Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
97. Sangat Membencinya


__ADS_3

"Lo pernah diperlakuin kayak sampah?" tanya Dayan tiba-tiba. "Lo dipijak-pijak kayak kotoran kering, diludahin karena enggak guna, dipaksa buat keliatan sempurna, enggak punya kelemahan, dikasih pilihan kalau lo enggak jadi A, lo enggak bakal bisa jadi B, C, D, tapi harus jadi 0. Jadi ampas sisa."


"Percuma lo—"


"Gue sedikitpun enggak belain Tanjung. Well, gue nikmatin dramanya, Sayang."


Dayan berbalik, masih dengan senyum di bibirnya.


"Tapi buat orang yang buta perasaan kayak lo, dunia Tanjung ataupun gue enggak butuh."


"...."


"Well, gue enggak butuh lo juga, Tanjung, Dayan dan Bos Besar Sialann!" Dayan berteriak keras. "Kayak gitu kan yang mau lo bales?"


Ketika Suri hanya menatapnya tanpa suara, di antara desir angin laut yang kencang itu, Dayan berjalan menjauh.


Tapi masih berucap, "Gue pernah bilang, kan? Kalau lo hidup di dunia, siap-siap jadi budak. Karena hidup selalu pake konsep diktatorial. Lo mau apa, lo pengen apa, lo coba apa—ujung-ujungnya ya terserah Tuhan."


"Terus lo Tuhan-nya gitu, hah?"


"Of course not. Such a stupid question."

__ADS_1


Dayan tertawa. Berbalik untuk terakhir kali.


"But yah, Tuhan ngebentuk dunia yang rantai makanan tertingginya itu power. Lo enggak punya power buat apa-apa, so here you are."


Suri mengepalkan tangannya, menyadari bahwa selama ini di mata Tanjung ataupun Dayan, Suri benar-benar cuma alat bermain mereka.


Mereka melakukan apa yang mereka mau, mereka tak peduli dengan apa yang Suri rasakan, karena yang paling penting adalah diri mereka sendiri.


*


Suri baru tahu jika ternyata dulu Dayan bohong soal dia tinggal di Palembang. Rumah Dayan justru berada di pinggir laut, atau lebih tepatnya sebuah hotel yang berhadapan langsung dengan pemandangan pantai Kuta.


Karena Suri menjadi istri Pembunuh itu setahun, ia paham kalau semua Eksekutif Aliansi memang tidak punya rumah.


Dayan pergi begitu saja waktu mereka turun dari kapal setelah perjalanan panjang. Walau diawasi banyak orang, Teguh mendampingi Suri atas seizin Dayan.


"Maafin gue." Teguh bergumam ketika Suri akhirnya duduk di kasur hotel bersama Rana. "Harusnya gue lebih hati-hati."


"Abang enggak salah."


Suri sudah tidak bisa menangis setelah semua air matanya kering tersapu angin laut.

__ADS_1


"Lagian gue jadi istrinya dia karena terpaksa. Gue tau dia punya duit segunung buat mainin orang kayak kita."


".... Lo benci sama Tanjung?"


"Emang perlu ditanya?"


Sekarang Suri tidak lagi bisa membenci seseorang sebesar ia membenci Tanjung. Bahkan Suri masih terus menyesali keputusannya menyelamatkan nyawa Tanjung dulu.


Sungguh. Sungguh kalau Suri dulu membiarkan dia mati, Suri tidak akan merasa sebersalah ini pada kakaknya.


"Maksud gue, lo enggak sedikitpun punya ruang mau maafin dia?" tanya Teguh lagi.


Teguh menarik kursi, duduk tanpa mengalihkan pandangan dari kesedihan Suri. "Lo ngasih semua yang lo punya buat dia. Maksud gue, ada bagian diri lo yang mau maafin dia?"


Tidak.


Tidak setitikpun.


Suri sekarang cuma bisa membayangkan bagaimana Tanjung membunuh kakaknya, bagaimana Tanjung menenggelamkan kakaknya dan sekarang Suri tak memiliki siapa pun.


Orang tua Suri pergi tanpa pernah Suri tahu siapa mereka. Jika Tanjung tidak merenggut Arul, setidaknya ada satu keluarga yang bisa Suri punya. Tapi monster itu membunuhnya.

__ADS_1


*


__ADS_2