Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
66. Karena Alergi


__ADS_3

"Gue lebih suka nanya kok gue suka banget yah ngusilin orang?" Dayan menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi, berputar-putar menikmati pikirannya sendiri. "Sensasinya tuh kayak, akh, menggigit."


"Terus ini ceritanya gimana, Bos?"


"Gue denger dari Ikram katanya Tanjung udah tau Suri adeknya Arul," ucap Dayan setengah bergumam. "Yah, gue enggak expect Tanjung bakal ngapain, sih."


"Tanjung enggak masalah?"


"Dia juga enggak goblokk kali. Antara Suri deketin dia buat bales dendam sama Suri kebetulan ketemu dia, masih lebih masuk akal kebetulan."


Soalnya Suri tidak punya bakat menipu orang. Penipu itu harus pintar. Minimal kalau tidak pintar, dia setidaknya bisa mengontrol ekspresi.


Yang Suri sangat tidak bisa lakukan.


Ekspresinya selalu kelihatan jelas. Marah, kesal, benci, suka, semuanya kelihatan.


Kalau Suri adalah penipu dan Tanjung tertipu, maka Dayan jamin semua uang yang Tanjung pakai selama ini adalah kertas mainan.


"Yang jadi masalah," Dayan tiba-tiba berdiri, meletakkan keras-keras kuda caturnya ke blok papan, "kalo Suri gimana?"


Tanjung sih memang tidak pedulian. Suri adiknya Arul kek, pacarnya Arul kek, siapa kek, kayaknya dia bodo amat.


Toh Suri sudah jadi punyanya, bebas dia apakan sekehendak hati—pasti Tanjung bakal berpikir begitu, sebab memang begitulah logikanya.


Masalahnya, Suri bodo amatkah dengan fakta bahwa pembunuh kakaknya ada di depan mata?

__ADS_1


Dayan sangat mau tahu jawaban itu dari mulut Suri sendiri.


*


"Lo kenapa tiap pagi selalu muntah?"


Akhirnya sampai pada masa di mana Tanjung mempertanyakan.


"Lo kira bisa ngasih alesan enggak jelas terus? Badan lo enggak panas. Lo enggak sakit, tapi kenapa muntah-muntah?"


Suri menelan ludah gugup, soalnya Tanjung yang bertanya itu berarti sudah sangat luar biasa.


Seminggu sudah dia melihat Suri sering muntah tiba-tiba, kadang ingin makan mendadak lari ke kamar mandi, Tanjung akhirnya mulai berpikir ada yang tidak beres.


"Udah biasa, kok."


Lebih dari seminggu yang lalu Ikram menemani Suri ke rumah sakit untuk mengecek adakah kista atau tidak. Karena Suri tidak cerita apa-apa, Tanjung anggap tidak.


Kalau ada apa-apa juga Ikram pasti melapor. Kalau tidak ya tidak.


"Dia udah sering muntah-muntah tiap pagi." Tanjung menatap Ikram kesal. "Lo bawa dia ke rumah sakit buat periksa, kan? Kenapa justru kayak gitu?"


"Tanjung—" Suri berusaha menghentikannya.


"Masuk." Tapi Tanjung tidak mau mendengar, sebab bertanya pada Ikram bakal lebih jelas dan mudah dimengerti.

__ADS_1


"Tapi—"


Sorot mata Tanjung sudah cukup memberitahu kalau dia sedang tidak mau diganggu.


"Masuk," gumam Tanjung dingin, mutlak, tak mau dibantah.


Masalahnya, Suri panik karena Ikram yang kena.


Kalau Ikram merasa Suri terlalu merepotkan terus tidak mau lagi datang mengurusnya, masa Suri tiap hari harus bicara dengan tembok?


Tidak bisa! Ikram adalah teman bicaranya yang terbaik sekarang!


Dia tidak boleh dimarahi karena Suri lalu dia marah pada Suri dan akhirnya tidak ada lagi sesi bicara dengan manusia sama manusia!


"Biar gue aja." Suri menarik lengan Tanjung buru-buru. "Itu urusan pribadi. Gue malu ngomong kalo ada Ikram."


Tanjung menatapnya tanpa ekspresi.


"Plis? Masuk baru gue cerita. Plis. Pliiiiiiis."


Walaupun ekspresi Tanjung 😶, melihat Suri dengan muka 🥺 sebenarnya adalah kelemahan.


Kekesalannya redam, dan Tanjung menuruti Suri untuk bicara berdua, meninggalkan Ikram yang niatnya mau dimarahi.


Tapi berkat itu Suri jadi harus putar otak tentang alasan pribadi apa yang menyebabkan dirinya muntah-muntah.

__ADS_1


Masa Suri harus bilang itu karena hobi? Atau ia bilang saja kalau itu karena alergi? Alergi AC, mungkin?


*


__ADS_2