
Tanjung tidak pernah tahu apa itu menabung, karena permainan uang yang ia tahu itu tidak boleh berhenti di tiga atau empat tempat.
Kalau Tanjung punya uang lalu uangnya ia simpan, itu berarti Tanjung membunuh uangnya. Makanya setiap kali punya uang, disamping kebutuhan, Tanjung investasi.
Makanya Tanjung juga tidak butuh menunggu waktu buat punya rumah.
Pagi Suri minta, siangnya Tanjung mengurus rumah yang dia mau. Yang membuat lama cuma izin dari Bos Besar untuk Tanjung pindah, karena kebetulan Bos sedang di Turki.
"Lo enggak ke Menteng aja, Bos? Rumah lo di sana kan kosong."
Tanjung diam, tanda tidak setuju dengan saran Dika.
Tanjung punya rumah. Total lima rumah besar, tujuh dengan rumah yang ia jadikan kos-kosan. Tiga rumahnya sedang dicicil oleh orang lain dan Tanjung punya dua rumah kosong sekarang.
Namun tidak. Tanjung beli rumah cuma untuk bisnis. Ia tak suka tinggal di tempat luas tiga empat lantai. Itu bukan zona nyaman menurut Tanjung.
Malam harinya Tanjung sudah mengobservasi rumah satu lantai yang ia dapat, memiliki halaman kecil yang hanya butuh sedikit renovasi.
Sewaktu Tanjung sibuk bicara pada arsitek, tiba-tiba Dika datang.
"Bos, lo tau Teguh?"
"Hm."
"Dia baru balik tugas, jadi enggak sempet ada sebulanan kemarin. Dia izin mau ketemu istri lo."
__ADS_1
"Buat?"
Tanjung sempat merasa terusik, tapi Dika langsung memberitahunya bahwa Teguh adalah kenalan lama Suri, temannya Arul.
Saat itu Tanjung baru ingat kalau memang Teguh sempat diintrogasi dulu akan pengkhianatan Arul. Meski dia terbukti bersih dan dianggap sebagai rekan sampai saat ini.
"Suri boleh ketemu dia." Tanjung memberi persetujuan. "Rana enggak."
Kalau dia teman Suri, Rana tidak ada hubungannya.
Kalau tidak ada hubungannya, anak Tanjung tidak usah buang-buang waktu bertemu.
*
Waktu Suri dengar Tanjung membolehkannya bertemu Teguh tapi tidak dengan Rana, Suri cuma menghela napas pasrah.
Tapi yasudahlah. Suri juga sudah menggendong Rana sejak tadi, jadi tangannya lumayan pegal juga. Dibiarkan Rana beristirahat dengan Ikram, Suri keluar, menemui Teguh di depan pintu, duduk di kursi panjang yang tersedia untuk penjaga ketika Tanjung sedang pergi.
"Bang Teguh."
Orang itu tersenyum menyambut Suri. "Cie, gendut."
Suri meninju lengannya seketika. "Ini juga udah diet ketat!"
Tidaklah. Suri tidak gendut selama hamil, soalnya Tanjung menyiapkan ahli gizi secara khusus biar makanan Suri dikontrol.
__ADS_1
Dia itu pria realistis. Ogah kalau Suri berubah bentuk terlalu jauh, jadi Suri menjaga badan.
"Anak lo cewek, yah? Namanya siapa?"
"Rana. Nama panjangnya belum gue pikirin, Bang. Soalnya bapaknya cuma ngasih nama Rana."
"Nama panjang Tanjung? Nama belakang maksudnya."
"Kayaknya enggak ada, deh." Suri menggeleng. "Soalnya KTP Tanjung kan palsu."
Nama Tanjung di KTP-nya palsu, itu yang Ikram katakan waktu Suri melihat nama Tanjung beda. Semua orang mengenal dia sebagai Tanjung dan nyaris tidak ada yang tidak tahu. Tapi kartu pengenalnya menggunakan nama lain yang secara hukum adalah nama resminya.
"Iya, sih. Gue aja enggak tau nama panjang Bos tuh siapa." Teguh mengangkat bahu, menyerahkan kotak ke tangan Suri. "Hadiah buat lo."
"Abang repot-repot banget."
Suri membuka penutup kotak itu, terkejut menemukan lipatan pakaian bersama kotak HP dengan merek sama seperti HP pemberian Dayan tahun lalu.
"Bang, ini—"
Teguh cepat-cepat memegang tangan Suri, seolah menghentikannya bicara. Pada saat yang hanya sekali kedipan itu, Teguh menyelipkan secarik kertas ke tangan Suri.
Sebelum pengawas mendekat.
Suri buru-buru mengepal tangan, menyembunyikan kertas yang Teguh selipkan padanya.
__ADS_1
***