Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
92. Candaan Tak Lucu


__ADS_3

"Jangan remehin hubungan suami istri. Ngerti, bujang?"


Mau anaknya tiga, lima, tujuh, kalau ujung-ujungnya dia belum merasakan hubungan saling terbuka, dia tidak bakal seratus persen paham perasaan Suri.


Jadi mungkin wajar Ikram meremehkan. Dia cuma tahu hubungan pacaran yang kalau bosan tinggalkan, kalau salah putuskan.


Suri langsung menoleh waktu pintu ruang tamu terbuka, disusul kehadiran Teguh. Sekali lagi dia bawa hadiah untuk Suri dan Rana, yang semuanya tidak lagi diperiksa atas permintaan Suri pada Tanjung.


"Cuma sepuluh menit," bisik Ikram, waktu Suri memberi isyarat keluar.


Itu waktu yang Tanjung izinkan Suri dan Teguh bicara secara pribadi.


Suri cuma mendengkus. Entah kenapa malah setelah bicara dengan Ikram tadi, gugupnya hilang. Suri mendadak memperkirakan kalau ada masalah besar antara Tanjung dan Arul, makanya sampai sekarang sang kakak belum bisa kembali.


Mungkin Teguh mau mengatakan itu, mengira Suri bakal marah, bercerai dari Tanjung karena kecewa.


"Gue enggak punya banyak waktu, jadi langsung aja," gumam Teguh padanya.


Teguh terlihat sangat gugup. Melihat ke sekitaran seolah takut Tanjung muncul atau Ikram diam-diam menguping atau ada seseorang yang melihat dari jauh.


"Suri, abang lo—"


"Abang Teguh tenang dulu." Suri malah tidak fokus karena Teguh terlalu takut. "Gue dengerin kok. Pelan-pelan. Lo keringetan gitu jadinya."

__ADS_1


"Suri, dengerin gue."


"Iya?"


Teguh menarik napas, membuangnya secara singkat ke udara. Gugup dia hilang sedikit meski masih berkeringat. Kini dengan mata tegas, dia menatap Suri.


"Arul udah lama mati."


Eh?


"Bos—maksud gue, Tanjung, yang bunuh dia."


Suri mengatup mulutnya dan mendadak tak paham dengan bahasa yang Teguh pakai.


"Bang." Suri jelas tidak percaya. "Kok lo ... becanda kelewatan, sih?"


Setidaknya itu yang mau Suri percaya, tapi Teguh menggeleng.


"Kalo lo teriak sedikit aja, Ikram bakal masuk. Kalo dia tau gue ngomong apa, gue bakal disiksa paling sebentar sebulan baru gue dimutilasi buat jadi makanan anjiing." Teguh tersenyum. "Menurut lo gue becanda buat jadi makanan anjiing?"


Iya. Dia pasti bercanda. Mungkin dia sudah lelah hidup makanya mau jadi makanan anjiing.


Karena ... karena yang dia katakan memang tidak masuk akal.

__ADS_1


"Arul masuk ke Aliansi sama kayak gue. Masuk ke organisasi yang Tanjung ibaratnya jadi bos di bawah the bos. Lo pasti pernah ketemu Bos Besar, kan?"


Suri masih terdiam. Namun sebenarnya dia mendengar.


Sangat jelas.


"Gue ceritain singkat aja."


Teguh terus menatap sekitaran lagi, mewaspadai segalanya.


"Gue sama Arul masuk organisasi yang keliatannya itu preman. Ini soal politik dan Aliansi yang isinya beberapa organisasi itu punya tugas ngatur banyak urusan yang enggak keliatan di publik. Termasuk soal judi, soal narkoba, yang kayak gitu—gue yakin lo pernah dibawa ke sana."


"Gue enggak ada waktu jelasin maksudnya apa, jadi intinya kerjaan gue sama Arul itu jadi anak buahnya Tanjung yang megang organisasi."


Apa yang dia katakan? Itu yang Suri pikirkan tapi masih ia simak baik-baik.


"Organisasi punya sistem naik pangkat yang sama aja kayak sistem lain. Makin tinggi pangkat, makin besar gaji yang dia dapet dari organisasi. Pangkat paling tinggi itu yang Tanjung punya, Eksekutif, tapi anggota organisasi biasanya cuma bisa sampe pangkatnya Ikram, asistennya Eksekutif, karena Eksekutif dibesarin langsung sama Bos Besar."


"...."


"Arul ngambil jalan pintas buat dapet uang tanpa harus naik pangkat."


Teguh mengerutkan kening penuh kesedihan.

__ADS_1


"Dia jadi pengkhianat."


*


__ADS_2