
Buat Suri, ulang tahun tuh sebenarnya enggak penting-penting banget. Dan kadang Suri juga ngerasa orang yang merayakan ulang tahun besar-besaran itu norak.
Soalnya kalau merayakan kalian dapat apa?
Iya, dapat kado, tapi bikin acaranya juga keluar uang. Kalau uang acaranya dipakai beli kado yang kita mau, bakal lebih cerdas, kan?
Dulu Suri pikir, namanya juga manusia. Kalau ada yang susah, kenapa harus yang gampang? Kalau bisa menyusahkan diri sendiri, kenapa harus memudahkan?
Tapi Suri paham, yang istimewa dari ulang tahun bukan acaranya, melainkan perasaan kalau orang ingat dengan kita.
Waktu kecil Suri tidak pernah merayakan ulang tahun. Cuma di tahun terakhir ia bersama Arul, kakaknya membeli kue cokelat kesukaan Suri di toko Ayudia sebagai kejutan.
"Abang punya kejutan, Dek," begitu kata Arul, sambil menutup mata Suri. "Gue buka mata lo, yah. Satu, dua, tiga!"
Tidak spesial. Itu cuma kue cokelat dari toko Ayudia disertai lilin dan tulisan Happy Birthday Adek Jelek. Tapi Suri sampai menangis memeluk Arul, karena entah kenapa Suri merasa sangat dipikirkan.
Ulang tahun itu tidak penting tapi membuat senang.
Maka Suri putuskan memesan kue ulang tahun buat Tanjung.
Siapa tahu kan dia nangis juga? Bahagia gitu Suri kasih kejutan.
"Tanjung punya jam tangan enggak, sih? Menurut lo gimana?"
Hari ini Ikram menemani Suri cari hadiah di mal, karena nanti Tanjung akan pulang.
__ADS_1
"Bos enggak suka jam tangan."
Ada ternyata laki-laki tidak suka jam tangan. Suri geleng-geleng kepala.
"Kalo sepatu?"
"Bos punya langganan toko sepatu sendiri. Desainnya juga dibikinin buat Bos doang. Kalo dari yang lain, Bos enggak pake."
Suri mendengkus. "Terus bos lo suka apa?" tanyanya malas, mendadak bete karena si bosnya Ikram ini banyak pilih.
Definisi sederhana yang menyusahkan. Sederhananya orang banyak uang.
"Gak ada," jawab Ikram santai.
"Gue lempar yah lo."
Ekspresi Suri langsung serius. "Apa?"
Paling spesial buat cewek setahu Suri biasanya tumpukan uang, emas permata, baju branded atau tas. Biarpun di antaranya Suri cuma paling suka uang, soalnya ia bisa beli sate sepuas-puasnya.
Ikram tersenyum melihat ekspresi serius Suri. "Ngangkang di kasur, jangan banyak protes."
Jawaban yang membikin Suri melepas sandalnya, melempar Ikram.
Memang orang-orang di sekitar Tanjung semuanya pada sengklek.
__ADS_1
Tapi Suri tidak menyerah. Ia keliling mal, mencari kesana-kemari apa saja yang mungkin Tanjung suka.
Mal luas, pasti ada yang Tanjung mau.
Sialnya satu jam keliling, Suri masih belum tahu apa yang mesti ia beli buat suami tercintanya. Dan setelah dipikir lagi, Ikram benar juga.
Memang tidak ada yang paling Tanjung suka selain dia menguasai Suri.
Hingga pada akhirnya, dua jam kemudian, Suri malah beli baju buat diri sendiri. Baju yang setidaknya pasti Tanjung suka ia pakai.
"Udah gue bilang ngasih hadiah sama bos enggak usah pake keliling mol," ujar Ikram menyindir.
"Lo sama bos lo aja yang enggak normal." Suri menggerutu.
Tapi memang benar, Suri keliling rasanya tidak ada satu yang Tanjung sukai di tempat ini. Mungkin kalau Suri mau membelikan Tanjung sesuatu, itu paling hanya baju.
Yang jadi masalah, memberi hadiah kaus spesialnya apa? Mau harga kausnya Tanjung jutaan sampe mungkin belasan, kaus ya kaus.
Bentuknya begitu-begitu juga.
Lepas belanja, Suri mempersiapkan apartemen. Menata ruangan sedemikian rupa dibantu sama orang bayaran, lalu kue pesanan datang, hingga tinggal menunggu Tanjung datang.
Ikram memberi kabar dari bawah kalau Tanjung sudah naik, dan Suri bergegas memegang kue, pakai baju dinas hitam, menunggu di belakang pintu ruangan gelap.
Begitu pintu terbuka ....
__ADS_1
"Surprise!"
***