
Suri tersentak. Hal spontan yang ia lakukan adalah menahan sebelum cowok itu pecah di lantai, atau yang paling minimal muka dia mencium lantai dengan sangat tidak elit, terus lukanya bertambah parah dan Suri bertambah repot.
Mari sama-sama melindungi hidup kita dari sesuatu yang disebut 'masalah'.
Tapi karena Suri tak tahu cara menahan dengan benar, ya dirinya spontan saja berdiri di depan orang itu. Hal tertololl, sebab itu malah membuat dirinya berakhir menjadi matras.
Jelas, Suri mengerang kencang. Merasa sakit luar biasa.
"KENAPA GUE SIAL BANGET INI HARI?!" teriak Suri depresi.
Tapi segera perhatiannya tersita oleh pemandangan cowok itu.
Dia terlihat sulit bernapas. Wajahnya yang pucat dengan kulit putih aneh semakin pucat. Napasnya malah semakin terputus-putus, dan Suri jadi takut dia meninggal.
Astaga. Suri lupa kalau ini orang bahkan tidak dibolehkan makan lewat mulut karena terluka.
Mau tak mau Suri harus menolongnya lagi.
Ah, harus Suri katakan, yah. Mengangkat cowok yang tidak terlalu tinggi ini super duper menyiksa.
Dia beraaaaaaaat luar biasa.
Dosanya pasti banyak!
*
Suri baru benar-benar memerhatikan, orang ini punya tato aneh di tubuhnya. Lebih tepat lagi, di tengkuk dan di punggungnya, menjalar penuh ke setiap sudut.
Goresan tinta permanen berbentuk naga, membentang di kulit putihnya. Yah, bukan salah Suri tidak melihat karena bagian depan tubuhnya bersih. Cuma bagian belakang yang tertutup kaos.
"Kamu enggak mau kasih penjelasan kenapa pasien saya malah hampir mati begini?" Dokter Moris menuntut penjelasan.
Suri mengalihkan mata segera, tidak mau jadi pihak bersalah. "Enggak tau."
__ADS_1
Memang bukan dirinya kok. Dia sendiri yang datang menjemput padahal Suri tidak minta.
Jelas saja bohong, makanya Dokter Moris menghela napas.
Tapi Dokter Moris tidak berusaha memaksa lagi. Hanya mengisyaratkan Suri untuk memindahkan badan orang ini ke posisi berbaring setelah lukanya ditangani.
"Kamu jagain dia. Kalau sekali lagi dia keluar begitu, dia bisa mati. Kamu mau ada orang mati di sini?" tekan Dokter itu baik-baik.
"Idih, amit-amit!" Suri berdecak kesal. "Iya, iya, saya jagain."
"Bagus."
Dokter Moris pergi, meninggalkan Suri sendirian di sebelah tempat tidur.
Lagi-lagi ia berpikir buat apa dirinya menolong orang saat sekarang justru Suri yang butuh pertolongan.
Uang yang ia kantongi sekarang tak banyak. Untuk dipakai makan besok saja Suri takut, karena ia tak mau diusir dari tempat ini. Suri lebih memilih buat kelaparan daripada meninggalkan tempat ia menunggu kakaknya ini.
Hah. Cari kerja apa lagi, yah? Ngelont itu gimana sih caranya? Suri rasa tidak ada jalan keluar selain itu.
"Lo di mana sih, berengsek," gumam Suri. "Gue capek tau enggak."
Cuma dia satu-satunya pahlawan yang Suri percaya, tapi di mana dia dan apa yang dia lakukan sekarang ia bahkan tak tahu.
Mungkin dia sudah bosan jadi pahlawan, makanya dia pergi sangat jauh.
Mata Suri yang basah segera ia lap kasar. Tidak sudi menangis lagi. Pokoknya tidak boleh menangis lagi.
Sekian lama ia menangis, tidak ada masalah yang selesai.
Ia bersandar pada tembok, menatap wajah tenang orang asing di kasurnya.
Kenapa orang ini pergi menjemput Suri? Padahal sedang sakit. Hampir mati malah, kata Dokter Moris sendiri.
__ADS_1
Lagipula Suri pulang atau tidak nampaknya dia masih hidup. Biarpun memang ini tempat Suri, tidak seperti orang ini merasa tidak enak kalau ditinggal sendirian.
Tapi kalau Suri berpikir dia pergi karena Suri, buat apa? Mereka tidak saling kenal.
Dia juga tidak mau menyebut namanya pada Suri. Cuma tahu diam, diam, dan diam.
"Lo siapa, sih?" bisik Suri pada angin.
Suri mengulurkan tangan ke wajahnya. Menusuk-nusuk pipi orang itu mumpung dia tidur.
"Oi, lo siapa? Kasih tau nama lo, kek. Entar gue panggil Sinchan tau rasa lo."
Tiba-tiba, sebuah tangan terangkat, menangkap pergelangan tangan Suri. Tangan itu mencengkram keras seolah dia mau meremukkan.
"Eh? Bangun?" Suri langsung gugup.
Matanya melotot tajam. Mendorong kasar tangan Suri dari wajahnya.
Cih. Suri rasa ia mulai benci orang ini. Sudah ditolong berkali-kali, punya akhlak saja tidak.
"Ya sori. Lagian lo kasih tau kek nama lo siapa!"
Dia menatap Suri seolah Suri itu makhluk menjijikan. Tapi tidak banyak bicara, cuma terlihat meringis memegangi perutnya.
Waktu dia terlihat mau tidur lagi, Suri entah kenapa berani bertanya.
"Lo jemput gue, yah?" Soalnya memang sudah jelas dia ke sana menjemput Suri.
Tapi, yang Suri dapat hanya hening.
Orangnya tidur, bodo amat dengan ekspresi Suri yang mau mencekiknya.
*
__ADS_1