Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
103. Bos VS Mantan Bos


__ADS_3

Bagi Tanjung, diikuti tidak diikuti itu tidak ada bedanya.


Dulu Tanjung sendirian sebelum semua hal ada di tangannya. Dan sebentar lagi pun ia akan punya wilayah baru, kegiatan yang baru bersama anak buah baru, jadi segala sesuatu tentang itu tidak mengusik Tanjung.


Yang tidak bisa Tanjung gantikan hanya Suri dan Rana.


Hanya mereka berdua. Mereka yang harus ada, di mana pun dan ke mana pun Tanjung melangkah.


"Lo mau pake pesawat, Bos? Lo udah beli tiket?"


Tanjung diam saja dan Ikram sudah paham kalau Tanjung siap berangkat, yang dengan kata lain tidak butuh bantuan apa pun lagi.


Begitu tiba di bandara, seseorang langsung datang menjemput mereka, menuntun untuk langsung memasuki pesawat tanpa prosedur apa pun.


Ikram yang mengikut di belakangnya langsung terkekeh kecil.


Memang bosnya luar biasa.


Seumur hidup Tanjung, menginjak pesawat mungkin tidak pernah. Karena dulu ketika Tanjung kecil, dia terlalu miskin untuk punya apa-apa. Lalu ketika dia memiliki segalanya, Bos Besar menetapkan wilayah pasti untuk Tanjung, tidak bisa untuk dia tinggalkan kapan saja dia mau.


Tapi begitu memijak, dia langsung naik jet pribadi Bos Besar, meninggalkan segalanya.

__ADS_1


"You know what, Boss? Lima taun lagi, gue bakal naik jet pribadi gue sendiri."


Tanjung melirik. "Apa bagusnya punya beginian?"


Tawa Ikram berderai. "Ya buktiin ke dunia kalo duit emang segalanya."


*


"Ya, ya, ya." Dayan langsung melangkah mendekat begitu Tanjung keluar dari pintu pesawat. "Selamat datang di Bali, mantan Bos. Berhubung lo pake jet pribadinya Bos Besar, lo jadi harus dijemput orang yang masih jadi Bos ini."


Tanjung turun dari tangga pesawat, berlalu mengabaikan Dayan. Waktu sehari tidak akan cukup meladeni orang palsu ini, jadi Tanjung lebih suka pura-pura dia tidak pernah hidup.


"Eits, seenggaknya sapa gue dong. Kan sekarang kita beda posisi. Masa mantan Bos belagak sama Bos, sih?" goda Dayan, sambil terus menekan-nekankan status Tanjung yang sudah bukan bos siapa-siapa lagi.


Ikram yang melihat itu cuma geleng-geleng. Kenapa Bos Besar sangat suka menempatkan orang seperti Dayan ini di posisi kedua organisasi?


"Lo kalo ketemu orang bisa enggak sih enggak ngajak ribut?" timpal Ikram, karena setidaknya ia masih bisa bicara.


Dia malah tertawa. "Itu becanda."


Dayan melipat tangannya di. belakang kepala, mengikuti langkah Tanjung yang masih tanpa henti. "Anyway, why you're here?"

__ADS_1


"Di mana ada bos, di situ ada gue."


"Iya sih kalo diliat dari sikonnya sekarang, gue rasa Tanjung bakal didorong buat terjun bisnis. Jelas duitnya bakal makin banyak."


Kenapa saat dia mengatakannya, kesannya Ikram cuma mau duit Tanjung saja? Tapi tidak salah juga sih, soalnya Ikram suka duit.


"Suri mana?" tanya Ikram, mewakili bosnya yang mungkin sudah eneg duluan sebelum bertanya.


Orang itu bahkan masih berpura-pura tidak melihat Dayan. Terus berjalan meninggalkan mereka termasuk Ikram.


Dayan malah tersenyum misterius. Tiba-tiba dia berhenti berjalan, memasukkan tangan ke saku celananya, menyeringai lebar.


"Gue enggak dapet perintah ngelepasin Suri."


Di depan sana, Tanjung langsung berhenti. Ternyata setidaknya dia masih dengar apa yang Dayan ucapkan.


Ucapan itu mengisyaratkan dia tidak bermaksud mempertemukan Tanjung dengan Suri sekarang.


Tanjung seketika berbalik, menatap Dayan tanpa ekspresi. "Enggak ada gunanya lo nahan istri gue lagi. Gue udah bukan Eksekutif Aliansi."


*

__ADS_1


__ADS_2