
Tapi boong.
Yakali Suri takut sampai tidak bernapas. Iya sih takut, tapi perempuan harus kuat! Yang gampang nangis adalah yang hidupnya enak!
Jujur saja, Suri bicara begitu karena merasa Tanjung itu bisa disindir. Maksud Suri, dia yang apa-apa main kasar buktinya juga memeluk Suri tadi waktu ia menangis.
Berarti, dalam tanda kutip, setidaknya dia 'kasihan', kan? Atau sesuatu sejenis itu.
Sok kuat di depan orang kuat itu bikin kepala kalian dipecahkan. Jadi sok lemah saja.
Tanjung diam saja mendapat kalimat macam itu. Selesai Suri minum, ia beranjak, dan Tanjung langsung ikut beranjak.
Entah kenapa dia kali ini berjalan di belakang Suri. Membuat Suri berbalik heran.
"Mau makan apa?"
Kalau ditanya lo kenapa, pasti tidak jawab, jadi mending tanya yang kemungkinan dijawab.
"Eh, tapi dokter bilang lo jangan makan yang keras-keras. Yaudah, ke toko buah aja. Gue lagi pengen makan semangka!"
Tanjung mengamati cewek aneh itu bingung.
Perasaan Tanjung tidak baik waktu Suri berkata dia takut. Dan tak tahu apa alasannya, Tanjung lumayan suka ketika Suri kembali semangat.
Jangan bilang kepalanya terbentur terlalu keras kemarin? Atau Tanjung mendadak punya penyakit aneh, efek samping dari luka di tubuhnya?
Sibuk dengan pikirannya, Tanjung tidak sadar dari depan sana Dayan berjalan mendekat.
Dayan memang sengaja muncul di sana karena tahu Tanjung juga akan muncul. Tapi Dayan pura-pura tidak tahu, tidak memprediksi akan saling bersinggungan.
__ADS_1
Lalu seolah kebetulan, dia dan Suri berseru kaget.
"Dayan!"
"Loh, loh."
Cowok itu langsung tersenyum ganteng, bikin Suri meleleh. Memang hal yang tidak mungkin di dunia ini adalah kalian menolak orang good-looking.
"Gue niat mau ketemu lo besok tapi ketemu sekarang. Chat gue enggak dibales. Kan gue sedih."
Mau tahu cara baperin cewek?
Simpel. Muka cowoknya harus ganteng.
Suri menggigit lidah gemas karena digombal begitu, biarpun berusaha sadar kalau Dayan mungkin cuma bercanda.
Main-main saja. Tidak boleh sampai baper lalu jatuh cinta. Kalau jatuh hati tidak masalah.
"HP gue rusak." Suri tertawa kering, jelas tidak bisa bilang kalau itu dirusak waktu kedapatan chat-an dengan Dayan. Apalagi bilang kalau pelakunya di belakang Suri, tengah menatap tajam.
Eh? Tunggu dulu.
Tanjung kan marah gara-gara Suri dekat dengan Dayan. Kalau dia mencekik Suri gara-gara ini, berarti Suri koit dong?
"Gue baru inget belum matiin kompor. Gasnya entar abis." Suri langsung kabur, demi keselamatan nyawa.
Padahal kompor kontrakannya listrik bukan gas.
Tapi setelah sepuluh langkah pergi, Dayan tiba-tiba memanggilnya. "Suri."
__ADS_1
Duh, suaranya, Mas. Susah tidak menoleh. "Ya?"
"Besok gue jemput, bisa enggak?"
Jantung Suri langsung menggedor-gedor tulang dadanya, memberontak mau keluar.
Dayan terlalu ganteng untuk Suri tidak baper sekalipun dia makhluk terlarang dan tak terjangkau.
Suri senyum-senyum, mau spontan bilang boleh tapi tiba-tiba Tanjung sudah berdiri di depannya.
Senyum Suri langsung luntur. Tangannya ditarik kasar, pergi meninggalkan Dayan.
Tengsin sebenarnya Suri dibegitukan di depan Dayan, masalahnya nyawa taruhan kalau banyak protes. Ia menoleh, melihat Dayan tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Besok," katanya lewat bibir. "Janji, yah."
Suri meneguk ludah susah payah. Begitu menggoda ciptaan Tuhan itu, tapi untuk ke sana harus melewati buaya.
Memang siialan.
Begitu melihat Suri dan Tanjung menjauh, Dayan langsung berbalik, mengulas senyum sambil menggigit lidahnya geli.
Apa yang sebenarnya misoginis itu lakukan? Bukannya segera muncul di organisasi mengurusi masalah, dia malah jalan di pinggiran bersama cewek aneh.
Dayan memang dengar Tanjung ditolong oleh Suri, tapi nampaknya orang itu punya obsesi sendiri yang Dayan baru lihat.
"Jadi pengen gue pancing, kan." Dayan terkekeh. Menarik tudung hoodie-nya, menghilang tanpa jejak di kemerlap malam.
*
__ADS_1