
Seseorang telah masuk dan berjalan mendekat, langkah lelaki itu nampak tenang walaupun ia mengetahui ponselnya telah berpindah tempat di genggaman Dea.
Merasa kepergok, suasana hati Dea menjadi tidak enak, bagaimana tidak ia dengan sengaja menjawab panggilan di ponsel Dio yang kini telah berdiri di sampingnya.
Merasa Dea hendak berkata ragu-ragu, Dio memahaminya dan mempersilahkan untuk berterus terang.
Dea menghela nafas ragu-ragu. Lalu Dio berkata " jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, silahkan."
Dea menyodorkan ponsel Dio, lalu Dio pun meraihnya " maaf, aku telah lancang menjawab teleponmu."
Dio mengerti dan mengangguk " tidak apa-apa."
Mendengar kata-kata Dio, Dea sangat lega dengan wajah pucat dan suara yang masih sangat terdengar lemas ia berkata " Aku dulu telah menyia-nyiakanmu. Kini aku ingin mengucapkan terimakasih karena setelah apa yang aku lakukan terhadapmu, kau masih saja bersikap baik padaku. Kau adalah orang yang sabar dan bisa di andalkan."
Dio benar-benar ingin menghindari topik ini, terutama tentang hal yang berkaitan menyangkut kisah masa lalu dengannya.
Jadi Dio hanya tersenyum tipis " jangan banyak berbicara dulu, beristirahatlah. dan aku akan pulang sekarang, aku akan mengunjungimu lagi nanti setelah beristirahat sebentar di apartemen."
Merasa Dio berusaha menghindari topik ini, Dea tidak melanjutkan dan ia pun juga tidak bisa menahan agar Dio tidak pergi, ia tidak memiliki hak atas itu jadi dia mempersilakan.
Dio pulang dengan perasaan berkecamuk, ia mengendarai dengan mencengkeram kuat setir mobil.
Lalu ia menepikan mobilnya dan mengecek siapa orang yang menelepon tadi, nama "wanita itu" dalam daftar panggilan terakhir.
Dio berusaha untuk menghubungi nomor itu, tapi teleponnya hanya berdering sekali, dan kemudian ditolak oleh seseorang tanpa ragu-ragu.
Dio menghela nafas, ia dapat menduga pasti terjadi kesalah pahaman.
Suatu malam telah berlalu.
"Ahch… Bim ini sakit sekali." ucap Hana mendesis.
" Tahanlah, memang di awal-awal sedikit sakit." Bimo mencoba menyakinkan Hana dengan mencium bibir istrinya itu agar mengurangi rasa sakit.
"Argh…" Bimo tiba-tiba berteriak kesakitan.
"Aku yang kesakitan, mengapa malah kamu yang berteriak?" tanya Hana.
"Kenapa malah mengigit? Apa kau jelmaan siluman Vampir?" Seru Bimo seraya memegangi bibirnya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Ini sakit sekali Bim." ucap Hana begitu memelas.
"Aku tahu. Makanya nurut apa yang aku intruksikan." Seru Bimo kini ia merasakan bibirnya sedikit berdarah.
"Tahu apa? Memangnya kamu aku, coba jadi aku pasti rasanya menyakitkan." seru Hana.
"Kau ini cerewet sekali. diamlah! Perlahan dan pasti rasa sakit itu akan hilang." Bimo melanjutkan niatnya kembali.
Hana merasakan tubuhnya terhentak dengan kasar, ia memejamkan matanya dan air mata mengalir di sudut matanya saat di rasa milik Bimo telah menerobos masuk lebih dalam hingga berhasil membobol segel yang selama ini ia jaga.
"Bim.." Hana mencengkram dan mencakar dada Bimo dengan kukunya hingga rasa perih dan bekas merah seketika nampak.
"Sekarang malah mencakar? Apa selain kau memiliki kemampuan menjadi vampir kini kau juga menguasai ilmu manusia harimau?" Bimo mendesis akan rasa perih yang ia rasakan di dadanya, kuku Hana benar-benar telah melukainya.
"Maaf. Habisnya ini sakit sekali." Jawab Hana seraya terkekeh.
Bimo dan Hana merasakan gelayar baru di tubuhnya. Keringat Bimo menetes dan membasahi tubuh polos Hana, gerakan maju mundur yang semakin cepat membuat Hana berulang kali mendesah dengan di iringi deritan ranjang yang memecah keheningan kamar pengantin baru itu.
Setelah di rasa tidak dapat menahannya lagi, Bimo melepaskan Kenikmatan itu dan menciumi kening Hana berkali-kali, kemudian Hana terlelap terlebih dahulu karena dia kehabisan tenaga.
2 Minggu kemudian.
Saat mendengar Dea sudah boleh pulang, Dio merasa lega, dia di undang oleh Dea untuk makan malam di rumahnya, dan Dio tidak enak jika menolaknya akhirnya dia bersedia datang.
Setelah makan malam hari menjadi gelap.
Dea memakai tongkat, dan bersikeras mengantarkan Dio sampai di depan pintu. setengah perjalanan menuju pintu, Dio berkata " sampai sini saja, kau belum sepenuhnya sembuh jadi jangan memaksakan diri."
Dea berhenti dengan menatap Dio, sorot matanya memancarkan harapan.
Dia tahu, setelah ini Dio tidak akan lagi bertemu dengannya, lelaki itu sudah pasti tidak akan bersedia menemuinya seperti sekarang.
Dio menghindari tatapannya " jangan terlalu banyak berpikir, dan banyaklah beristirahat agar lukamu segera pulih."
Kemudian Dio melangkah meninggalkannya, namun Dea tiba-tiba menarik tangannya dan memegangnya dengan erat.
"Dea..kamu.."
"Jangan menolaku, kali ini aku sedang terluka, jadi kau tidak bisa menghempaskan tangan ku." Dea mengingatkannya.
__ADS_1
Dio menghela nafas dan bergumam " Dea, seperti yang aku katakan dulu, bagiku semuanya telah berlalu, jadi di masa depan aku tidak bisa bersikap seperti di masa lalu."
Dea tersenyum pahit " Dio kamu sangat kejam."
Kali ini Dio melepaskan tangan Dea dengan halus kemudian ia bergegas meninggalkan wanita itu tanpa ragu-ragu.
Di sisi lain.
"Betapa rumitnya hidup yang aku jalani." keluh Rico setelah ia di tolak lagi dalam interview.
Semua orang mengenal Seto, lelaki yang sangat di bencinya itu melebihi seorang superstar, bahkan setiap kantor tidak mungkin tidak mengenalnya sangatlah menyulitkan untuk masa depan bagi Rico.
Setiap kantor mengatakan dia adalah masalah, jadi setiap kontraktor tidak berani memperkerjakannya. Sebagai orang yang pernah menjadi pengatur, ini adalah sebuah hinaan baginya.
Sementara ia masih memikirkan dendam dan selalu merasa tidak puas, di sisi lain putrinya telah tumbuh dengan baik, di dalam asuhan Seto serta kasih sayang Arini.
Seperti malam ini, di tengah malam Galang terdengar menangis karena haus, Alana yang kebetulan tidur di kamar mamanya itu ikut terbangun akan suara Galang.
Alana adalah gadis kecil yang pintar dan mengemaskan, dia bisa menarik perhatian semua orang, ketika anak dan ayah itu di sandingkan mereka mampu menarik semua perhatian orang.
Arini entah bagaimana puas dengan itu, Alana yang memiliki sifat yang lebih dewasa dari umurnya telah paham, adiknya haus dan meminta susu, jadi ia membangunkan papanya yang kala itu masih setengah sadar, antara tidur dan bangun.
"Papa, tidakkah tidulmu telganggu? Mengapa masih pula-pula tidur.?"
"Aku telah berusaha keras untuk pura-pura tidur, tapi rupanya putriku ini sangat pandai mengamati eksepsi seseorang, di lain waktu aku tidak akan berpura-pura lagi." keluh Seto dan Arini pun di buat tertawa oleh keluhan suaminya.
Sedangkan gadis kecil itu kembali merebahkan diri, setelah memastikan papanya bangun, " Lana, mengapa kau kembali tidur?"
"Aku anak kecil, dan aku tidak bisa membuat susu, jadi apa yang bisa aku lakukan? " Kata Arini seolah Alana lah yang menjawab.
Seto hanya mampu menepuk jidatnya.
setelah kejadian 2 Minggu yang lalu kesalah pahaman antara Dio dan nama " wanita itu" di kontak ponselnya masih belum memiliki titik terang, namun Dio bukanlah Dio yang dulu, kini ia menjadi sosok lelaki yang tidak terlalu memikirkan, sikapnya tenang namun karena itu dirinya di cap sebagai lelaki yang kurang peka menurut sebagian wanita.
Bersambung.....
Tadi mau update pagi.. tapi tiba-tiba naskah mendadak ke delete saat ponselku ngeblenk jadinya aku harus ngetik ulang dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama, aku tinggal dulu beli es Boba, telur gulung, keripik singkong pokoknya cemilan buat nyogok otak aku deh wkkwkwkw.
jadi aku minta karena aku udah update like komen rate dan vote ya biar aku makin semangat 🤭🥰🌹
__ADS_1