
Malam harinya Arini tampak murung karena pesan dari Seto yang mengajak dirinya untuk ikut ke luar kota besok. Ia masih sepenuhnya menyadari akan statusnya yang masih bersuami, sungguh tercela baginya jika pergi dengan lelaki lain walaupun itu adalah kekasihnya sekarang.
"Bagaimana ini..ku terima nggak ya ajakan Mas Seto,"
Beberapa pesan dari Seto tak ia respon hanya kini terdengar hembusan nafasnya yang besar dan juga raut wajahnya yang gelisah.
"Tunggu apa salahnya berlibur, sekalian menenangkan pikiran." gumam Arini lagi.
Tapi Arini berpikir lagi, ini adalah keputusan konyol yang pernah Arini buat mungkin memang benar karena dari sakitnya pengkhianatan bisa menjadi seseorang itu dekat dengan kekeliruan.
Kemudian ia mengetikan beberapa pesan dan menerima ajakan Seto untuk berangkat ke luar kota bersamanya tentunya mengajak Alana pastinya.
Di sisi lain Seto selesai makan malam menaruh piring kotor ke tempat semula, karena nanti akan ada yang mengambil dan membersihkannya. Seto sudah rapi dengan mengenakan kaos yang di lapisi dengan kemeja tanpa mengancingkannya. tak henti menatap ponsel Bimo pun memperhatikannya.
"Bos Se apa kau ada rencana keluar?" tanya Bimo namun Seto hanya diam tak menghiraukannya.
"Bos Se..kita mau kemana?" imbuh Bimo.
"Kau tetaplah di sini. Aku akan pergi sebentar menemui Arini." singkat Seto berlalu meninggalkan Bimo.
"Dasar bucin seorang Casanova kalau sudah bucin sungguh menggelikan." gumam Bimo menggerutu kesal.
Tiba-tiba Seto kembali menghampiri Bimo yang berada di kamar hotel.
"Kau mau keluar nggak?" tanya Seto.
"Tidak ada Bos Se..," saut Bimo dengan kaget ia berpikir Seto mendengar ucapannya saat mengutukinya tadi.
Seto mengangguk dan kembali berlalu dari sana. Beberapa saat kemudian Seto pun menghubungi Arini karena kini mobil lelaki itu sudah dekat dengan kediaman kekasihnya.
"Halo sayang.." sapa Seto saat panggilan itu terangkat.
"Iya mas.." sahut Arini dengan agak ragu karena Seto memanggilnya sayang.
"Enggak Rin..aku mau tanya apa sekarang kau sedang bersama suamimu?" tanya Seto balik.
" Enggak mas..kalau malam begini biasanya dia balik ke rumah Clara, jika pulang biasanya pagi untuk sekedar sarapan dan menjenguk Alana." kata Arini memberitahu Seto.
__ADS_1
"Pas..tunggulah sebentar lagi aku sampai di rumahmu." Setelah mengatakan itu Seto mematikan panggilannya tanpa menunggu Arini membalas ucapannya.
Sesampainya di rumah Arini, Seto kemudian turun dari dalam mobilnya. bibirnya tak berhenti tersenyum saat tahu tak kan ada yang menghambatnya untuk bertemu sang pujaan hati.
Tubuh gagahnya telah sampai di depan pintu rumah Arini, tangan kokohnya terulur untuk membunyikan bel.
Beberapa saat kemudian Arini membukakan pintu dan mempersilahkan Seto untuk masuk. " Silahkan duduk mas..aku kedapur sebentar." Seto mengangguk dan Arini berjalan menuju dapur.
Walaupun Seto pernah masuk kedalam rumah Arini sebelumnya, dirinya tidak begitu memperhatikannya kemarin, mungkin bisa di katakan ini adalah kesempatan baginya untuk melihat semua isi dalam rumah itu.
Rumah yang sederhana, bersih dan begitu rapi dengan beberapa hiasan yang menempel di dinding. Foto Alana yang mendominasi ruangan itu, matanya terpaku menatap foto pernikahan Arini dan suaminya walaupun Seto tahu kenyataan bahwa pacarnya itu masih berstatus sebagai istri orang melihat foto yang terpajang di dinding sedikit membuatnya tidak senang.
"Bentar lagi foto itu akan terganti dengan fotoku dan Arini." gumam lelaki itu.
Arini kembali dari dapur dengan membawa nampan yang berisi secangkir kopi dan beberapa cemilan ringan, ia menaruh di hadapan Seto dan mempersilakannya.
"Gimana Rin.. besok?" tanya Seto saat Arini telah mendaratkan tubuhnya di sofa yang terletak di hadapannya.
"Jujur..nggak enak aja mas. Kalau sampai mas Rico tahu," balas Arini dengan raut wajah yang cemas.
"Kan perginya ngajak Alana juga, jika suamimu nanti mencari kalian, itu urusanku."
Apa yang ia yakini terasa tidak yakin, ia tidak merasa benar akan tindakan yang akan ia ambil, yang jadi pertanyaannya apakah nanti jika dirinya ketahuan ia bisa membenarkan perselingkuhannya? atau itu malah akan menjadi beban untuknya di kemudian hari.
Lalu selama ini bukankah Rico tidak memikirkan perasaannya, menyembunyikan semua hal dan saat terkuak begitu menyakiti hatinya.
"Apa kau meragukan semuanya?"
"He-em semenjak menjalin hubungan terlarang denganmu kemarin, rasanya duniaku berubah. tapi anehnya Aku tidak ingin mas Rico mengetahui semuanya." jelas Arini.
"Ah..kau belum terbiasa saja, kalau kau mau kita menikah saja agar kita tidak berselingkuh." ucap Seto serius.
Saat Seto mengatakan itu, mata Arini membulat ia seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Apa kau yakin?" tanya Arini pelan.
Tiba-tiba Seto berdiri menuju sofa yang Arini duduki.
__ADS_1
Jelas saja Arini kelabakan, takut Seto berbuat macam-macam mengingat dirinya hanya bersama Alana saja di rumah.
Belum sempat Arini mencegahnya, Seto telah berhasil duduk di sampingnya. sedangkan Arini memejamkan matanya membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tapi dirinya tak merasakan sentuhan apapun, untuk apa Seto berpindah ke sisinya? mungkin pikirannya lah yang terlalu berlebihan.
Arini yakin jika Rico melihat bisa-bisa Seto akan baku hantam nanti dengannya.
Arini lantas menggusur tubuhnya sedikit menjauh dari Seto untuk menjaga jarak, melihat tingkah Arini yang begitu Seto terkikik. Ia mencoba menebak apa yang di pikirkan Arini sekarang, suatu pikiran yang berlebihan.
"Arini."
"Ah..iya mas?"
"Bagaimana? besok ikut ya.."
" Aku akan memikirkannya, akan ku kabari nanti secepatnya."
"Kenapa tidak sekarang saja?" Seto begitu tidak sabaran, dirinya selalu di buat menunggu oleh kekasihnya itu.
"Kemarilah.." ucap Seto seraya menepuk celah kosong di antara Arini dan dirinya.
"Emmm.." Arini tampak ragu.
Jelas saja kelakuan Arini membuatnya menghela nafas, Arini terlalu lama berpikir tidak mungkin juga bagi Seto mempermainkannya namun begitulah meminta kepercayaan Arini adalah hal yang perlu untuk di sabari.
"Rin.." Panggil Seto dengan menggeser tubuhnya jelas saja hal itu membuat Arini panik.
Laki-laki tampan dengan bola mata indah, dalam keadaan sepi wanita itu takut jika sesuatu akan terjadi, masih ada rasa canggung yang mendominasi dirinya. jelas saja hubungan terlarangnya dengan Seto mendadak dan seolah hanya kesepakatan walaupun dirinya tidak memungkiri Seto sedikit mewarnai harinya.
Arini langsung menelan salivanya, saat tangan Seto menyentuh tangannya, badannya mendadak tegang, seolah ia kesulitan untuk bergerak. Berbeda dengan Arini dalam hati Seto, ia melonjak riang karena dirinya berhasil menggoda sang kekasih. tidak ingin berbuat lebih, Seto hanya ingin melihat wajah tegang Arini yang begitu menggemaskan baginya.
Mereka menghabiskan waktu hanya untuk membahas kesediaan Arini untuk ikut bersamanya tentunya mengajak Alana juga.
sedangkan di kediaman Clara wanita itu sedang bersujud mencoba mohon ampun dari Rico, beberapa barang telah terbangun tak terkecuali ponsel Clara yang kini hancur berserakan.
Bersambung....
__ADS_1
masih adakah yang mengharapkan part selanjutnya?
jangan pelit like komen rate dan vote 😉