
Kata balas dendam membuat otak Suri seketika memahaminya.
Teguh benar. Kalau Suri memanfaatkan permusuhan Dayan dan Tanjung, ia bisa balas dendam.
Suri bukan hanya mau balas dendam pada Tanjung, tapi pada keseluruhan organisasi yang berani menginjak-injak kakaknya.
Teguh menjelaskan secara rinci semua hal yang perlu Suri tahu, karena dia merasa jaminan hidupnya tidak mungkin seaman Suri.
Namun Suri tidak mau kehilangan Teguh yang setidaknya masih bisa mengingatkan Suri pada Arul. Jadi ketika Dayan muncul, Suri langsung bergerak.
"Gue mau jaminan."
Dayan tersenyum. "Istrinya Tanjung plus anaknya enggak butuh jamian buat selamat—itu hukum mutlak, Sayang."
"Bukan buat gue, tapi buat Bang Teguh."
Senyum Dayan langsung berubah, menandakan dia memang punya rencana menghapus pengkhianat. Teguh sudah bilang bahwa sejak dia membeberkan kebenaran tanpa izin, dia sudah mengkhianati seluruh Aliansi.
Dan pengkhianat harus dibunuh.
Dasar menjijikan. Apa semudah itu dia melenyapkan ini dan itu yang tidak mematuhi mereka? Suri benar-benar jijik setiap kali ia ingat setahun hidupnya habis bersama pembunuh seperti mereka.
"Kalo lo enggak jamin, gue bakal bunuh diri." Suri cuma spontan memikirkan itu. "Organisasi kalian bakal perang kalo gue bunuh diri, kan?"
__ADS_1
Dayan mengangkat alis, lalu tersenyum untuk kesekian kali. "Harusnya dulu dia mati sama Arul, yah?"
Jangan bilang dia tetap akan membunuh Teguh?!
"Lo!"
"Oke, oke. Gue jamin."
Dayan mengangkat tangan seolah dia menyerah bahkan sebelum Suri berteriak.
"Tapi gue perlu ngasih tau lo, Sayangnya Tanjung. Pertama, Tanjung itu cuma kepala divisi, bukan kepala organisasi, jadi kalo ada perang, itu antar Eksekutif, bukan organisasi apalagi keseluruhan Aliansi."
Suri tidak peduli pada hal semacam itu!
"Ya, lo pasti enggak peduli jadi langsung ke yang kedua; kalo lo bunuh diri, enggak berarti beneran ada perang antar divisi, soalnya yah, Bos Besar enggak nganggep lo penting-penting banget buat jadi alesan gue sama Tanjung boleh gelud."
"Tapi tiga; anggep aja gue orang baik jadi gue manusiawi. Okelah, Teguh aman. Kalau perlu, gue pindahin kamarnya ke sebelah kamar lo biar lo tau dia enggak mati."
Lalu setelah mengatakan itu, Dayan bergeser, memberi jalan untuk seseorang masuk dengan kereta makanan disertai dua orang dokter.
"Sekarang jangan marah, jangan nangis, jangan ribet lagi. Lo punya anak, jadi pikirin anak lo aja. Oke, Baby? Oke."
Seenak hatinya dia datang, seenak hati pula dia pergi. Dayan berbalik meninggalkan Suri bersama perawat dan dokter yang memastikan kondisinya baik-baik saja.
__ADS_1
*
Tanjung paling tidak suka menunggu jika ia sudah bisa mengerjakan. Begitu mendapat kabar bahwa Bos Besar tiba dari Sumatera pagi ini, Tanjung langsung meminta pertemuan mendesak.
Di sisi lain, Bos pun sudah tahu bahwa Tanjung ingin membicarakan Suri hingga tanpa basa-basi mereka bertemu di restoran milik istri Bos Besar, ruang VVIP yang biasa digunakan untuk pertemuan penting.
"Sebelum lo ngomong, gue harus ngomong duluan."
Karakter Bos Besar memang selalu mendahulukan dirinya di atas apa pun.
"Pertama, gue nyuruh Dayan ngambil istri lo buat menghindari konflik. Lo pasti tau."
Artinya, jangan protes tentang hal itu.
"Kedua, gue pernah bilang jangan sampe ada masalah. Gue juga bilang kalau lo nikah, lo nambah beban. Lo pasti inget."
Artinya, itu bukan kesalahan ataupun urusan Bos jika sekarang Tanjung mendapat masalah.
"Ketiga, lo ngadep gue sebagai siapa?"
Tanjung tersentak, tidak memahami arti hal ketiga itu.
Apa yang—
__ADS_1
"Lo Tanjung yang gue besarin," Bos Besar menopang dagu, tersenyum penuh arti, "Tanjung yang udah punya istri, atau Tanjung yang udah punya anak?"
*