
Sudah lama rasanya Tanjung tidak pulang ke apartemen buat tidur. Terakhir kali ia pulang cuma waktu rapat darurat kemarin, yang Tanjung cuma mampir buat mandi dan mengambil materi.
Tanjung tinggal di lantai dua belas gedung apartemen elit di kawasannya. Tempat yang diberikan oleh Bos sejak Tanjung mengambil tanggung jawab sebagai Eksekutif dari organisasi di Aliansi.
Buat Tanjung ini adalah satu-satunya rumah. Tempat yang akan menertawakan gubuk yang dulu menjadi tempat ia lahir dan besar.
Tapi anehnya, sekarang Tanjung merasa kurang.
Kenapa, yah? Rasanya berbeda jika ia pulang ke tempat Suri. Ada sudut hati Tanjung yang merasa bahwa tempat ini mendadak jadi asing, berbeda dari kontrakan sempit Suri yang baginya lebih nyaman.
Tanjung berusaha abai dengan keanehan itu. Mandi, ganti baju, mengoleskan salep ke tangannya sendiri, lalu tak lama Dika datang membawa makanan.
Itu dilakukan karena Tanjung tak bisa masak, dan tak tertarik buat memasak bahkan untuk dirinya sendiri.
"Biar gue aja yang nyiapin Bos."
Tanjung duduk, membiarkan orang itu melakukan apa yang dia inginkan.
Tak butuh waktu lama, salad buah dan semangkuk dada ayam suwir bersama sepiring nasi merah terhidang di depan Tanjung.
Agak sama dengan yang sering dihidangkan Suri.
"Ohiya, Bos."
"Hm?"
"Gue denger kemarin Ikram ditanya sama Bos Besar soal cewek lo itu."
Tanjung langsung melirik. "Kapan?"
"Gue enggak inget, tapi kayaknya waktu Dayan masih di Jakarta. Bos nanyain dia siapa, hubungan sama lo apa, termasuk uang yang lo kasih ke cewek itu berapa."
Kalau Bos Besar bertanya, Tanjung rasa dia sebenarnya sudah sangat tahu dari informan. Dia bertanya bukan benar-benar untuk tahu, tapi untuk 'isyarat'.
"Menurut gue aja, Bos, mending lo mindahin cewek lo—kalau dia cewek lo—ke sini. Ngawasin dia bisa lebih gampang."
Tanjung menatap makanannya tanpa suara.
Cewek lo.
Kata itu mengganggu.
Sebenarnya Suri itu siapanya?
__ADS_1
Yang bisa Tanjung ketahui sekarang hanya ... ia tak akan membiarkan seseorang menyentuh Suri seujung kuku. Dan entah kenapa Tanjung 'suka' pada kepemilikan dari kata 'cewek lo' itu.
*
Suri masih menyimpan simcard dari HP yang Tanjung remukkan.
Sambil memasang simcard lama ke HP barunya, Suri menyesal sudah menolak HP mahal dan cuma mengambil HP harga empat juga.
Mahal sih, tapi kalau morotin Tanjung mungkin harus yang dua digit. Atau tiga digit sekalian. Atau miliaran sekalian!
Orang brengsek macam dia memang harus dibuat miskin biar sadar kalau uangnya bukan untuk main PHP.
"Tanjung berengsekk!" teriak Suri kesal, tanpa alasan apa-apa. "Dasar cowok brengsekk! Enggak layak idup!"
Saking fokus mendumel, Suri tidak sadar kalau pintu tempatnya terbuka, memunculkan Tanjung dengan setelan kaus hitam khasnya.
"Awas aja lo kalo ketemu. Gue sirem sekalian pake minyak panas!"
"Karena?"
Balasan itu jelas membuat Suri terlonjak, langsung melotot kaget. "Lo?!"
"Karena apa lo mau nyirem minyak panas?" tanya Tanjung mengklarifikasi.
"...."
"Kenapa enggak jawab?" Tanjung benar-benar merasa harus tahu, karena sepertinya itu akan berbahaya dibiarkan.
Hanya karena Tanjung melindunginya dari sup panas dulu, tidak berarti Tanjung tidak merasa sakit.
Tapi alih-alih menjawab, Suri malah diam.
Suri terlalu cengo. Tidak percaya kalau Tanjung kembali lagi, saat ia pikir dia benar-benar sudah meninggalkan Suri.
Kalau begitu, kalau Tanjung balik, berarti dia bukan PHP? Serius?
"Kenapa lo mau—"
Belum selesai Tanjung menuntut jawaban, Suri sudah melompat ke pelukannya, membuat Tanjung tersentak kaget.
Tapi Tanjung bukan manusia ribet.
Ia dipeluk, maka ya balas peluk.
__ADS_1
Tangannya yang ditutup sarung tangan menepuk-nepuk punggung Suri. Langsung merasa ia sudah pulang ke tempat yang benar, bukan tempat sepi yang kemarin Tanjung datangi.
"Kenapa baru pulang?" gumam Suri seperti merengek. "Lo dari mana?"
Tanjung diam. Meresapi kerinduannya pada gadis ini. Tak tahu kenapa, tapi Tanjung merasa sudah sangat lama tidak menemui Suri.
"Kenapa enggak pulang kemarin? Kenapa ninggalin gue?" tanya Suri beruntun.
"...."
"Gue enggak boleh kerja, enggak boleh keluar, enggak boleh ngapa-ngapain ya seenggaknya ajak gue juga kalo lo pergi."
"...."
"Tanjung."
"Hm?"
"Ngomong."
Tanjung memiringkan wajah, tak paham.
Bicara apa?
Dirinya paling tidak suka bicara kalau bukan urusan penting. Mulutnya memang dilatih diam untuk segala sesuatu yang tidak perlu diberi suara.
Menurut Tanjung, pertanyaan Suri tidak perlu dijawab. Intinya Tanjung pulang, sudah titik.
Sementara Suri malah sebal karena kediaman itu.
"Kalo lo enggak pulang lagi sehari, gue tutupin pintu pake lemari biar lo enggak masuk!"
Tanjung tak berekspresi. "Kemasin barang lo."
"Kita mau pergi? Ke mana?"
"Pindah."
"Hah?"
"Ke tempat gue."
Yang itu lebih penting dibahas.
__ADS_1
*