
Hal tersulit dalam hidup Tanjung adalah mengucapkan kalimat itu. Tapi dengan mengucapkan itu saja belum tentu Suri mau memaafkan dia, apalagi tanpa mengucapkan maaf.
Kini berganti Tanjung merampas kerah leher pakaian Dayan, menatapnya dengan kesan sangat ingin membunuh. Kemarahan dia atas Dayan menggendong anaknya dan kemarahannya yang dia tahan pada Suri tadi kini terlampiaskan lewat cengkraman itu.
"Lo sentuh ujung kuku anak gue lagi, gue abisin divisi lo, anjingg."
Hadeh. Padahal kan Dayan cuma menggendong. Memang Dayan ini apa sih sampai menyakiti anak kecil?
Anak bayi pula.
"Oke." Dayan mundur. "I won't touch her anymore. I promise."
Lagipula, Dayan juga tidak terlalu menyukai anak kecil, jadi ia tidak peduli mau menggendongnya atau apa pun.
*
"Bos."
Tanjung menghempaskan seluruh isi meja di depannya sebagai bentuk pelampiasan. Urat-urat di leher Tanjung sampai terlihat. Kulitnya yang putih agak memerah saking marahnya dia pada keadaan sekarang.
Kemarahan Tanjung sulit ia tahan melihat anaknya berada dalam dekapan Dayan. Kemarahan Tanjung juga semakin membumbung karena Suri terus meracaukan Arul, Arul, Arul.
Apa sebenarnya yang Arul berikan pada Suri?!
__ADS_1
Dia sudah mati dan pengkhianat itu bahkan cuma bisa hidup sebagai pengkhianat!
"Mereka enggak boleh di sana lama-lama." Tanjung bergumam tenang, tapi sedikitpun tak terdengar memiliki perasaan. "Dayan cuma mau mainin gue."
Permainan Dayan adalah sesuatu yang tidak akan pernah dicampuri oleh Bos Besar. Karena itu ibarat cuma sebuah candaan antar 'saudara' dalam Aliansi.
Kalau Dayan melukai Suri apalagi Rana, baru Bos Besar akan menyuruhnya berhenti. Jika hanya sekadar memanas-manasi, Tanjung justru cuma terlihat seperti bocah yang gampang marah padahal temannya tidak berbuat hal buruk.
Namun!
Melihat tangan orang sialan itu menggendong Rana sudah cukup membuat Tanjung murka.
Di kepala Tanjung sekarang ia sedang membakar habis kota ini, kota yang Dayan jadikan kerajaan kebanggaannya.
Ikram mengingatkan begitu Tanjung terlihat sudah lumayan tenang.
"Tanpa tittle Eksekutif Aliansi, kita enggak bisa sembarangan nyuruh Dayan begini atau begitu. Cara paling cepetnya cuma uang."
Jelas Tanjung tidak sudi mengemis di kaki orang itu.
Itu anak dan istrinya. Kenapa Tanjung harus memberi uang pada Dayan demi melihat anak dan istrinya? Dia yang harus menyerahkan anak dan istri Tanjung lalu menerima setiap pukulan darinya sampai Tanjung puas.
"Bos, gue ngomong begini bukan buat bikin lo marah," ucap Ikram hati-hati. "Lo mau minta maaf?"
__ADS_1
"Soal?"
"Arul."
Tanjung melirik dingin. "Kenapa gue mesti minta maaf?"
"Maksud gue, bukan minta maaf karena lo ngaku salah, Bos. Maksud gue minta maaf biar Suri puas."
"Gue bisa muasin dia pake uang, bukan minta maaf. Lagian dia harusnya ngerti kalo enggak semua orang yang dia suka mesti idup buat dia."
Tanjung mengepal tangan.
"Arul ngambil yang gue punya. Lo mau bilang gue mesti minta maaf karena udah mukulin dia?"
Ikram langsung diam, menggaruk pipinya bingung. Memang ini sih bosnya yang ia tahu. Harga diri memang harga mati.
Seseorang tidak mungkin bisa menjadi bos jika dia bahkan tak punya harga diri dan keegoisan mempertahankan harga diri itu.
Tapi, satu sisi kalau Tanjung mau berdamai, Ikram rasa Suri akan sangat sulit dibujuk.
Huft. Bagaimana cara menyelesaikan ini?
*
__ADS_1