
Saat ini Seto sedang berada di suatu tempat, di kafe yang tak lain adalah miliknya, sudah lama rasanya ia tidak ngobrol santai dengan Bimo. bicara sebagai teman, bukan sebagai atasan dan bawahan seperti yang di lakukan Seto dan Bimo biasanya.
"Sepertinya ada sesuatu yang menggangu pikiranmu? Setelah pertemuan dengan klien tadi mengapa wajahmu menjadi kecut dan tidak enak di pandang. Ada apa?" tanya Seto meniup lalu menyesap kopi yang masih mengeluarkan asap yang mengepul itu.
"Tidak ada apa-apa.." jawab Bimo.
Seto tak bertanya lagi, ia masih memandang wajah Bimo dengan tangannya terulur ke atas meja mengambil satu batang rokok kemudian membakarnya.
"Aku…," ucapan Bimo terputus, ia menyilangkan kakinya dan mengikuti Seto untuk merokok.
Seto masih diam, ia menunggu Bimo angkat bicara lalu terlihat Bimo yang menghela nafas panjang lalu berkata "Aku merindukan seseorang."
Seto mengerutkan keningnya, mendengar Bimo mengatakan kata rindu dari mulutnya rasanya menggelikan. tidak biasanya lelaki di hadapannya ini bertindak sweet seperti sekarang.
"Kau merindukan seseorang? yang benar saja."
"Huh.." keluh Bimo.
"Iya.." lanjutnya kemudian.
Seto berpikir sejenak.."di jaman modern seperti ini kalau kangen tinggal samperin Bim, jangan kayak orang susah!" kata Seto dengan mematikan puntung rokoknya.
Bimo sejenak mengecek ponselnya, namun tidak ada notifikasi pesan atau panggilan sama sekali di ponselnya hingga membuatnya meletakkan kembali ponsel itu ketempat semula.
"Notif siapa yang kau tunggu?" ledek Seto.
"Bedebah kau ini." Bimo tertawa akan ledekan sahabatnya itu.
"Jadi seseorang itu siapa?" pertanyaan Seto membuat Bimo menoleh ke sahabatnya.
"seorang wanita.." Bimo melipat kedua tangannya ke belakang kepala menatap langit-langit kafe itu.
"Apa kau ingat Bos..saat kita ngumpul bareng di puncak, kita bermain tebak-tebakan dengan Dio. Siapa di antara kita bertiga yang akan menikah terlebih dulu. Waktu itu aku dan Dio mengira kaulah yang akan menikah paling terakhir karena kau sangat tidak suka dengan komitmen. Tetapi dugaanku dan Dio meleset malah kau duluan yang nikah, sedangkan kami menempati posisi yang tidak tergeserkan dan utuh seperti ini " Bimo tertawa mengingat-ingat waktu masa remajanya bersama Seto dan juga Dio.
"Aku juga tidak akan menyangka akan menikah dengan Arini, dan konyolnya lagi aku mulai merayunya saat dia masih jadi istri orang lain, kalau saja kami tidak bertemu di kafe itu mungkin aku tidak akan berkomitmen sampai sekarang." ujar Seto.
__ADS_1
" Andai Arini tidak mau bercerai dengan suaminya gimana waktu itu?"
"Aku akan gila. gila berusaha merebutnya dari suaminya haha." mendengar penuturan Seto Bimo ikut tertawa.
"Cepatlah menikah! cari pasangan! di musim dingin seperti ini menghangatkan diri dengan metode bercocok tanam adalah opsi yang tepat." ledek Seto lagi.
Bimo menghela nafas berat, seolah apa yang di perintahkan Seto adalah hal yang sangat berat baginya.
"Menyebalkan?" ucap Bimo yang mendapatkan gelak tawa dari Seto.
"Apa perlu ku carikan pasang untukmu?" Ledek Seto.
"Aku adalah laki-laki. Yang di jodohkan itu Siti nurbaya dan dia itu wanita..masa kisahnya mau di rubah menjadi datuk maringgi seorang lelaki yang mendekati umur tua di carikan jodoh untuk merasakan metode bercocok tanam. Haha konyol." Bimo tertawa tiada henti.
"Kalau kau tidak di jodohkan, dan di paksa menikah itu sayang sama benih ketimun yang semakin mendekati kedaluwarsa." seru Seto.
"Sudahlah sudah. Kita pulang saja lama-lama di sini aku semakin frustasi dengan ledekanmu." ujar Bimo.
"Baiklah…" saut Seto dengan masih tertawa.
"Setelah menikah, kau semakin cerewet saja Bos, menyebalkan." lalu Bimo beranjak dan di ikuti oleh Seto di belakangnya, mereka masih saja melemparkan ejekan satu sama lain di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju rumah Seto.
Di lain tempat, banyak sekali pertanyaan yang ingin Rico tanyakan kepada Clara, tapi entah kenapa saat melihat mata Clara tadi, ia tidak menemukan cinta di dalamnya.
Padahal tadi, Clara mengesampingkan perasaannya sendiri agar terlihat tegar saat menemui Rico dan memberikan undangan.
Memang tak nyaman, tetapi Clara berharap seseorang yang bersamanya kini adalah akhir dari perjalanan cintanya. Walaupun terbilang singkat mengenalnya, Clara berharap ia tak salah pilih.
"Sial! Kenapa hidupku jadi serumit ini." umpat Rico tak terima akan nasib yang di berikan author.
Rico meluapkan kekesalannya dengan melemparkan vas bunga hingga pecah berserakan, emosinya meluap berapi-api.
"Menikah? Memangnya segampang itu!"
Sedangkan di apartemen Bimo, lelaki itu sedang termenung. Ia memikirkan apa yang tadi ia lihat saat Hana bersama Angga, hatinya tiba-tiba tergerak untuk mengambil ponsel miliknya dan mencoba untuk menghubungi nomor Hana. Namun nomor ponsel wanita itu sudah tidak aktif membuat Bimo berdecak kesal seraya mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
Ia meletakkan ponsel ke tempat semula, lalu ia meneguk sampanye yang sudah ia tuang ke gelas, ia sangat tidak senang memiliki perasaan seperti saat ini.
Keesokan paginya..
Hari ini adalah hari Minggu, Bimo memutuskan untuk menemui Hana setelah beberapa tahun tidak berkunjung ke rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Bimo sampai di halaman rumah wanita itu juga. Bimo memarkirkan mobilnya di halaman rumah Hana, ia segera turun dan mengetuk pintu di iringi dengan memanggil-manggil nama pemilik rumah berkali-kali namun tidak ada Jawaban dari sana.
Sudah hampir satu jam lamanya Bimo berdiri di sana, namun ia rasa saat ini Hana memang sedang tidak ada di rumah. Bimo memutuskan untuk kembali pulang dengan langkah gontai ia memasuki mobilnya, namun saat hendak masuk kedalam mobil ia melihat Hana sedang berjalan dengan membawa barang belanjaan di tangannya.
Niatnya untuk pulang terurungkan dan segera menghampiri wanita itu.
"Ha-hana, aku dari tadi menunggumu."
"Bi-Bimo..?" Hana nampak begitu terkejut " kau sedang apa kemari?" tanya Hana.
Pertanyaan Hana membuat Bimo bingung menjelaskan tujuannya menemui wanita itu, ia harus mencari alasan apa untuk menjawab pertanyaannya.
Lalu " Bukankah kita teman, memangnya salah kalau aku mengunjungi teman?"
"Ah..tidak. maksud pertanyaanku, tidak biasanya kau mengunjungiku, sudah lama sekali rasanya kita tidak bertemu dan mengobrol."
"Jika kau masih menganggapku teman, akankah kau biarkan temannmu ini hanya berdiri di sini tanpa menyuruhnya untuk masuk dan tidak memberikan satu cangkir teh atau kopi?" kata Bimo.
Sedetik kemudian Bimo menyadari perkataannya "Astaga..kenapa ucapanku bisa senorak itu? Tamu yang tidak tahu diri.." kata Bimo dalam hati mengutuki kebodohannya.
Hana tersenyum, " ah..iya. mari silahkan masuk." ajaknya dan melangkah masuk kedalam rumah, setelah ia membuka pintu itu menggunakan kunci yang ia ambil dari dalam dompet.
Bimo mengikutinya dari belakang, ia di persilahkan untuk duduk di ruang tamu, lalu Hana berlalu meninggalkannya untuk membuat minuman dan menyiapkan beberapa kue untuk di hidangkan.
Namun tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar membuat Bimo menoleh ke sumber suara, ketukan itu terdengar berulang kali dan Bimo memanggil Hana, memberi tahu kalau ada tamu yang berkunjung, dan..
Bersambung...
jangan lupa like komen rate dan vote agar kisah ini berlanjut...
__ADS_1