Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 77.


__ADS_3

jangan lupa like komen rate dan vote ๐Ÿ˜‰


"Huh.." Clara menghembuskan nafas secara kasar setelah panggilannya ia akhiri.


sedangkan di sana Rico membungkus tubuhnya dengan selimut, wajah merah Rico makin terlihat karena suhu badannya kembali naik.


"Tapi kenapa Clara bisa se frontal ini?" Rico menolak untuk memikirkan ini terlalu dalam.


Sangat frustasi rasanya kalau begini, kerjaan terancam gagal dan Clara pun meninggalkan.


Lelaki itu juga sangat frustasi memikirkan kisah rumah tangganya yang gagal karena keserakahannya sendiri, jika di bandingkan Clara. wanita seperti Arini lah yang di butuhkan dalam berumah tangga.ย 


Clara memang cantik, seksoy, dan manja menggoda tetapi wanita ini juga sangat membosankan.


Ketika Rico memikirkannya, wajahnya semakin merah padam, rasa penyesalan menggelayuti jiwanya.


Kemudian Rico berpikir, mungkinkah Clara Serius dengan ucapannya? saat ini segudang pemikiran memenuhi otak Rico, apakah ia benar-benar rela berpisah dengan Clara? Atau justru ini adalah kesempatan agar ia bisa mendekati Arini lagi, dengan mudah?.


Luka lebamnya sedikit sakit.


Rico sangat lelah, dan sepertinya dia dehidrasi, hingga ia hanya kuat untuk berbaring di ranjang hotel dan badannya semakin panas.


Sementara itu di kamar Seto sedang memeriksa kakinya, tidak sengaja tadi ia menginjak mainan Alana, hingga kakinya yang putih itu terlihat merah di bagian bawahnya.


"Mas apakah ini sangat sakit?" Arini sangat khawatir melihat kaki Seto yang terlihat merah, terlihat darah Seto membeku hingga terlihat sedikit merah kehitaman.


Suara Arini sangat lembut, terlihat wanita ini benar-benar khawatir, Seto mendongak untuk menatap istrinya, padahal bukan hal baru ketika menatap mata wanita ini, tetapi jantungnya masih saja berdetak kencang saat pandangannya bertemu dengan mata teduhnya. Ia perhatikan dengan teliti mata itu, tergambar jelas di sana ada rasa kekhawatiran yang tulus, Arini sungguh menawan.


Dengan tatapan dalam Seto pun bertanya " apa kau menghawatirkan aku?"ย 


Suaranya juga sangat lembut.


Sedikit parau.


Namun sangat seksi terdengar.

__ADS_1


Sementara tatapan mata Seto membuat Arini salah tingkah, sama halnya dengan Seto, jantung Arini pun berdegup kencang.


"Jelas sekali," dua kata ini di ucapkan Arini dengan segera saat pertanyaan Seto selesai.


Arini segera meraih kaki Seto, dengan sigap ia mengobatinya, gerakan Arini sangat hati-hati dan lembut, ia takut menyakiti luka di kaki Seto.


Mata Seto tak henti memandangi istrinya, lalu ia mengatakan dua kata " aku beruntung."


Arini menghentikan kegiatannya, lalu melirik Seto "beruntung?" tanyanya kemudian.


Seto mengangguk, seraya tersenyum. Arini tahu jika ia bertanya lebih lanjut maka arah pembicaraan ini akan berakhir dengan kelelahan, ya. Kelelahan menghadapi Seto yang nantinya manja melebihi dari Alana. bayi besar yang sangat meresahkan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Tepat tiga hari telah berlalu pada hari ini adalah hari ulang tahun Seto, Arini adalah tipikal wanita yang selalu bingung menyiapkan kado apa untuk pasangan, ia benar-benar payah dalam hal ini.


Arini baru saja pulang dari membelikan kado untuk Seto, merasa badannya begitu lengket dan bau. ia segera menuju kamar mandi, hampir setengah jam lebih Arini menghabiskan waktunya untuk membersihkan diri, ia begitu gugup, untuk menyerahkan kado yang ia sendiri tidak tahu, Seto akan menyukainya atau bahkan akan mentertawakannya, ia benar-benar frustasi saat memikirkan hal ini.


Ia akhirnya selesai dengan ritual mandinya, berjalan keluar dari sana, dan langkahnya terhenti di lemari besar yang berisikan beberapa baju piyama miliknya. Ia mencari pakaian dalam dan piyama yang cocok. Dia sangat gugup untuk menghadapi hal selanjutnya.


Saat ini Seto masih berada di ruang bacanya, Arini segera mengeringkan rambut dan bersiap untuk menyusul suaminya itu.


Saat berjalan keluar, ia berpapasan dengan salah seorang asisten rumah tangga, "maaf, bisakah kau memberiku sebotol anggur? tapi kadar alkoholnya yang ringan."


Alkohol mungkin dapat membantu untuk menghilangkan rasa gugupnya, ia hanya ingin minum sedikit karena tidak ingin mabuk. ia pun segera meminumnya saat apa yang ia minta tadi sudah berada di hadapannya.


Arini sudah membawa apa yang ia beli tadi, ia bergegas berjalan ke ruang baca.


Sudah tiga kali Arini mengetuk pintu, namun seseorang yang berada di dalamnya tidak menyahuti, akhirnya ia buka pintu itu dengan gerakan pelan dan sangat hati-hati.


Lampu yang tidak begitu terang, membuatnya tidak terusik sangat rileks, karena ruang baca ini sangat luas, hingga sinar dari lampu tidak seluruhnya membuat terang.


Seto bersandar di rak buku dengan pakaian tidurnya, terlihat lelaki itu sedang membaca buku yang tebal. sangat lama sekali untuk di hitung per lembar, Arini tak ingin menghitungnya, karena itu sangat merepotkan.


Seto sangat serius, namun ia menyadari kehadirannya.

__ADS_1


Arini memperhatikannya, efek minum alkohol tadi tidak buruk, setidaknya ia jadi berani sekarang, tidak seperti biasanya suasana canggung selalu mendominasi.


"Sangat serius sekali, apakah membaca buku adalah salah satu kunci keberhasilan?"ย 


Seto mengagakat kepalanya dari buku, pandanganya teralihkan kepada pemilik suara yang baru saja terdengar. Aroma memikat keluar dari tubuh Arini, ya. Aroma khas sabun mandi yang baru saja Arini gunakan mengusik Indra penciuman Seto.


Namun matanya hanya menatap, tanpa mengatakan ataupun untuk menjawab pertanyaan Arini tadi.


Tubuh Arini terlihat sangat segar, tanpa hiasan make up wanita ini terlihat begitu menawan. walaupun Seto tidak menjawab, pandangannya sangat tajam seolah dapat merobek piyama yang di gunakan Arini. Hal itu membuat Arini tersipu, pandangan Seto yang seperti ini selalu membuatnya malu dan salah tingkah.ย 


Keberanian yang ia dapatkan dari meminum sedikit anggur tadi memudar, bagaimana Arini harus mengatasinya?.


Arini memalingkan muka, di tatap seperti itu membuatnya sangat malu dan kehilangan keberanian untuk menyerahkan kado yang ia bawa yang sengaja ia sembunyikan di belakang punggungnya.


Kesenyapan mendominasi, ruang baca ini sangat tenang dan sepi.


Seto menutup bukunya dengan gerakan lembut, tanpa mengatakan apapun. Arini menjadi gugup apakah ia salah datang di waktu sekarang? Apakah ia mengganggu waktu Seto membaca?.


"Apakah kau minum?" Seto bertanya membuat Arini gugup dan segera mengangguk.


"Berapa banyak yang kamu minum?"


Astaga, apakah ini yang membuat Seto dari tadi hanya diam? Apakah Seto marah lagi padanya? " hanya sedikit mas?" ia sangat gugup saat menjawabnya.


"Apakah kau minum untuk menghilangkan rasa gugupmu?" tangan Seto terulur untuk meraih pinggang Arini. tangan yang satunya ia gunakan untuk mengangkat dagu wanita ini, matanya gelap dan di dalamnya ada tatapan bahaya yang seketika membuat Arini kesusahan menelan salivanya. "Apakah kau perlu alkohol untuk memuaskanku malam ini?".


Pertanyaan Seto semakin membuatnya gugup, ia tidak mengerti pertanyaan dari suaminya ini terdengar seperti godaan atau ini adalah marah yang di balut pertanyaan yang terdengar begitu sangat halus?. Arini melangkahkan mundur dan kini tubuhnya menekan rak buku di belakangnya. " Aku hanya tidak ingin terlihat canggung lagi saat berdekatan denganmu mas, aku pikir alkohol bisa sedikit membantu."


Bagaimana mungkin ia tidak gugup, beberapa hari lalu Seto meminta Arini untuk sesekali bersikap agresif kepadanya. hal ini sama sekali belum pernah di lakukan oleh wanita itu.


"Sekarang setelah kau mabuk, tunjukkan padaku seberapa hebatnya kau menggodaku!"ย  Arini menunduk, ia bingung Seto yang seperti ini membuatnya begitu ambigu.


Dan..kau..


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2