
Alana telah terlelap baru saja, Arini mencium kening putrinya itu kemudian dengan pelan-pelan ia turun dari ranjang, ia membaca ulang chatingan yang di kirimkan Seto tadi, sudah hampir setengah jam ia menunggu Seto seharusnya lelaki itu sudah sampai di rumah om nya sekarang. namun Arini berpikir mungkin Seto masih sibuk dengan pekerjaannya dan ia menunggu Seto sambil mengotak-atik laptopnya.
Kini butik Zolany telah berubah menjadi Alana butik, istri dari om Atmojo itu sengaja menghadiahkan butiknya sebagai rasa sayangnya terhadap Arini dan Alana yang sudah di anggapnya sebagai anak dan cucunya sendiri.
Ia cukup bahagia sekarang, karena di kelilingi oleh orang baik seperti om Atmojo dan istrinya. Ia masih berkutat dengan laptopnya hingga tak sadar sudah dua jam lebih Seto tak juga Hadir menemuinya.
Sementara Rico ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu, karena Clara tadi menelfonnya merengek agar dirinya pulang. ia malas berdebat dengan istrinya itu tak ada pilihan lain akhirnya ia menurut saja untuk pulang.
Rico telah sampai di rumahnya, ia segara turun dan mengetuk pintu tak selang berapa lama Clara turun dari tangga dengan keadaan yang masih mengantuk. setelah pintu terbuka Rico menyelonong masuk tanpa menghiraukan Clara.
Kemudian Rico mendudukkan pantatnya di sofa, menaruh tasnya sembarangan dan melepaskan sepatunya, Clara melewatinya dan menuju dapur, lalu membuka pendingin dan meminum air dari situ. meskipun kini Rico telah pulang keadaan rumahnya sangat sepi seperti tak berpenghuni.
Rico sangat kesal sebab pertemuannya dengan Dio terganggu karena Clara sedari tadi terus menghubunginya, membuat Dio agak sedikit kesal dan menyuruh Rico untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.
Clara merasa terasingkan, sebab Rico tak seperti biasanya. biasanya setiap pulang lelaki itu menyapa Clara dengan senyuman indahnya, memeluknya dan menciuminya beberapa kali. tapi semua itu kini menghilang itulah yang membuat dirinya tidak nyaman. ia beralih duduk di depan Rico sambil meminum air dingin itu.
Sedari tadi Clara memperhatikan suaminya yang masih membisu, ingin sekali ia bertanya "kamu kenapa?" tapi entah melihat sikap Rico yang sekarang kata-kata sederhana itu tak mampu lolos begitu saja dari tenggorokannya. seperti ada sesuatu yang menghalanginya, tentu saja egonya yang terlalu besar.
Merasa telah melepaskan sepatu dan bajunya, Rico beranjak dan menaiki anak tangga untuk menuju kamar, Clara yang melihat itu semakin bingung, Rico benar-benar telah mengabaikannya. ia tak rela Rico bersikap seperti ini kepadanya.
matanya mulai memerah, Clara menunda menyusul rico karena tak ingin meneteskan air mata di hadapan suaminya. ia melangkah menuju wastafel dan meletakkan gelas kotor disana.
Clara sangat marah karena telah di abaikan oleh Rico.
Di hotel.
__ADS_1
Bimo pura-pura mabuk untuk mengelabuhi Dea, lelaki itu juga begitu geram dengan sikap Dea yang mempermainkan Dio, demi melampiaskan kemarahannya karena di tolak Seto wanita itu berpura-pura mencintai Dio dan menerimanya hanya semata-mata untuk menemani di saat wanita itu merasakan kesepian kata tepatnya adalah menjadikan Dio kekasih bayangan.
Saat ini Dea sedang merayu Bimo, agar mendapatkan identitas kekasih Seto, Bimo berpura-pura mabuk berat dan tak mampu menjawab pertanyaan Dea dengan benar.
Dea nampak kesal karena Bimo begitu payah tak bisa memberikannya informasi dengan benar, kemudian ia berniat meninggalkan Bimo dengan mengumpati lelaki itu.
"Menyesal aku berdandan begini, yang menemaniku malah Manusia tidak berguna sepertimu. Aku pasti akan bisa menemukan identitas kekasih Seto secepatnya dari Dio haha," ucap Dea dengan tertawa menyeringai.
Saat hendak melangkah keluar, tangan Dea di tarik oleh Bimo, hal itu membuat Dea begitu panik, ia takut Bimo akan berbuat khilaf padanya.Karena yang ia tahu saat ini lelaki itu sedang mabuk.
"Apa yang kau katakan? aku lelaki tidak berguna.. rupanya kau sengaja datang ke kamar ini hanya untuk menggoda Bos Se, mimpi kamu!" bentak Bimo.
"Umm..," Dea tergagap "bukannya kau mabuk, aku hanya bercanda tadi kenapa kau jadi semarah ini, seharusnya kau mendukungku bukannya mendukung wanita tidak jelas asal usulnya yang di pilih Seto."
Bimo semakin meremas tangan Dea hingga wanita itu meringis kesakitan, baginya apapun yang menyangkut Seto adalah urusannya.
"Kau sudah melakukan tipuan yang sangat memalukan, hanya demi lelaki yang tidak membalas cintamu, kau sadar? kau terlihat menjijikkan dan tidak punya harga diri sekarang."
Deg.
Tubuh Dea menegang, ternyata mulut Bimo lebih pedas dari yang ia duga, ia begitu tertampar akan ucapan lelaki itu, begitu sadis dan tajam setajam silet.
"Berani-beraninya kau berkata begitu kepadaku, apa kau tidak memiliki kaca, kau hanya jongosnya Seto, bahkan derajatmu tidak selevel dengan kami." bentak Dea.
Bimo ingin sekali menyobek mulut wanita yang beracun itu, tapi ia masih mencoba mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Heh," Bimo menyunggingkan senyumannya, ia melepaskan tangannya, kemudian berjalan mengelilingi wanita itu. " sebenarnya kau memiliki rasa malu apa tidak? bukankah lebih baik seperti diriku, menyadari segalanya? daripada kamu tidak bisa Mikir sudah tau di tolak masih saja ngotot, kau lupa menjalin hubungan itu harus di setujui oleh dua orang."
Tatapan kebencian dari Dea dan Bimo beradu.
"Kau yang tidak tahu malu, kau hanya jongos tapi kau berlagak yang lebih tahu hidupnya Seto, aku sudah dekat dengannya sejak kecil, bahkan aku tahu seluk beluk tentangnya." Dea tak mau kalah juga dari Bimo.
Bimo melipat tangannya di atas perut, "wow..aku sangat takjub mendengarnya," Bimo tersenyum dengan santainya.
Kemudian Bimo berbisik di telinga Dea.
"Walaupun kau menemaninya sepanjang zaman akan kalah sama yang bikin nyaman!"
"Apa?" batin Dea langsung sakit dan remuk.
"Apa kau tahu, Seto adalah lelaki jantan yang mendamba akan surga dunia, ia telah meniduri beberapa wanita yang body dan karakternya jauh lebih panas darimu. contohnya adalah calon istrinya sekarang mereka sering melakukan adegan panas di atas ranjang. bahkan saat sudah sampai klimaksnya Seto selalu bercerita kalau wanita itu sangat menggoda, d*sahan dan keringatnya. Bahkan wanita itu mampu menjinakkan seorang Seto di atas ranjang." ucap Bimo memanas-manasi Dea.
Jleb..
Wajah Dea merah padam, ratusan juta anak panah seolah menembus ke tubuhnya secara bersamaan nafasnya pun sangat-sangat sesak. Ia tidak bisa menerima kenyataan, ini terlalu sakit baginya, cintanya kandas terkalahkan oleh wanita yang membuat Seto nyaman di atas ranjang.ia tak mampu membalas ucapan Bimo karena ini menyangkut tentang plus-plus.
Dea sudah kalah telak.
Harapannya untuk memiliki Seto bak memeluk gunung tiada daya karena tangan tak sampai.
Setelah mengatakan itu Bimo kembali menarik tangan Dea, menghempaskan tubuhnya hingga keluar dari kamar, ya..Bimo mengusirnya secara tidak hormat.
__ADS_1
bersambung...
ingat ya berikan aku komentar positif yang mendukung jangan menyudutkan.. kata mas Bimo yang meminta agar para pecinta istrimu Adalah Pilihanku untuk like komen rate dan vote 😘