
Berdamai dengan keadaan mungkin memang obat paling tepat buat overthinking, yah.
Setelah Suri menerima Tanjung, entah kenapa dirinya jadi santai saja meski harus di rumah.
Tanjung masih rada sinting—melarang Suri punya nomor karena dia bilang tidak ada juga orang yang harus dihubungi atau harus Suri hubungi—tapi selebihnya dia membiarkan Suri.
Dia tidak marah Suri berguling-guling di atasnya sambil nonton drama, tidak marah ketika Suri maunya tidur di lengan dia, dan tidak lagi menyuruh Suri diam dengan nada kasar.
Waktu Tanjung lebih banyak habis buat istirahat, sampai Suri kepo sebenarnya pekerjaan dia apa.
Soalnya berhari-hari dia tidur, di depan pintu masih saja ada yang jaga, dan kebutuhan mingguan di kulkas selalu dibawa oleh orang-orang itu.
Siapa Tanjung sebenarnya?
Tapi walaupun Suri belum terlalu tahu, Suri lumayan menikmati hubungannya dengan Tanjung.
Soalnya ternyata eh ternyata, dia punya sisi lembut.
Kayak sekarang.
"Lagi bosen." Suri manjat ke punggungnya waktu dia minum pun, Tanjung diam saja. "Mau keluar."
Dia enggak banyak cocot, langsung beranjak mengajak Suri pergi.
Tanjung tidak suka tangannya dipegang waktu jalan, tapi kalau Suri bilang mau makan itu atau ini, Tanjung juga tidak banyak omong. Dia tidak pernah berkomentar soal apa yang Suri mau, padahal Suri sering memancing dia biar berkomentar.
Suri agak merasa kalau kehadiran Tanjung mengisi kekosongan di hatinya.
Boleh enggak sih Suri menikmati? Kayak, apa mungkin waktunya ia istirahat?
Suri bekerja keras sejak dulu. Terutama sejak Arul pergi.
Sendirian. Enggak punya siapa-siapa.
Bisa tidak sih ia menikmati kesenangannya ini bersama Tanjung dan menganggap bahwa ia sudah lulus dari ujian panjang?
"Lo mau?" tawar Suri begitu ia dapat satu cone besar gelato.
__ADS_1
Tanjung cuma melihat, bikin Suri berinisiatif menyodorkan ke mulutnya.
Lalu Suri tersenyum waktu Tanjung membuka mulut, menerima suapan dari Suri.
"Gue punya permintaan dan lo harus selalu bilang iya. Oke?"
"...."
Okenya Tanjung adalah diam. Jadi Suri langsung menunjuk ke stand bakso goreng di dekat mereka. "Gue mau beli itu."
Suri berlari ke sana, dan Tanjung mengikutinya santai.
Suri beli dengan porsi besar, berharap Tanjung komentar sedikit saja, namun dia masih saja diam.
Ke mana pun Suri pergi, Tanjung sedikitpun tidak bersuara protes. Dia cuma mengikuti, melihat, membayar.
Suri yakin dia bakal bilang iya apa pun yang Suri minta. Karena kayaknya dia tidak dengar, tidak memperhatikan.
"Gue mau kerja," pinta Suri akhirnya. Yakin bahwa itu pun akal diiyakan.
"Yes, boleh. Tadi gue liat lowongan kerja buat—"
Kerah leher baju Suri ditarik dari belakang. Kayak seseorang memegang leher kucing tanpa kelembutan.
Oleh siapa lagi pelakunya kalau bukan Tanjung.
"Apa, sih?!" pekik Suri jengkel.
"Gue capek. Pulang."
"Mau liat lowongan kerja dulu! Gue mau kerja, mau berusaha, bukan nikmatin duit lo doang! Emang lo suka gitu sama cewek yang cuma minta duit enggak bisa berusaha sendiri? Suka?"
Tanjung menarik kerah Suri agar berbalik, dengan kata lain tidak. Tidak buat kerja, lebih spesifiknya.
"Kenapa sih kalo gue kerja? Heran banget gue sama lo. Enggak masuk akal tau enggak lo malah marah gue mau kerja. Emangnya—"
"Suri."
__ADS_1
Suri tersentak bukan karena Tanjung menyeramkan, tapi karena untuk pertama kali, bahkan setelah mereka tidur bareng, ini pertama kali dia menyebut nama Suri.
Pertama kali.
"Lo udah ngomong dari tadi." Tanjung melirik. "Sekarang diem."
Saking terkejutnya, Suri lupa buat protes soal larangan bekerja yang bertentangan dengan emansipasi wanita.
Perempuan itu mengikuti langkah Tanjung, menatap punggung yang dibalut kaos hitam bersih itu lamat-lamat.
Jantung Suri berdebar. Agak terlalu keras dan ribut untuk alasan yang susah dimengerti.
Suri.
Kenapa rasanya beda kalau Tanjung memanggilnya? Seakan-akan Suri baru mendengar namanya sendiri.
Suara dia pun rendah, dalam, dan tenang. Bukan suara yang bosan, malas, capek. Juga bukan suara yang terkesan sangat memerintah atau merendahkan.
"Tanjung—"
Belum sempat Suri memanggil dengan benar, seseorang menghampiri Tanjung buat berbisik.
Kayaknya memang sengaja berbisik agar Suri tidak dengar soal apa pun isi pembicaraan mereka.
Ekspresi Tanjung yang semula kalem agak berubah serius. Dia lantas menoleh, dan Suri malah jadi agak tegang.
"Anter dia pulang," perintahnya pada orang di belakang Suri.
"Lo mau ke mana?" Suri was-was. Mendadak ia takut kalau setelah ini tidak bertemu Tanjung lagi.
"Gue ada urusan." Tanjung berbalik begitu saja.
"Gue ikut!" Suri mau berlari menyusul, tapi dua orang langsung menghadangnya. "Tanjung!"
Meski dengar, Tanjung tidak berbalik, langsung masuk ke mobil yang menunggunya.
*
__ADS_1