
Arini dan Seto terdiam cukup lama, pertemuan tidak sengaja ini membuat asmara yang lama kering di hati Seto kembali menggelora, tak henti-hentinya ia menciumi puncak kepala Arini. sungguh ia sangat merindukan wanita itu.
Arini merasa aman sekarang, berada di pelukan Seto begitu hangat. Ia mendesis saat luka cakaran di bahunya tertindih tangan Seto.
Seto melepaskan pelukannya, ia meneliti setiap inci dengan teliti, pusat kesakitan Arini ada di pundak dan lengannya, itu akibat preman tadi yang menyeretnya secara paksa.
Seto menatap wajah wanita yang ada di hadapannya, lelehan air mata yang mengalir di pipi Arini ia hapus menggunakan ibu jarinya, ia menciumi di setiap luka Arini. Arini hanya diam saja, ia sepenuhnya menyadari Seto tidak akan berlaku kurang ajar padanya.
Seto membawa Arini masuk kedalam mobil, dengan lembut ia mempersilakan wanita pujaannya itu duduk.
Ia tak melajukan mobilnya, ia ingin meminta penjelasan kepada wanita yang telah menghilang darinya selama sebulan ini.
"Kita cari penginapan terdekat?" ajak Seto.
Namun Arini menggelengkan kepalanya, "Alana menungguku." ucapnya pelan.
"Baiklah aku antar kau pulang,"
Arini tampak berpikir sejenak, lelaki yang ia tinggalkan tanpa kejelasan masih saja baik padanya, apakah cinta yang di utarakan Seto memang benar adanya, "Apa aku tidak merepotkanmu mas?" pertanyaan konyol itu lolos dari bibir Arini.
Seto menoleh, "Aku akan meminta imbalannya kapan-kapan," ucap Seto kemudian melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, sampai pada akhirnya Seto membuka pembicaraan.
"Dimana sekarang kau tinggal? Alana sehat kan?" tanya Seto sembari terus menyetir.
"Jalan kenanga blok d kota y," ucap Arini masih agak kaku.
Tak lama kemudian Arini dan Seto telah sampai di kediaman Atmojo.
"Oh ternyata di sini Arini tinggal sekarang." ucap Seto dalam hati.
__ADS_1
"Ayo kita masuk mas." ajak Arini.
Jam menunjukkan dini hari, namun Atmojo dan istrinya masih terjaga menunggu kepulangan Arini. Ayah Arini yang sudah tau selama ini putrinya tinggal bersamanya meminta agar Atmojo menyayangi Arini seperti anaknya sendiri, tentu saja hal itu di setujui mengingat Atmojo dan sang istri tidak memiliki anak selama ini.
Sesampainya di depan pintu, Arini menekan bel, kebetulan Atmojo yang masih menonton bola di ruang tengah mendengarnya dan bergegas membukanya.
Betapa terkejutnya Atmojo saat melihat penampilan Arini yang kacau setelah pintunya di buka. Melihat Arini tak sendirian Atmojo memperhatikan Seto dengan tatapan menyelidik apalagi penampilan putrinya itu teramat berantakan.
"Apa yang terjadi Rin..?" tanya omnya itu dan menegang tangan Arini yang terluka.
"Ceritanya panjang om, oh iya kenalin mas Seto teman saya," ucap Arini.
Seto yang mendengar itu mendadak hatinya tak terima, bisa-bisanya ia hanya di anggap teman oleh Arini.
Seto mengulurkan tangannya kepada Atmojo, pria paruh baya itu pun menyambutnya di ikuti senyuman "Seto Permana Om, calon papa Alana." ucap Seto penuh percaya diri.
Atmojo tampak terkejut, ia mendadak tersenyum kecut, "ah..astaga, masuklah nak,"
Karena hari telah larut, Seto menolak secara halus ajakan dari pria paruh baya itu, ia kemudian berpamitan untuk pulang, sebelum itu ia meminta nomor telepon Arini agar dirinya bisa berkabar dengan wanita pujaannya itu.
"Lalu kenapa kau meninggalkannya Rin? tanya om Atmojo.
"Itu masih menjadi rahasiaku Om, maaf aku belum bisa menceritakannya." jawab Arini lembut.
Kemudian nyonya Atmojo menyuruh Arini membersihkan diri dan beristirahat serta mengobati luka-lukanya. Alana kini telah terlelap Arini merasa lega mendengarnya.
Seto tak kembali ke hotel, setelah mengetahui Arini tinggal di kota itu ia memutuskan untuk menyewa apartemen yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggal Arini sekarang. Ia masih tak menyangka akan di pertemukan kembali malam ini.
Lelaki itu melepaskan bajunya, dengan bertelanjang dada dan berdiri di guyuran air shower ia mencoba menyegarkan badannya dari peluh akibat pertarungannya dengan para preman tadi. Wanita yang telah di jodohkan dengannya juga terlihat sangat menginginkannya namun Seto tahu wanita itu hanyalah pecinta hartanya saja.
Untuk menyingkirkan wanita itu bukanlah hal yang sulit baginya, ia tinggal menyerahkannya pada Bimo, pasti akan beres. "Arini apa kau sudah bercerai dari Rico? Aku bahkan tadi belum sempat menanyakan ini." gumam Seto seraya menyibakkan rambutnya ke belakang.
__ADS_1
Pada keesokan harinya di kediaman Rico.
Lelaki itu hendak melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, proyek yang di berikan Dio akan di tinjauannya hari ini. Namun lelaki itu agak kurang bersemangat, surat cerai dari Arini kemarin adalah sumber yang membuat ia tak bersemangat hari ini.
"Sayang..apa aku boleh ikut?" tanya Clara dengan masih membalutkan selimut ke tubuh polosnya.
Semalaman penuh wanita itu mengendalikan Rico, sedangkan lelaki itu tidak bersemangat sama sekali namun bukan Clara namanya jika menyerah akan keinginannya.
"Aku bekerja Ra..bukan liburan," jawab Rico sedikit kesal.
"Berapa lama mas..?"
"Belum tahu, paling seminggu aku disana." jawab Rico dengan memasukkan barang yang ia butuhkan.
Suasana rumah tangga Rico dengan Clara serasa hambar, tiada senyuman cantik dan manis seperti senyum yang di miliki istri tuanya dulu. tidak ada hidangan masakan rumahan yang selalu memanjakan lidah Rico, tidak ada lagi sambutan pulang dengan kecupan dari sang buah hati.
Rico kian terpuruk, ia keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar bekas mantan istrinya itu. Mengingat kejadian malam pertama yang ia lalui dan mengingat setiap senyuman Arini.
Tak terasa air matanya menetes, saat menatap surat dari pengadilan itu. hatinya benar benar hampa dan tak bersemangat.
"Arini, maafkan aku..maafkan aku Alana karena keegoisanku yang membuat perpisahan kita. pulanglah sayang aku merindukanmu," gumam Rico dengan menyeka air mata yang keluar membasahi pipinya.
Ia kemudian kembali ke kamarnya untuk mengambil koper, ia menatap Clara sejenak wanita itu menatapnya juga, "ada apa mas?"
"Aku berangkat," pamit Rico tanpa memberikan kecupan pada istrinya itu.
Setelah Rico lenyap dari pandangan, Clara mengumpatinya, ia sangat kesal akan sikap Rico akhir-akhir ini, begitu dingin dan terlihat datar.
"Jika semua telah ku dapatkan, kau pasti akan aku tinggalkan dasar laki-laki tidak berguna!" ucap Clara mengumpati Rico.
Wanita itu sejenak memikirkan Arini, dimana mantan madunya Sekarang, Clara begitu geram ia ingin sekali melenyapkan wanita itu, karenanya Rico jadi dingin kepadanya. Ia juga takut jika Rico mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa dirinya ternyata mandul, itu akan bahaya baginya karena Rico bisa mendepaknya kapan saja jika suaminya itu mengetahui rahasia besarnya, yang selama ini ia tutup rapat. apalagi jika Rico mengetahui ia telah bermain serong dengan rekan kerja suaminya sendiri. tamatlah riwayatnya.
__ADS_1
untuk itu mas Seto dengan segala ketampanan yang dimiliki meminta para ukhti dan siapapun yang membaca kisahnya agar memberikan like komen dan vote, rate juga pastinya klik tombol favorit agar dapat notifikasi jika mas Seto update.
Bersambung….