
Bimo,Dio dan Dea sedang berada di coffe shop milik hotel tersebut, yang letaknya di lobby front office. mereka melakukan pertemuan untuk membahas proyek pembangunan mall yang sebentar lagi di garapnya dengan Rico.
Sudah hampir satu setengah jam lebih mereka membahas masalah proyek itu sesekali Bimo memperhatikan Rico yang raut mukanya terlihat tidak bersemangat.
Wajah Rico terlihat agak tidak tenang, seakan ada yang menggangu di hati dan pikirannya, tentu saja sosok sang mantan istri dan putri nya yang berada di pikirannya sekarang.
"Kenapa aku begitu merindukan Arini, dan juga Alana." gumam Rico dalam hati dengan tatapan matanya yang begitu kosong.
"Pak Rico, apa anda baik-baik saja?" tanya Dio
"Ehm..iya pak Dio saya baik-baik saja." jawab Rico.
Bimo hanya memperhatikan dengan sesekali menyesap kopinya yang terlihat masih mengepul mengeluarkan asapnya.
"Istri saya sebenarnya tadi ingin ikut, tapi saya larang, saya berpikir ini adalah pertemuan antara laki-laki, tidak tahunya pak Dio membawa ibu Dea." kata Rico.
"Calon istri pak direktur sebenarnya juga ingin di ajak dalam pertemuan ini, tapi karena beliau terlalu sibuk akhirnya pak direktur meminta saya untuk mewakili beliau" timpal Bimo.
"Oh..jadi proyek ini masih ada pihak lain?" tanya Rico sedikit terkejut.
"Iya pak Rico, seluruh pembiayaan dari pak direktur." ucap Dio
"Wah suatu kehormatan bagi saya jika dapat berjumpa langsung dengan pak direktur." ucap Rico dengan tersenyum.
Bimo mengiyakan kemudian Rico bertanya sedikit tentang sosok pak direktur, tentunya di jawab Serapi mungkin oleh Bimo. jika nanti Rico tahu apakah bisa menampilkan senyuman ini.
"Sepertinya pak direktur sangat menyayangi calon istrinya itu ya pak Bimo?" ucap Rico.
"Tentu saja bahkan melebihi dari apapun." jawab Bimo mewakili Seto.
__ADS_1
Semakin lama Dea semakin tidak senang mendengar perkataan Bimo dan Rico membahas tentang calon istri Seto. telinganya serasa begitu panas mendengarkan perbincangan mereka yang di rasa tidak penting baginya, dan Dea berniat ingin kembali ke kamarnya.
Ia berpikir tadi Seto ikut menemui rekan kerjanya ini, ternyata ia salah menduga lelaki itu benar-benar telah mengabaikannya. Kekaguman yang di miliki Dea berubah menjadi ambisi dan obsesi itu yang membuat Seto menolaknya secara mentah-mentah.
"Dio, apa ini sudah selesai? Aku ingin kembali ke kamarku." tanya Dea.
"Sudah sayang..apa kau tidak menghabiskan makananmu dulu lihatlah masih banyak sekali makanan di piring mu." ucap Dio.
"Tidak.. aku sudah kenyang." kemudian Dea meninggalkan semuanya hal itu tentunya tak luput dari perhatian Bimo.
"Sebenarnya..siapa wanita yang akan menjadi calon istri Seto, sepertinya Bimo mengetahui segalanya ia bahkan tak merasa menyesal mengatakan itu di hadapanku. apakah wanita itu sangat cantik dan dari keluarga yang kaya raya? tapi bagaimanapun aku lebih cantik pastinya dari wanita itu, aku juga telah mencintai Seto sejak kecil tetapi kenapa Seto sedikit saja tidak bisa memahami perasaanku? Kenapa dia malah jatuh hati pada wanita yang baru saja hadir dalam hidupnya..aku harap wanita yang di bahagiakan Seto tidak bisa memberinya kebahagiaan balik." gumam Dea kesal setelah duduk di tepi ranjangnya.
"Argghh..Seto aku sangat membencimu." teriak Dea melampiaskan kemarahannya dengan mengacak-acak tempat tidurnya yang terlihat rapi.
hari sudah cukup malam, hari ini Seto sangat lelah untuk itu ia tak berniat untuk pergi kemanapun.
Ting-tong ( terdengar Suara bel dari luar kamar Seto dan Bimo).
"Bimo..apa aku boleh masuk? Dio sedang pergi menemui pak Rico tadi ada beberapa berkas yang kurang valid, dan aku merasa bosan sendirian di kamar." tanya Dea, mata Bimo tak berhenti memandangi tubuh Dea.
"Ok. Masuklah.." ajak Bimo, Dea meyapa Seto, namun pak direktur itu tak menghiraukannya karena ia sibuk chatingan dengan Arini. sejenak ia memandangi Dea yang berbeda dari biasanya.
"Bim..Ayo kita minum sampaye malam ini sepertinya menyenangkan." ajak Dea.
"Baiklah, aku akan membelinya di bawah," ucap Bimo karena tak berhasil menghubungi pelayanan hotel itu.
Bimo pun lupa akan bosnya yang ada di dalam, ia meninggalkannya begitu saja karena ingin memesan sampanye itu. Seto mengutuki kebodohan Bimo, ia akan memberi pelajaran nanti, Seto merasa risih di tinggal sekamar bersama Dea, ia berniat meninggalkan wanita itu, namun saat hendak melangkah tangannya di tarik oleh Dea.
"Seto kau mau kemana?" Seto pun hanya diam dan menghempaskan kasar tangan Dea.
__ADS_1
"Seto..aww..kenapa kau kasar begini padaku?" tanya Dea ia merasakan sakit di tangannya akibat hempasan tangan Seto.
"Aku kenapa? harusnya tanyakan sendiri pada dirimu, seorang wanita yang telah punya kekasih malah datang ke kamar lelaki lain, dan menggunakan pakaian sexy seperti ini, apa kau sedang mencoba menggodaku? kau tahu kelakuanmu yang sekarang terkesan menjijikkan!" celetuk Seto.
"Seto..siapa yang ingin menggodamu, aku sungguh tidak punya pikiran seperti itu. tapi kenapa kau berpikiran buruk terhadap ku?" wanita itu memasang wajah sedih, tak ambil pusing Seto segera mengambil dompet, kunci mobil dan ponsel lalu melangkah keluar dari sana meninggalkan Dea dalam kesedihan.
Seto..kau mau kemana?" teriak Dea, namun tentu saja hal itu tak di hiraukan Seto, saat hendak keluar kamar tubuhnya tak sengaja menabrak tubuh Bimo, Seketika Bimo pun langsung menegurnya.
"Bos kau mau kemana?" tanya Bimo dengan memperhatikan wajah bos-nya yang terlihat kesal.
"Mau aku siapkan kapan pemakaman mu?" ucap Seto dingin.
Bimo susah payah menelan ludahnya, ia tidak sengaja membangunkan singa rupanya, "tamatlah riwayatku." celetuk Bimo.
"Ini sudah malam bos mau kemana?" tanya Bimo mengalihkan pembicaraan.
Seto tak menggubrisnya, ia turun menggunakan lift, ke basement untuk mengambil mobilnya. Kemudian ia melajukan mobilnya dengan sangat kencang, ia begitu kesal dengan Bimo. tapi sebenarnya itu hanya alasan sederhananya alasan besarnya karena ia ingin menemui Arini.
Saat masih di tengah perjalanan tiba-tiba mobil Seto berhenti ditengah jalan.
"Shitt..kenapa dengan mobil ini?" teriak Seto dengan kesal malam itu jalanan yang ia lalui begitu sepi, entah ini hari apa hingga jalanan tak seramai biasanya, akhirnya Seto turun dari mobil, untuk memeriksanya.
"Sial overheat! padahal hampir sampai." teriak Seto dengan menggebrak bagasi mobil miliknya.
"Bedebah, mana jauh lagi dari bengkel ini pasti sial karena Bimo, aku harus meracuni manusia satu itu menyebalkan!" teriak Seto lagi. sungguh Bimo malam ini sangat menyebalkan baginya.
di kamar hotel, Dea membuat Bimo mabuk untuk mendapatkan informasi tentang calon istri Seto, mumpung Seto juga tidak ada disana, Dea tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Bersambung.....
__ADS_1
aku kurang semangat nih ayo jangan pelit like komen rate dan vote ya gengs 🥳