
Suri pada dasarnya anak yang mandiri dan pemberani, jadi beradaptasi mengurus anak kecil itu lumayan mudah baginya.
Seminggu setelah melahirkan, Suri tidak merasa butuh didampingi dokter lagi. Cuma butuh bantuan Tanjung saja jika Suri mandi, Rana harus diawasi agar ia tenang.
Sisanya Suri lakukan sendiri. Apalagi karena apartemen Tanjung juga kosong, jadi tidak banyak celah-celah yang harus disusupi buat dibersihkan.
Pembahasan soal Arul belum pernah Suri ungkit lagi. Ia tak tahu apa alasan Tanjung bohong padanya mengenai Arul, tapi buat sekarang, Suri cuma mau istirahat.
"Sini dulu, Papa. Anaknya mau makan."
Tanjung malah lebih penakut daripada Suri soal anaknya.
Dia butuh waktu berhari-hari buat diyakinkan kalau menggendong Rana itu tidak meremukkan tulang-tulang anaknya.
Tanjung malah sering marah pada Suri kalau ia mengganti baju anak itu, karena menurut Tanjung cara Suri sangat kasar. Di mata Tanjung, memegang Rana itu sudah cukup kasar.
Suri melihat sisi lain dari Tanjung yang luar biasa tidak terduga.
Dia ternyata takut menyakiti anak kecil. Dia tak suka mendengar anaknya menangis sedetik saja. Dia bahkan berkeringat dingin kalau Rana tersentak dalam tidurnya.
Dia selalu berpikir anaknya dalam bahaya. Dan itu membuat Tanjung jadi selalu ingin melindunginya.
"Pinjem badannya dulu yah, Papa." Suri bersandar pada Tanjung saat menyusui Rana.
Menurut Suri, ini posisi paling enak di mana ia bersandar ke belakang, Tanjung meletakkan dagu di bahunya dan mendengar suara decakan samar Rana.
__ADS_1
Sambil menyusui, Suri bersenandung kecil. Membuat Rana sesekali terlihat bergerak merespons.
"Lo ajak ngomong juga dong." Suri bergumam pada bapaknya di belakang. "Biar dia denger suara Papanya."
Tanjung tetap Tanjung, sih. Diam adalah segala-galanya.
"Kamu ngomong, Nak. Papa kok diem aja? Papa nyanyi juga dong buat Rana."
Tapi lucu sih membayangkan Tanjung bernyanyi. Walau kayaknya mustahil, karena bicara pada Rana saja dia nyaris tidak pernah.
Dia cuma bicara pada Suri.
"Matanya kenapa enggak kebuka?" Contohnya begini. Dia melihat Rana, penasaran dengan Rana, bertanyanya pada Suri. "Dia tidur?"
"Emang anak kecil belum liat apa-apa kalo umur segini, Papa."
Diam.
Diam.
Terus bersuara lagi.
"Kenapa tangannya gerak-gerak?"
Suri menahan tangan Rana yang memang bergerak-gerak. "Diem, Nak."
__ADS_1
Tapi tangannya langsung ditepis Tanjung, seolah Rana terluka. "Jangan kasar."
Orang dia yang kasar.
"Lo lebih sayang Rana daripada gue?"
Tanjung menatapnya dengan ekspresi 'memangnya perlu dipertanyakan lagi?'.
Rasa-rasanya kalau hati Suri tidak lapang, ia bejek-bejek orang ini. Tapi yah, Suri tidak melihat itu sangat buruk juga. Kalau Tanjung punya kasih sayang buat anak kecil, itu berarti dia punya sisi lembut.
Gak ada gunanya cemburu pada anak.
Gak ada.
"Tapi ngomong-ngomong," Suri meletakkan kepalanya ke bahu Tanjung, tenggelam dalam dekapan lengannya yang sekaligus juga menyangga tangan Suri agar tak pegal menggendong Rana, "kita pindah aja, yuk."
"Apa?"
"Lebih enak aja kalau pagi-pagi bawa Rana berjemur di taman yang oksigennya banyak. Bukannya di sini enggak bagus, cuma kayaknya lebih sehat aja."
Apartemen Tanjung tinggi, dan susah untuk ke mana-mana sebab Suri harus turun ke bawah, disambut oleh jalan protokol penuh polusi.
"Gimana?"
Tanjung meletakkan wajahnya di sisi wajah Suri. "Hm."
__ADS_1
Hmnya Tanjung adalah persetujuan seluruh permintaan Suri.
*