
Dayan itu punya spek-spek badboy, jadi Suri cukup kaget waktu diceramahi olehnya yang diluar dugaan ternyata bijak juga.
Bijaknya juga lumayan oke gitu. Ngomong soal Tuhan dan hidup, padahal Suri juga cuma iseng bicara soal tadi. Walau yah, agak jujur.
Tangisan Suri jadi hilang tak berbekas, dan berpikir kenapa juga ia harus menangis?
Kan sudah dibilang, menangis tidak membuat Arul pulang. Menangis cuma membuat kepala Suri sakit, dan lama-lama ia malah merasa sangat menyedihkan dan konyol.
"Gue jadi bego banget." Suri mengacak poninya asal. "Tapi thanks ya, Yan. Gue kalo sedih emang suka rada gila."
"Nope."
"Terus kita kapan balik?"
"Mau balik sekarang?"
Suri mengangguk, karena sekarang juga ia siap berhadapan dengan Tanjung lagi. Pikiran Suri juga mulai jernih, jadi kayaknya sekalipun Tanjung menjadi sinting, Suri sudah sanggup.
Pikir Suri di dermaga bakal ada orang-orang yang menunggunya, siap menyeret Suri pulang atas perintah Tanjung.
Tapi ternyata tidak juga. Orang-orang berbaju hitam yang siap menjemput Suri tidak ada, satupun bahkan.
Jadi Dayan mengajak Suri makan bersama, yang Suri terima karena ia lapar.
Sudahlah. Toh, Tanjung juga bakal ada di apartemen.
*
Suka.
Suka; girang hati; sudi; menaruh simpati; kasih sayang; cinta; mudah sekali.
Dari semua arti suka yang Tanjung baca di internet, tidak ada yang bisa ia pahami.
Tadi cewek itu bertanya apa Tanjung suka padanya, kan?
Maksudnya apa Tanjung girang pada dia? Tidak.
Apa Tanjung sudi padanya? Tidak.
Apa Tanjung menaruh simpati? Jelas tidak.
Apa Tanjung punya kasih sayang? Setan di neraka tertawa pada pertanyaan ini.
__ADS_1
Apa Tanjung punya cinta? Ubur-ubur di air mengeras karena pertanyaan tololl ini.
Apa Tanjung mudah sekali padanya? Ini bahkan pertanyaan tidak jelas.
Lalu datang dari mana kesimpulan Tanjung suka padanya?
"Bos."
Tanjung mengangkat pandangan pada Ikram yang tiba-tiba masuk.
Dia terkejut melihat tangan Tanjung, tapi nampaknya terlalu capek bertanya.
Segala sesuatu tentang bosnya memang tidak pernah normal, begitu pikir Ikram.
Bahkan kalau dunia ini berputar dan Tanjung cuma diam, maka berarti dia cuma mau diam saja.
"Ada panggilan rapat darurat."
"Wakilin gue." Tanjung sedang malas.
"Semua harus dateng, tanpa terkecuali."
Tanjung dibuat diam, lalu berdecak kesal.
Makanya dalam hidup Tanjung, perintah adalah mutlak. Dan orang yang boleh memerintah cuma orang kuat.
Itu yang Tanjung alami, itu yang Tanjung terapkan dalam hidupnya.
"Minta anak buah lo jagain dia." Tanjung beranjak, bergegas keluar untuk bersiap-siap.
Sudah lama juga ia tak pulang ke tempatnya.
*
"Gue masih mau sama lo sih, tapi gue ada urusan mendadak."
Dayan mengulurkan tinjuannya yang lansung membentur pelan kepalan tangan Suri.
"Bye, Suri."
"Bye." Suri melambaikan tangan riang, lengkap bersama senyum manis.
Sudah kayak anak SD, yah? Tapi setelah bersama Dayan kedua kali, Suri malah merasa dia itu memang kekanakan. Dan sangat menyenangkan diajak berteman.
__ADS_1
Kalau dulu dia mengajak Suri main judi, sekarang dia mengajak Suri keliling kota sambil membicarakan tentang pengalaman kerja yang dia tahu.
Sayangnya dia bilang harus segera pergi, jadi sore-sore dia mengantar Suri pulang. Padahal kalau sampai malam pun Suri juga betah.
Hal pertama yang bikin tercengang, depan pintu kamar tidak dijaga orang berkaos hitam.
Disusul keterkejutan karena bosnya yang juga suka kaos hitam hilang tanpa jejak di kamar.
Lah, ke mana orang sinting itu?
"Tanjung?"
Suri mengecek semua tempat, tapi si Brengsek yang bikin dirinya loncat dari balkon tidak ada.
Jangan bilang sudah pulang? Dia sudah memutuskan pergi karena Suri kabur?
Dih, gitu aja pulang? Habis nyosor sana sini, ngatur gue kayak Tuhan, sekarang ilang?
Apakah semua cowok di dunia ini memang hobi menghilang? Kalau begitu kenapa tidak sekalian semua cowok secara keseluruhan lenyap saja?
Suri berlari masuk ke kamar lagi, buka laci untuk mengecek sesuatu.
Masih ada.
Setumpuk uang yang Tanjung berikan waktu Suri menangis masih ada.
Tidak Suri sentuh sama sekali, soalnya kalau dipake terus nanti diminta lagi, Suri takut harus jual ginjal dulu. Bisa berabe Suri hidup tanpa satu ginjal, padahal dengan dua ginjal saja ia semaput.
Tapi masa sih dia pergi? Suri masih bertanya-tanya dalam hati, sampai tak sadar duduk di sana menunggu.
Satu jam, dua jam, tiga jam ... jam dua belas malam—Tanjung tak kunjung datang.
Suri bengong melihat udara. Sulit mencerna karena tiba-tiba Tanjung yang selalu ada malah hilang.
Kayak, Suri tidak bisa percaya sekalipun sudah jelas di depan mata.
Masa sih dia pergi?
Masa sih?!
Serius dia sudah pulang?
*
__ADS_1