Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
71. Memperbaiki Otak


__ADS_3

Tanjung kembalikan jus yang dibeli anak buahnya, minta dia memegang sampai Suri haus nanti.


"Terus lo mau apa?" tanya Tanjung perlahan.


Dia malah semakin menangis kencang.


Seumur hidup Tanjung, nampaknya cuma Suri makhluk aneh yang belum ia depak dari hidupnya.


Tanjung sebenarnya paling tidak suka orang banyak tingkah. Tanjung juga tidak suka perempuan yang tahunya cuma menangis.


Namun melihat berbagai ekspresi Suri entah kenapa jadi kebiasaan Tanjung.


Di otak Tanjung, kalau Suri menangis, ya dia sedang menyalurkan hobinya.


Biarkan saja. Nanti juga capek sendiri.


"Lo mau ke rumah sakit lagi? Kontrol?" tanya Tanjung halus, mendadak merasa harus lembut. "Kalo lo sakit, bilang, jangan nangis. Besok Ikram nemenin lo ke dokter."


Suri membenamkan wajah ke dadanya, terus menangis sambil meracau.


"Lo kabur," isak Suri yang teredam. "Lo enggak mau tanggung jawab sama anak lo makanya lo kabur. Hiks. Lo kabur."


Tanjung dibuat cengo mendengarnya.


Apalagi ketika racauan Suri terus berlanjut.


Dia berkata takut kalau Tanjung menolak anaknya, takut Tanjung meninggalkannya, dan takut kalau nanti anaknya lahir tanpa bapak.

__ADS_1


Dia bilang Tanjung hanya mau menikmati tubuh Suri, tidak mau diberi beban tambahan anak, dan Tanjung sudah bosan pada Suri jadi sekarang saatnya dia Tanjung buang.


Tanjung yang mendengar itu menahan diri tidak menggetok kepala Suri.


Otaknya dia mungkin perlu dibersihkan. Imajinasinya tidak lucu sama sekali.


Kenapa pula Tanjung harus meninggalkan anak yang sekarang saja sudah ia harap keluar agar mereka cepat bertemu?


"Suri." Tanjung menarik wajahnya agar mendongak.


Tatapannya serius. Mungkin yang paling serius dari yang selama ini Suri lihat.


Tanjung membelai pipi Suri sekaligus menghapuskan air matanya. Kemudian ia menunduk, menyatukan kening mereka.


"Enggak bakal ada hari gue ninggalin lo," bisik Tanjung apa adanya. "Apalagi anak gue. Itu anak gue. Lo ngerti?"


Bagian dari Tanjung.


Sampai neraka membeku pun anak itu akan jadi sesuatu yang Tanjung lindungi bersama Suri.


Jadi berhenti meracaukan hal bodoh.


*


Tanjung sekarang punya misi selain memperbaiki otak Suri yang sering rusak.


Itu adalah membuat Suri nyaman sampai tak pernah berpikir meninggalkannya.

__ADS_1


Tanjung tak peduli soal Arul. Orang itu yang membuatnya kehilangan banyak uang dan dihajar oleh Bos Besar hingga terbaring di rumah sakit.


Tapi kalau Suri menganggap Arul penting, Tanjung akan menghargai.


"Baik, anak-anak, sekarang mari kita mulai kelasnya."


Yah, sekali lagi, misi Tanjung selain membuat Suri nyaman adalah memperbaiki otaknya.


Sungguh, ada yang salah dengan otak Suri. Tanjung sangat amat yakin bahwa itu adalah hal yang serius.


Pagi hari Tanjung selesai mandi dan makan masakan Suri, perempuan itu tahu-tahu sudah mengajaknya duduk.


Lengkap dengan alat tulis dan kacamata tanpa lensa.


"Sekarang kita mau belajar apa? Ya, kita mau belajar CARA BICARA BIAR ORANG ENGGAK SALAH PAHAM."


Hah, apa yang sebenarnya dia lakukan pagi-pagi?


"Bagus, anak-anak. Siapa di sini yang suka enggak bicara sampe orang lain kesel mau pijak-pijak kalian? Angkat tangan."


Tanjung rasa otaknya Suri butuh dioperasi. Ada tidak sih operasi ganti otak?


Tanjung belum pernah dengar tapi kalau ada, Tanjung akan minta Suri dioperasi sekalipun biayanya satu triliun.


Otak itu penting. Sangat amat penting.


"Baik, anak-anak, kita mulai pelajarannya dengan percakapan sehari-hari. Adek yang dari tadi diam, ayo coba baca bukunya."

__ADS_1


Tanjung cuma melihat dia tanpa ekspresi, penasaran apa yang menyebabkan dia jadi seperti ini.


__ADS_2