
Besok paginya, Suri morning sickness lagi. Beralasan pada Tanjung bahwa suasana hatinya memang sedang buruk, jadi ia muntah-muntah.
Ketahuan sih Tanjung tidak terbiasa pada hal itu. Soalnya mau bagaimana Suri pada dia, Tanjung cuma menganggap Suri memang kurang waras jadi maklumi saja.
Dia pasti tidak pernah dekat dengan wanita sebelumnya. Suri jadi yakin.
Oke, mari masuk ke masalah utama.
Kemarin Tanjung bilang 'kita nikah besok', nah pertanyaannya, bagaimana?
"Kita mau ke mana?" tanya Suri waktu keinginannya muntah sudah teratasi, dan Tanjung mengajaknya buat pergi. "Kantor Agama?"
Tanjung cuma diam, tetap mengajak Suri jalan.
Mungkin sekitar setengah jam mereka jalan—dua kali istirahat karena Suri capek—baru akhirnya Tanjung mengajaknya masuk ke sebuah bangunan klasik yang sepi.
"Kita mau ngapain di sini, Tanjung?" Suri rada parno, takut kalau Tanjung menipunya, mau membunuh Suri di tempat beginian karena Suri minta status.
Kan ada yang begituan di film-film. Walaupun itu film jenis 'brutal'.
Tapi dugaan itu langsung terpatahkan begitu pintu sebuah ruangan terbuka, dan Suri ternganga melihat seseorang.
Dia ... dia bukannya pebisnis muda terkenal yang kayanya diluar nalar? Kenapa Tanjung membawanya ke sini dan kenapa orang itu ada di sini?!
Dalam hati Suri histeris, tapi dari luar terlihat tidak berpikir apa-apa.
"Bos." Tanjung masuk, otomatis Suri juga masuk.
Orang itu memberi isyarat mata saat berkata, "Duduk."
Suri memegang lengan Tanjung takut-takut, bukan karena dia seram. Tapi karena sebaliknya.
__ADS_1
Ganteng banget, batin Suri sulit dikontrol.
Kegantengannya jauh di atas Dayan, atau Tanjung, atau Ikram.
Mungkin karena waktu melihat dia, Suri jadi ingat berita kalau dia punya dua ratus cabang kedai di negara ini, disamping dia adalah pebisnis sukses yang penghasilan bulanannya pasti punya minimal sepuluh angka nol.
Bosnya Tanjung itu dia?! Pantesan Tanjung buang duit lima puluh juta kayak buang ludah.
"Gue enggak nyangka lo minta pertemuan pribadi buat urusan kayak gini." Si Bos itu tersenyum pada Suri. "Jadi lo ceweknya Tanjung? Suri, kalau enggak salah?"
Suri menunduk sopan. Takluk sama hawa berduitnya. Tahu hawanya dia?
Kayak seorang raja yang bisa membeli harga diri semua pria dan wanita yang dia mau.
"So, Tanjung," kata Bos membuka topik utama, "gue udah denger dari Ikram. Lo mau ngasih status buat Suri."
Si Bos tersenyum lagi pada Suri.
Tanjung hanya berekspresi datar. "Lo enggak ngasih peraturan Eksekutif enggak boleh nikah, jadi gue kira enggak masalah."
Biarpun sejauh ini, belum ada Eksekutif di Aliansi yang punya istri.
"Yah, gue enggak masalah kalian pada nikah. Selama enggak ganggu kerjaan kalian, gue setuju-setuju aja. Tapi yang gue tanyain, lo paham maksudnya nikah?"
Tanjung memiringkan wajah, merasa paham tapi tidak bisa menjawab. Ia merasa itu seperti pertanyaan yang tidak harus ditanyakan.
Intinya kan menikah. Kenapa harus dipertanyakan lagi?
Bos tersenyum. "Menarik."
Kalau Bos tersenyum, Tanjung tahu artinya bukan hal baik. Orang ini selalu begitu.
__ADS_1
"Suri, lo keluar dulu. Gue mau ngomong sama Tanjung berdua."
Tanjung melirik Suri yang buru-buru beranjak, keluar dari ruangan itu.
Ketika Suri sudah menghilang dari pandangannya, Bos pun menghepa napas, membuka tuksedo yang terpasang di badannya.
Dari tadi, dia memang terlihat agak menahan diri karena Suri.
"Gue enggak nyangka lo ketemu cewek terus sampe kayak gini. Dia ngajak lo nikah dan lo mau. Tapi lo enggak paham maksudnya apa."
"Gue paham." Tanjung tidak suka disebut tidak paham.
"Enggak." Tapi Bos pun tidak peduli pada bantahan Tanjung.
Bos beranjak. Berputar dan berdiri di dekat Tanjung, menatapnya dari atas.
"Dayan ngomong sama gue, Tanjung, kalo lo ngikutin Karya. Tapi setelah gue liat lagi, lo sama Karya beda kasus. Karya begitu karena gue, sementara ini ... yah, anggep aja Tuhan maunya begitu."
Tanjung bisa mengerti bahwa Bos sedang mengisyaratkan kalau permintaan Tanjung punya risiko dan seharusnya tidak dilakukan.
Meski begitu, Tanjung tidak merasa kalau risiko itu perlu ia takuti.
"Gue bilang sekali lagi, gue enggak masalah kalau lo mau nikah." Bos meletakkan tangan di atas meja, membungkuk lebih rendah. "Tapi pertanyaan gue, lo udah siap punya kelemahan?"
Tanjung tercenung seketika.
"Terakhir kali, lo dihajar sampe hampir mati. Lo santai-santai aja sampe sekarang, kan? Tapi kalo cewek lo yang begitu, lo bakal ngapain?"
"...."
"Gue bakal ngurusin surat resmi kalian, kalau lo mau. Jadi, lo mau?"
__ADS_1
*