Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 95.


__ADS_3

Bimo duduk di sofa kemudian meraih bungkus rokok yang tergeletak di atas meja, dan mengambil isinya sebatang, membakarnya kemudian menyesapnya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Seto.


"Kalau saja dia tidak masuk rumah tadi, sudah aku ratakan mukanya." ucap Bimo masih terlihat jelas guratan kesalnya di wajah.


Seto dan Dio terbahak-bahak mendengar penuturan Bimo barusan, "memangnya apa yang dia katakan, hingga memprovokasimu seperti itu?" 


Kemudian Bimo menceritakan apa yang Rico katakan tadi padanya, Seto yang mendengar itu mendadak juga tidak suka, Seto juga mengambil sebatang rokok dan membakarnya, tetapi tidak merokok, hanya membiarkan rokoknya menyala, beberapa saat kemudian Seto angkat bicara, " Sepertinya lelaki brengsek itu, butuh sebuah kejutan. Bim siapkan kejutan untuknya!"


"Oke." Bimo tak pikir panjang, menerima perintah Seto.


Seto mengangkat tangannya, rokok yang ia biarkan menyala tadi akhirnya ia hisap dengan mengeluarkan asapnya, Seto hanya berpikir bagaimana bisa memberikan pelajaran yang berarti untuk Rico, cara halus ia rasa tidak efektif untuk menghadapinya. Ia telah membuat Rico miskin secara perlahan, namun nyatanya lelaki itu masih saja mendapatkan peluang harapan.


Seto terpikirkan salah satu ucapan mendiang ayahnya dulu, " orang tidak akan pernah berubah, jika dirinya belum merasakan benar-benar kehilangan." 


Benar saja, apa yang terjadi sekarang, rupanya Rico belum juga merasakan kehilangan.


Rico menjawab telepon..


 " Dimana kau sekarang?" Dea segera bertanya, setelah telepon tersambung.


"Aku di rumah kenapa?" 


"Jangan mau enaknya saja ya, cepetan jemput aku di hotel."


Rico agak ragu-ragu, " jemput pakai apa? Aku tidak punya mobil mendingan kamu pesen taksi online saja."


"Bodo amat, aku nggak mau tahu." Kemudian Dea menutup telepon, sebelum Rico menyahuti lagi ucapanya.


Rico melirik telepon, mendengus, dan membuang ponselnya di atas sofa, lalu memaki " dasar betina menyusahkan. Monyet!" 


Rico tidak peduli, ia tidak mau ambil pusing persetan dengan Dea yang akan marah nanti padanya, kenyataannya memang dirinya tidak memiliki kendaraan sekarang.


Sementara itu setelah beberapa lama, Rico tak juga menampakkan batang hidungnya, Dea sangat kesal, mau tidak mau ia akhirnya memesan taksi online, karena semalam ia datang ke hotel ini juga menggunakan taksi online. Ia pikir Rico memiliki mobil, ternyata lelaki yang baru saja menghabiskan malam dengannya itu sangatlah menyedihkan, miskin tidak mempunyai apa-apa.

__ADS_1


Dea terdiam, ia sadar saat ini dirinya ternyata di manfaatkan oleh Rico. Dea sangatlah kesal, setelah menikmati tubuhnya Rico meninggalkannya begitu saja.


Dea keluar dari kamar hotel itu, menutup pintu lalu berkata di telepon " hotel kencana pak, ya saya tunggu di lobby."  Saat ini Dea sedang menelepon supir taksi online itu.


Waktu terus bergulir, hari berikutnya..


Jam 5 pagi.


Hari masih gelap ketika Arini terbangun.


Alana masih tertidur, Arini menarik selimut yang jatuh ke bawah tempat tidur, sepertinya bocah kecil itu yang tidak sengaja menendangnya.  cuaca beberapa hari ini begitu panas untungnya ruangan ini ada AC, jadi Arini tidak begitu kepanasan.


"Nyonya, pak Seto meminta anda untuk menemuinya." ketika keluar dari kamar Alana salah seorang pelayan datang menemuinya.


"Ada apa?" tanya Arini penasaran.


" Pak Seto tidak mengatakan apa-apa." 


Arini mengangguk, lalu berjalan menuju kamarnya. Ketika Arini sudah sampai, terlihat suaminya itu sedang mengancingkan bajunya.


Arini berjalan mendekat, lalu ia mengulurkan tangannya secara otomatis untuk membantu mengancingkan baju Seto.


Seto memperhatikan jari-jari istrinya dengan lincah mengancingkan kemejanya. " Mas..sepagi ini sudah rapi mau kemana?" 


Malam tadi memang Arini meminta untuk tidur bersama putrinya, Seto hanya bisa mengiyakan keinginan Arini walaupun sejujurnya tidur tanpa ada wanita ini rasanya sangat buruk, namun ia juga tidak boleh egois, Alana juga membutuhkan kasih sayang dari ibunya. Apalagi semenjak tinggal bersamanya, Alana harus tidur terpisah dengan Arini.


" Aku harus ke luar kota hari ini, ada beberapa kendala di salah satu kantor cabang." 


"Mengapa mendadak sekali, apakah masalahnya sangat serius?" Arini menatap Seto, ia khawatir dengan suaminya itu.


"Bukan masalah besar, jangan khawatir. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" 


Arini tampak berfikir, lalu Seto menatap Arini dalam-dalam " jika ada sesuatu yang kamu inginkan, nanti telepon saja dan..jangan biarkan mantan suamimu mendapatkan celah sedikitpun untuk bisa menyentuh kalian." 

__ADS_1


Saat mengatakan menyentuh kalian, terdengar Seto sangatlah serius, dan tulus mengkhawatirkan tentang keduanya.


Arini mengangguk, tanpa Seto meminta ia telah memikirkan ini, ia sangat membenci Rico, kebenciannya pada lelaki itu menumpuk dari hari ke hari mengingat apa yang telah lelaki itu lakukan dulu padanya.


"Cuaca beberapa hari ini sangat panas, jagalah kesehatan mas?" 


Seto mengangguk, lalu kemudian ia meraih pinggang Arini ia mendengarkan Arini sangat khawatir tentangnya dan berkata " aku akan berhati-hati."


Arini menarik nafas, kemudian Seto melanjutkan


"Masalah tentang Rico tidak bisa aku anggap sepele, karena lelaki itu tidak pernah merasa menyesal sepertinya."


Arini terdiam, ia merasakan hatinya sangat sedih, bayang-bayang tentang mantan suaminya masih saja mengusik ketenangan rumah tangganya saat ini.


"Jadi apakah mas Seto telah memperingatkannya?" Arini bertanya sangat pelan.


"Kemarin."  Seto berhenti untuk waktu yang lama kemudian melanjutkan " aku telah menyuruh Bimo untuk memperingatkannya, dan dia telah bekerjasama dengan Dea."


Seto merasa enggan dan menambahkan. " Tapi aku belum tahu apa yang mereka rencanakan, tapi bukankah tujuan utamanya adalah aku dan kamu, orang seperti itu biasanya akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya. Jadi.."


Arini mengangguk kemudian berkata " Mas tenang saja, aku akan lebih berhati-hati, dan sepenuhnya percaya padamu."


Lalu Seto tersenyum dan menciumi puncak kepala Arini beberapa kali, setelah beberapa saat Bimo datang dan Seto pun berpamitan.


Dea masih sangat kesal kepada Rico, namun dirinya tidak mungkin memaki lelaki itu, jika ia menyinggung perasaannya, bukankah lelaki itu akan berhenti bekerjasama dengannya untuk menghancurkan rumah tangga Seto dan Arini, itu bukan hal yang ia harapkan.


Berbaring di tempat tidur, Dea belum mengantuk sama sekali, padahal malam panjang tadi ia begadang, memikirkan rencana selanjutnya yang akan ia gunakan, dia selalu menatap telepon dari waktu ke waktu, dia sedang menunggu berita terupdate dari kantor Permana group.


Tetapi ketika ia mengeceknya beberapa kali, tidak ada notifikasi. Setelah merasa bosan ia akhirnya mengantuk dan beberapa saat pergi ke alam mimpi.


Dalam mimpinya, dia menghadapi celaan dan pertanyaan semua orang, dia kehilangan rasa hormat dan kepercayaan dari orang-orang. Seto semakin menjauh darinya, begitu juga dengan beberapa teman yang dulunya selalu mengisi hari-harinya.


Nampak dalam mimpinya, Seto berjalan dengan Arini, dalam sebuah tempat. Orang-orang menyukainya dan mendukung hubungan mereka. Berbeda dengannya ketika ia hendak mendekati keduanya ia di tendang dan di usir oleh seseorang.

__ADS_1


Bersambung....


duh mana nih pecinta mas Seto..butuh dukungan dong dengan cara like komen rate dan vote


__ADS_2