak kamu Tom?"
Tomi sedang mencoba membakar lagi rokoknya yang mendadak mati. Beberapa saat kemudian " ada bos, tapi yakin bos mau?"
Setitik harapan membuat wajah Rico berbinar, "apa?" tanyanya antusias.
"Ini agak sedikit berbeda bos, kerjanya gampang dan nyantai tapi hasilnya sih lumayan, sekali kerja kalau lagi mujur bisa tuh kebeli iPhone, Haha." Tomi mulai menceritakan, namun ucapan Tomi membuat Rico penasaran, apakah pekerjaan yang di maksud Tomi? dari yang ia dengar sepertinya ini pekerjaan yang tidak jauh dari jalan pintas.
"Berbeda bagaimana? Lalu syaratnya apaan Tom?"
Tomi tersenyum ke arah bawah Rico, Rico yang melihat itu sedikit kesal, bukannya menjawab malah tatapan Tomi membuatnya geli sendiri, "apa ?" tanya Rico lagi dan menatap tajam ke arah Tomi.
Tomi malah tertawa, sungguh berbicara dengan manusia satu ini menguras kesabarannya. Kalau tidak sedang membutuhkan pekerjaan, Rico tidak Sudi ngobrol lama dengan manusia seperti Tomi.
"Woy! Apa?" tanya Rico dengan semakin kesal.
"Sabar dong bos, kalem.. pekerjaan ini cuma butuhin kekuatan dengan modal timun besar, serta yang pastinya tahan lama dan prima!"
Lalu kemudian.....
Bersambung...
wkkwkw tawaran dari Tomi bahaya banget masa nanti paswod mas Rico Tante Tante culik aku dong 🤣🤣🤣
__ADS_1
seperti biasanya aku cuma minta like komen rate dan vote jika kalian menyukai karyaku ini 😘