
Suri tuh termasuk enggak cengeng, loh. Demi Tuhan. Ia bisa melewati waktu berbulan-bulan enggak nangis sama sekali biarpun hidupnya susah.
Bukan tegar sih sebenarnya. Suri cuma capek menangis. Sejak ditinggal Arul, sejak menghabiskan waktunya menangis berbulan-bulan, Suri capek karena nyatanya Arul tidak pulang karena tangisan.
Tangisan enggak ngubah nasib, sialann!
Suri sering berteriak begitu ke dirinya.
Paling kalau galau, Suri menyesap rokok.
Namun sekarang Suri capek. Cowok tidak jelas ini semena-mena padanya. Melarang Suri kerja, melarang Suri bahagia, melarang Suri banyak bicara, padahal dia hidup juga karena Suri yang tolong!
"Enggak usah nangis."
Dia meletakkan tumpukan uang ke depan Suri, yang jumlahnya berkali-kali lipat dari kemarin.
"Buat lo. Jadi diem," katanya, macam memberi anjing tulang biar berhenti menggonggong.
Suri malah menangis semakin kencang.
Siapa sih yang tidak suka dikasih uang? Suri juga suka. Suri benci uang tapi dengan uang ia tak perlu menderita.
Pertanyaannya, siapa yang suka dikurung dalam tempatnya sendiri, bersama cowok menyeramkan yang meremukkan HP kalian pakai tangan, meskipun dikasih uang?
Kalau dia bosan terus meremukkan leher Suri, uangnya bisa dia ambil lagi!
"Gue bilang jangan—"
"Abang!" Suri menangis histeris. "Abang pulang! Abang!"
__ADS_1
Tanjung tiba-tiba menarik tangannya lagi, bikin tangisan Suri makin histeris.
Namun macam mainan anak-anak yang mendadak habis batrei, tangisan itu lenyap ketika tubuhnya dipeluk.
Suri cengo. Kaget bukan main cowok menyeramkan ini ternyata bisa punya hati memeluk seorang cewek.
"Hiks." Juwita mewek, tapi kali ini tanpa suara.
"Diem. Enggak usah nangis."
Tak tahu kenapa, Suri memeluk punggung Tanjung dan menangis kembali. Tapi kali ini bukan karena ia takut, namun karena barusan Tanjung melakukan apa yang dulu Arul pernah lakukan.
"Diem," kata Arul saat Suri menangis karena demam. "Enggak usah nangis. Nanti Abang beliin es krim."
Dasar badjingan!
Kemarahan Suri mendadak berpindah pada Arul yang menghilang entah ke mana.
*
Tanjung menatap langit-langit kamar Suri sambil berusaha memikirkan kejadian tadi.
Kenapa Tanjung memeluknya? Tidak, kenapa Tanjung berpikir memeluknya?
Seumur hidup Tanjung, memeluk seseorang itu sudah seperti keharaman mutlak. Tanjung cuma pernah memeluk pinggang cewek yang duduk di atasnya dalam keadaan telanjangg.
Cewek di hidup Tanjung pun cuma sekitaran itu. Perempuan murahan, perempuan gampangan, perempuan yang fungsinya cuma jadi pemuas.
Makanya Tanjung heran. Datang dari mana dorongan memeluk Suri?
__ADS_1
Orang menangis itu ditampar. Iya, kan? Tidak jelas menangis karena apa. Sudah dikasih uang pun masih saja menyusahkan.
Kenapa?
"Oi."
Tanjung menoleh pada Suri yang tiba-tiba sudah di sebelah ranjang, menarik-narik kausnya.
Kasar, Tanjung menepis dia. "Apa lagi?"
"Laper."
".... Terus? Lo mau uang lagi?"
Matanya masih merah dan bengkak tapi dia sudah melotot. "Kulkas enggak ada isinya! Gue mau makan di luar tapi lo larang keluar! Terus gue makan apa? Makan duit?"
Tanjung menatap dingin. "Siapa yang suruh lo teriak?"
Lihat, dia lemah. Diberi kalimat itu saja langsung terkesiap takut.
Kenapa pula dia masih punya keberanian bicara sok hebat di depan Tanjung?
"Makan," cicit Suri. "Yaudah lo temenin. Ayok."
Tanjung melirik jam, baru sadar sekarang sudah jam sembilan malam.
Karena sebenarnya Tanjung juga lapar, ia bangkit, berjalan di depan Suri.
"Lo enggak pake jaket?" tanya dia tiba-tiba. Tepat sebelum Tanjung membuka pintu.
__ADS_1
Tapi karena menurut Tanjung pertanyaan dia tidak penting, ia tak menjawab. Cuma lanjut berjalan.
*