Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
23. Takut


__ADS_3

Mati gue. Suri pucat pasi, menggigil kedinginan.


Bagaimana bisa ada orang yang cengkramannya meremukkan ponsel?!


Normalnya kan itu tidak bisa!


Suri tahu sih dia ini bertato dan kayaknya dia gengster, tapi serius dia melakukan itu?


Suri merasa lehernya dalam bahaya. Kalau ia diremas, tulangnya patah seperti itu?


Dan seolah tahu Suri ketakutan, Tanjung malah semakin meremasnya.


Retakan itu terdengar horor, terus dan terus sampai tiba-tiba ponselnya patah, jatuh berserakan bersama darah segar di telapak tangan Tanjung.


"Lo."


Suri menahan napas.


"Gue biasanya ngatur orang pake cara kayak gini."


Tanjung meremas tangannya sendiri, hingga darah menetes di antara pecahan ponsel di lantai.


"Mereka yang enggak mau nurut, yang kurangajar, yang enggak ngerti padahal tau siapa yang seharusnya ngatur—biasanya gue matiin dulu biar paham."


Mata Suri memerah.


"Jangan maksa gue." Tanjung mengambil mangkuk bubur, berlalu pergi. "Jangan ngomongin soal hak pribadi lo lagi. Itu enggak ada, selama gue ada."


Napas Suri memburu. Kini ia sepenuhnya paham apa maksud Tanjung.


Peduli setan Suri menolong dia. Peduli setan dia berhutang nyawa pada Suri.


Apa yang dia katakan adalah aturan baru hidup Suri.

__ADS_1


Itu yang terpenting bagi gengster siialan itu.


*


Tanjung paling tidak suka dengan perempuan banyak omong. Tanjung paling tidak suka dengan perempuan yang merasa sok bisa, padahal dipukul sedikit saja sudah remuk.


Tapi waktu melihat Suri yang biasanya memberontak jadi diam di pojok, Tanjung jadi merasa aneh sendiri.


Apa lagi sekarang? Dia lapar?


"Lo kenapa enggak makan?" Sudah hampir malam dia belum makan, jadi Tanjung bertanya.


Siapa tahu dia lupa.


Suri meringkuk, bibirnya terlipat dan mukanya menjengkelkan.


Tanjung berdecak melihat perempuan ini. Sebentar dia begini, sebentar dia begitu.


Karena Tanjung itu paling tidak suka bicara, lebih baik bertindak. Ditarik tangan Suri agar berdiri, mau menyeret dia makan.


"Lo kenapa?" Tanjung bertanya tak paham. Jangan bilang dia terluka lagi karena tangan Tanjung?


Bisa-bisanya seseorang terluka berulang kali cuma karena dipegang. Tanjung yang hampir mati saja sekarang masih hidup.


"Gue tanya lo kena—"


Tangisan Suri menghentikan Tanjung, kagok melihat dia menangis seperti meratapi kematian.


Suaranya tersedu-sedu sampai memenuhi kamar, dan Tanjung merinding untuk alasan sulit dimengerti.


Dari dulu Tanjung benci makhluk cengeng. Dari dulu Tanjung benci makhluk lemah.


Ya, Tanjung misoginis seperti kata Dayan.

__ADS_1


Terus kenapa badannya jadi kaku melihat dia begini? Padahal tinggal bentak saja. Nanti dia diam juga kalau sadar sudah berbuat bodoh.


Terus kenapa malah—


"Abang, hiks." Suri menangis sampai satu mukanya basah oleh air mata. "Abang, gue takut."


Tanjung hanya diam.


"Abang, plis pulang. Gue takut, hiks."


"...."


Takut.


Dia takut pada Tanjung.


Tanjung tidak mengerti. Kenapa dia harus takut sampai menangis?


Memang dia harus takut. Tanjung memang akan marah jika dia berani berbohong, berani meladeni Dayan, atau berani banyak bicara apalagi membantah.


Tapi kenapa harus takut seperti ini? Tanjung tidak pernah mau menyakitinya. Kalau mau, sudah dari awal Tanjung banting dia.


Asal dia patuh, Tanjung tidak akan menyakitinya. Tanjung juga tidak hobi menyakiti seseorang tanpa sebab.


"Lo mau uang?" tanya Tanjung, tak tahu selain itu.


Memang perempuan itu boros jadi Tanjung bukannya kaget. Tapi Suri benar-benar boros sampai Tanjung berulang kali harus memberi dia uang.


Kali ini Tanjung rasa uang receh tidak dia suka. Jadi Tanjung menelepon Ikram, menyuruh dia datang bersama setumpuk uang.


"Lima puluh." Ikram mengintip ke belakang, pada perempuan yang menangis itu. "Lo mau apain duit segini banyak, Bos?"


Lima puluh juta buat Tanjung itu banyak. Luar biasa banyak. Tapi kalau dia diam dengan ini, Tanjung akan berikan.

__ADS_1


Jadi berhenti membuat tangisan aneh yang bikin Tanjung merinding.


*


__ADS_2