Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 85.


__ADS_3

Hari demi hari berlalu berganti bulan, setiap pagi hingga matahari terbit lagi,  Rico hanya terduduk sambil menatap hampa ke arah luar jendela. Ia tak berselera makan, beberapa hari yang lalu mobilnya juga telah terjual. 


Tubuh Rico yang semula bugar pun kini mulai layu, tubuhnya juga sedikit menyusut karena pola makannya yang tidak teratur dan jarang makan itu. Rico telah kehilangan semuanya, Arini yang meninggalkannya karena keserakahannya sendiri, Begitu juga dengan Clara yang terang-terangan tidak menginginkannya lagi karena keegoisannya juga. Rico benar-benar kehilangan sosok keduanya dalam hidupnya.


Sifat buruk Rico yang serakah dan selalu menganggap remeh membuat dia kehilangan pendamping yang benar-benar tulus mencintainya. Namun nasi sudah menjadi bubur, semua hanya pada kemurahan hati Author bukan?. tetapi kehilangan sosok Clara membuat luka dan kerinduan hati yang perlahan menggerogoti hatinya.


Hari pun terus berganti, hingga semua yang di miliki Rico perlahan habis terjual, tinggal rumah dan baju yang ia punya saat ini serta lemari pendingin, perlahan dan pasti Rico telah bangkrut, beberapa kawan telah ia hubungi namun hasilnya nihil tidak ada satu pun yang memberikannya pekerjaan.


Tiba-tiba perutnya sangat lapar, ia mencoba turun mencari sisa makanan yang ada di dalam kulkas, sesampainya di benda pendingin itu Rico tak menemukan apapun, ia mendesah pasrah, rasanya tuhan begitu memberikan teguran kali ini padanya. Karena beberapa hari Rico tidak mandi, ia pun merasakan tubuhnya sangat lembab dan kotor.


Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah merasa tubuhnya kembali segar, Rico bergegas berpakaian rapi, ia harus berusaha lagi untuk mencari pekerjaan, kalau ia malas-malasan, bisa di pastikan rumah yang ia tempati sekarang akan terjual juga nantinya, lalu ia akan tinggal dimana? Pikiran Rico selalu berpusat pada itu.


🌹🌹🌹🌹🌹


Saat ini Arini dan Seto masih tertidur di atas ranjang dengan selimut bulu yang menutupi seluruh tubuhnya. Kamar tidurnya sangat berantakan, semalam untuk pertama kalinya Arini dengan agresif meminta jatah batin kepada suaminya itu.


Tentunya hal itu di turuti dan dilakukan Seto dengan sangat lembut, mengingat saat ini di dalam perut istrinya ada buah cinta yang selama ini ia harapkan kehadirannya.  Saat ini Arini masih meringkuk di pelukannya, ia mengingat kejadian semalam,  untuk pertama kalinya Arini yang memimpin membuat Seto tersenyum-senyum sendiri di buatnya.


"Sayang,ayo bangun! " seru Seto, sambil menciumi punggung Arini.


Arini menggeliat, kemudian Arini merenggangkan otot-ototnya, saat ia membuka mata senyuman manis dari Seto menyambutnya. Arini pun begitu ia membalas senyuman dari suaminya itu.

__ADS_1


"Mas, pundakmu sedikit luka, apa semalam aku menyakitimu?" tanya Arini saat tak sengaja melihat pundak Seto terluka bekas cakaran kukunya, Arini pun merasa bersalah.


Seto ikut meneliti pundaknya, kemudian ia mengatakan tidak untuk pertanyaan Arini tadi, " hmm..apakah punyaku terlalu besar? hingga sudah berulang kali kita melakukannya kau tetap saja kesakitan dan mencakar pundaku?" tanya Seto dengan senyum bangganya.


Arini mengangguk cepat. Kemudian ia memeluk tubuh Seto di dalam selimut tebal itu. karena Arini sangat malu dengan pertanyaan frontal dari Seto, di balik selimut pipi Arini memerah dengan senyuman kebahagiaan yang mendominasi wajahnya.


"Bulu di dadanya begitu membuatku geli, namun justru bulu inilah yang membuat mas Seto terlihat menawan dan seksi," gumam Arini dalam hati ia begitu candu dengan tubuh seksi milik suaminya itu.


"Ayo bangun sayang!" ajak ulang Seto, sambil tangannya jail menyelinap masuk ke dalam selimut mengelus lembut dua semangka yang sudah terlihat ujungnya berdiri menantang itu.


"Mas. Bagaimana aku bangun kalau tanganmu nakal seperti ini." Arini dengan lembut mulai menyingkirkan tangan kokoh yang membuat jantungnya berdebar-debar itu.


Kali ini Seto menurut, lalu mereka berdua sama-sama beranjak, Seto masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Arini kembali memungut pakaiannya yang semalam di buang ke lantai itu. Ia sekilas membayangkan, bisa-bisanya ia minta jatah duluan, sungguh memalukan. Saat hendak memakai kembali bajunya, ia melihat tubuhnya ia benar-benar tidak percaya "aku minta jatah duluan, malunya aku." gumam Arini dalam hati.


"Lho. Sudah selesai mas? Mandi apaan baru lima menit udah selesai, apa kali ini kau sedang memakai ilmu kucing yang tidak berani berlama-lama kena air?" tanya Arini terheran, dengan mengangkat alis kirinya.


"Dingin sekali, mendadak aku tidak suka mandi." 


Mendengar alasan Seto barusan, Arini hanya menggelengkan kepala, semenjak ia hamil Seto banyak sekali mengalami perubahan. Dari nyidam yang seharusnya di alaminya, serasa dunia terbalik. suaminya itu yang merasakan mual, malas-malasan, bahkan ritual yang selalu di lakukan lama oleh Seto yaitu mandi kini mendadak berubah drastis.


"Sini aku bantu memakai baju mas?" Arini bergerak mendekati Seto yang sedang menahan hawa dingin yang membuatnya mengigil itu, Arini membantu membukakan kancing kemeja lalu memakainya di tubuh kekar suaminya.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri, sudah lanjutkan kegiatanmu." ucap Seto saat Arini hendak membantunya lagi.


Arini mengangguk, lalu ia bergegas masuk kedalam kamar mandi. tak selang berapa lama Arini keluar dengan rambut yang tergerai basah. Seto sedang memakai sepatu, lalu ia berdiri dan berkata " Mah..aku ke kamar Alana dulu ya.." 


Semenjak Arini hamil, ia memanggil istrinya itu dengan sebutan kata mama. Arini mengangguk, lalu ia menjawab "aku akan menyusul ke bawah sebentar lagi." 


Acara sarapan dengan anak istri telah selesai, lalu Seto berpamitan untuk berangkat ke kantor. "Papa berangkat ke kantor dulu ya sayang." pamit Seto kepada Alana. saat ini Alana sudah bisa berjalan sendiri. walaupun masih harus dengan pantauan ekstra takut saja kalau gadis mungil itu berjalan sendiri dan terjatuh.


Seto sangat gemas kepada putrinya itu, ia menciumi pipi bulat Alana tanpa ampun, hingga gadis itu merasa tidak nyaman dan menangis. Tak lupa juga Arini meraih punggung tangan Seto dan menciumnya.


Ia melihat tubuh Seto perlahan menjauh dari pandangannya, dalam balutan jas berwarna hitam, Seto tampak bermatabat dan elegan.


Gagah, mewah, dan mempesona sungguh Arini sangat beruntung memilikinya.


Meski begitu, Arini agak sedikit khawatir padanya, dengan jadwal pekerjaannya yang semakin padat, terlebih sekarang makanan yang masuk kedalam tubuh suaminya itu sangat sedikit karena sering kali ia muntah setelah memakannya.


Sementara itu setelah berkeliling, Rico bersandar di bangku taman, dia merasakan sakit dan sakit di sekujur tubuhnya. Perutnya juga keroncongan, ia mengambil dua tablet obat untuk mengurangi rasa perih di perutnya. tetapi rasa sakit itu tidak hilang walaupun Rico sudah menelan obatnya.


"Aku lapar sekali," gumam Rico ia melihat dompetnya hanya tersisa uang pecahan seratus ribu. Lalu ia mendesah, ternyata jadi pengangguran itu sangatlah memuakkan.


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like komen rate dan vote agar cerita ini berlanjut salangheyo 😘


 


__ADS_2