
Rapat dengan pemimpin tertinggi dalam aliansi biasanya jarang terjadi. Apalagi mengumpulkan lebih dari satu organisasi. Tapi jika pemimpin utama muncul, memang Tanjung tak punya pilihan selain muncul di permukaan.
Rapat berlangsung singkat. Cuma sekitar empat puluh menit membahas puluhan hal yang dipadatkan.
Yang lama adalah Tanjung langsung punya setumpuk kerjaan untuk diselesaikan segera, hingga ia mau tak mau berkutat di markas berjam-jam kemudian.
Dokumen-dokumen di meja Tanjung bahkan langsung menumpuk. Padahal Tanjung itu pada dasarnya preman. Kenapa ia harus mengurus kertas-kertas bodoh ini?
Tanjung benci dengan tumpukan benda membosankan.
"Oya-oya, tangan lo ternyata luka juga."
Dayan tahu-tahu muncul, langsung menyerobot duduk di atas meja Tanjung tanpa izin.
"Suri bilang kena air panas, lo kenapa? Nyelupin tangan ke kuali?"
Saat kerja, Tanjung paling tidak suka melihat orang menyebalkan.
Dua kali lipat tidak suka dari situasi biasa.
"Balik ke kandang lo, bangsatt."
Tanjung sudah capek melihat Dayan berkeliaran di Jakarta. Dan yang paling menyebalkan dia selalu sengaja mengusik Suri di depan Tanjung.
"Gue kena tegur Bos, jadi sayang banget emang harus pulang." Dayan sok-sok sedih. "But anyway, bro, she told me something interesting."
Tanjung pura-pura tidak dengar.
"She said: I ask him 'do you like me?' and he said 'why do I have to?'."
Tanjung melirik. Sialan. Suri terlalu banyak bicara.
Dan dia terlalu banyak bicara pada orang yang tidak seharusnya.
__ADS_1
"So you don't even f*ck her, huh?"
"Just shut your f*cking mouth."
Dayan tergelak. Melompat turun dan berjalan pergi. "Yaudah, gue pulang dulu, yah. Tapi entar gue balik."
"...."
"Anyway dia cantik, sih. Imut lucu bego gitu. Gue jadiin pacar kali, yah?"
Meskipun tahu Dayan cuma sengaja memancingnya, Tanjung menatap dia dengan mata yang terlalu dingin.
Dayan yang melihat itu malah semakin tersenyum.
"Bagi-bagi yah pelacur baru lo. Kayaknya masih sempit."
Kalau dalam Aliansi dan organisasi tidak ada peraturan yang melarang eksekutif berkelahi, Tanjung rasa sekarang ia dan Dayan akan mengulang peristiwa saling membunuh di masa lalu.
Karena sepertinya Tanjung benar-benar mau memecahkan tempurung kepalanya sekarang.
Makanya kalau dia bicara, Tanjung tidak pernah tahu dia bohong atau tidak.
Tanjung menatap tangannya begitu pintu tertutup. Tidak merasa sakit karena ia mengonsumsi anti nyeri.
Luka di tangannya malah membuat Tanjung ingat pada gadis itu.
"Lo suka sama gue?"
Cih. Suri harus belajar cara diam daripada terus mengoceh hal tidak penting. Juga, Tanjung harus mengajarinya agar tidak dekat-dekat dengan bocah itu.
"Dika." Tanjung beranjak seraya memanggil salah satu bawahan terdekatnya. "Selesaiin. Gue mau istirahat."
Dika patuh saja, tapi sedikit heran karena biasanya Tanjung mengerjakan semua pekerjaannya sendiri. Walau memang tangan Tanjung sedang tidak bisa digunakan bekerja juga.
__ADS_1
"Lo mau ke mana?" Ikram langsung bertanya melihat Tanjung keluar dari ruangan, tapi bukan mau ke kamarnya. "Bos, jangan bilang lo mau ke tempat cewek lo lagi?"
"Terus?"
Dia dihajar sampai mau mati dan tadi disinggung oleh bos besar untuk lebih sayang nyawa, dan dia malah mau keluar lagi tengah malam begini.
Ikram maunya bilang begitu, tapi mundur duluan karena ekspresi Tanjung.
Mukanya Tanjung sudah cukup jadi ucapan. Dia tahu di luar bahaya dan dia tetap mau melakukannya jadi memang kenapa?
Sebagai anak buah, Ikram lebih suka tidak dipukuli.
Tanjung beranjak pergi karena Ikram diam, tidak juga terlalu peduli waktu orang-orang bergerak mengikutinya sebagai penjaga.
Iya, mereka menjaga Tanjung, bukannya Suri. Cuma karena Tanjung berada di sekitar Suri, secara otomatis Suri juga akan ikut terawasi.
Tanjung berjalan karena memang tipe yang malas berkendara apa pun, sampai ia berhenti di depan pintu apartemen Suri.
Tanjung mendorong pintunya, agak mengerutkan kening mengetahui pintu tidak dikunci.
Anak ceroboh ini kenapa suka sekali melakukan kesalahan? Dia menunggu seseorang masuk membahayakannya atau apa?
"Tanjung!"
Seruan Suri mengagetkan pria itu. Pikirnya dia sudah tidur. Lagipula ini sudah tengah malam.
"Lo dari mana?!" seru Suri padanya.
Tanjung menatap dia heran. Tidak mengerti kenapa dia bereaksi seperti ini.
"Sumpah yah, lo kalo mau pergi tuh bilang-bilang kek! Gue nungguin lo dari sore, yah! Capek, tauk!"
"Yang nyuruh lo nunggu gue siapa?"
__ADS_1
Sepertinya Tanjung tidak sampai berpesan agar Suri menunggunya pulang. Jadi sebenarnya yang menyuruh dia terjaga sampai larut malam demi Tanjung itu siapa?
*