
Suri tersengat. "Arul cuma bawa duit sedikit ke rumah. Sejuta dua juta, paling banyak cuma empat juta."
Lagian benar ada pekejeraan semacam itu? Maksud Suri, tentu saja itu berbahaya dan risikonya nyawa jadi pasti mahal tapi Arul tidak pernah terlihat punya banyak uang sampai puluhan, apalagi ratusan!
"Kalo Arul ngasih lo uang seratus juta per bulan, lo kira Aliansi enggak bakal curiga? Arul bahkan enggak punya jawabtan di divisinya Tannjng. Dia cuma anak buah."
Be-benar juga. Lalu maksudnya sisa uang yang dia berikan pada Suri itu diakomodasikan pada pacarnya?
"Dan kalau mikirin kemungkinan lain, itu risikonya besar di elo kalau sampe Arul terlalu nunjukin uangnya. Dia harus nyimpen di tempat yang dia bisa percaya—menurut dia—dan bisa dia akses."
Jadi begitu.
Jadi pacarnya Arul, si Jalangg Kotoran Sapi ini membiarkan Arul melakukan hal berbahaya sebab dialah yang memegang semua uangnya.
Suri tanpa sadar meremas dokumen di tangannya kuat-kuat.
"Kalau ditarik kesimpulan Arul ngasih Euna duit seratus lima puluh juta dalam empat bulan, berarti total yang dia pegang itu sekitar enam ratus. Enam ratus itu dipotong sama jumlah yang Arul kasih ke elo selama dia kerja, tapi ditutup sama jumlah yang dia kasih ke Euna juga. So, anggep aja enam ratus."
__ADS_1
Suri semakin mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Ia akan membalas semua orang. Semua yang ia bisa. Semua yang membuat Suri menunggu seperti orang bodohh selama tiga tahun.
Dan dengan itu, Suri akan memulainya dari gadis ini. Gadis sialann yang merampas semua kerja keras Arul.
"So, what you wanna do with her?"
Suri masih berusaha mengatur perasaannya. Rasa sakit di jantung Suri menusuk sangat kuat.
Padahal Arul percaya pada orang ini. Padahal Arul sudah memberi dia pesan sebelum Arul mati, yang berarti Arul bahkan masih percaya di ujung kematiannya sendiri.
Dia justru lari, pergi menjauh bersama semua hasil keringat, hasil darah dan alasan dari Arul tenggelam di tengah laut tanpa pernah bisa kembali.
Bagaimana bisa dia melakukannya?
"Gue ada saran bagus buat lo." Dayan mencondongkan tubuhnya pada Suri, tersenyum polos. "Gimana kalau dia lo tenggelamin juga? Di koordinatnya Arul? Biar seenggaknya dia ngerasain yang Arul rasain."
__ADS_1
Mata Suri hanya sayu dan terlihat mati.
Tapi justru pemandangan itu membuat Dayan terkekeh geli.
"Lo enggak bisa. Oh, kemanusiaan yang munafik dan biadab."
Suri bukan dia, bukan Tanjung, bukan mereka yang bisa menyakiti siapa pun tanpa dihantui rasa bersalah.
Kebencian Suri pada Jalangg ini begitu besar. Suri bahkan sangat ingin mencekiknya hingga dia mati. Tapi Suri pun tak bisa menolak perasaan di hatinya bahwa itu adalah perbuatan iblis.
Suri tak tahu bagaimana cara melakukannya.
"Gimana kalau gue bantuin lo ngurusin ini?"
"Lo kira gue bakal percaya kalo lo pake kata 'bantuin' gue?"
"Come on, girly. Go easy on me." Dayan mengibaskan tangannya. "Oh, how about this? I'm helping you and you buying me. Actually, I don't really need your money but hei, let's make this quick. So, yes or nah?"
__ADS_1
*