
Suri kena mental. Langsung tertohok oleh pertanyaan Tanjung yang merupakan fakta tak terbantahkan itu.
Iya, yah? Kenapa Suri nungguin dia pulang?! Kesambet jin apa Suri justru bisa-bisanya duduk menantikan penjajah ini datang?
Harusnya Suri bahagia karena akhirnya dia hilang. Suri bisa cari kerja lagi besok, dan berusaha menghidupi dirinya sambil menunggu Arul yang meniru Bang Toyib.
Suri juga bisa bebas lagi pergi kesana-kemari tanpa takut nyawanya terancam. Bebas juga dari pelecehan karena monster ini ada di kamarnya.
Kenapa juga Suri harus—
Ya tapi enggak langsung ngilang juga, teriak diri Suri yang lain. Harusnya kalo dia mau pulang pun ya dia bilang, dong. Gue kan jadi bingung dia mau dateng lagi atau enggak.
Lagian seenaknya banget dia pergi.
Udah digoshting Arul, ditinggalin orang tua, sekarang ditinggal dia juga lo masih pasrah?! Dasar bego! Enggak bisa begitu dong konsepnya.
"Ya harusnya lo tetep ngomong."
Suri membela diri, biarpun Tanjung membuatnya kena mental. Pokoknya dia yang salah, bukan Suri.
"Lagian kalo gue enggak nungguin lo, pintu gue kunci lo enggak bisa masuk. Terus juga, lo ninggalin duit lo di sini. Entar gue pake, lo nyariin, gue yang kena masalah."
Ya, benar. Itu alasan yang bagus. Memang dia itu harusnya bilang dulu kalau mau pergi biar Suri tahu duitnya mau diapakan.
"Duit?" Tanjung menatapnya bingung.
"Iya, duit." Suri mengeluarkan uang di laci karena siapa tahu dia lupa.
Orang kaya kan memang rada bodoh, yah. Jadi harus diberitahu berulang-ulang.
"Nih, lo lupa. Duit segini banyak buat orang lain udah biaya hidup bertahun-tahun, jadi harusnya lo enggak boleh lupa."
"...."
__ADS_1
"Lima puluh juta, udah gue itung tiga kali biar pasti. Kalau mau pulang, ambil."
Suri paling benci kalau Tanjung diajak bicara, dia cuma diam melihat. Lebih benci lagi setelah itu dia berlalu, pergi tidur seolah-olah Suri tidak habis bicara.
Katanya cewek selalu benar dan cowok selalu salah? Nah, bagi Suri, dirinya akan selalu jadi pihak salah kalau lawannya adalah Tanjung.
Dasar cowok menyebalkan!
*
Tanjung membuka matanya waktu dirasa sudah tenang, dan Suri sudah tidur di lantai bersama selimut. Dia tidur dengan lelap, berbeda dari tadi mengoceh tanpa henti sampai suaranya bikin Tanjung sakit kepala.
Setiap kali bersama gadis ini, Tanjung selalu dibuat bingung.
Secara tidak langsung Suri menunggunya pulang, begitu? Dia diam dan menunggu Tanjung pulang karena berharap Tanjung ada di sini?
Tanjung tidak pernah tahu ada sesuatu seperti itu di hidupnya.
Semuanya terserah Tanjung. Dan tidak pernah ada sesuatu seperti 'di rumah ada yang menunggu, khawatir karena Tanjung pulang malam'.
Mentok-mentok itu Ikram, karena sering ada pekerjaan yang harus dilakukan Tanjung, tidak bisa diwakilkan.
Tapi misal saja suatu saat Tanjung mati pun, tidak seperti akan ada orang yang bakal marah pada kenyataan. Tanjung mati atau tikus mati, tidak bakal ada banyak perbedaannya.
Bos jelas akan menggantinya dengan yang baru, dan Ikram cuma perlu patuh pada bos baru itu.
Sesederhana itu.
"Lo kalo pergi bilang-bilang kek!"
"Gue nungguin lo dari sore!"
Tanjung menatap langit-langit kamar Suri. Memikirkan hal yang masih sulit ia cerna sendiri.
__ADS_1
Buat Tanjung, dia ini sebenarnya apa? Kenapa Tanjung pulang lagi ke tempat ini? Kenapa Tanjung merasa 'senang' Suri menunggunya pulang?
Tanjung tidak tahu. Dari awal Tanjung bingung kenapa Suri menolongnya, apa pun alasan dia. Dia terlihat lemah, tidak punya apa-apa, intinya ya tidak dalam situasi pantas menolong.
Lalu .... Lalu apa?
"Lo suka sama gue?"
Tanjung menoleh pada Suri di lantai, tak tahu kenapa tergerak buat turun mendekatinya.
Ia mengulurkan tangan ke wajah perempuan itu, cuma bisa berpikir satu hal: Tanjung mau menelanjanginya.
*
"Gue mau kerja."
Suri berucap sambil mengintip ekspresi Tanjung, kalau-kalau dia berkata 'terserah'. Tapi ternyata itu manusia cuma melirik, tanpa bicara.
"Kita tuh sebenernya apa, sih?" tanya Suri capek. "Lo enggak suka sama gue, lo juga enggak peduli sama gue, terus lo ngalang-ngalangin gue ngejalanin hidup gue. Coba jelasin sama gue, yang gobllok di sini sebenernya siapa?"
"...."
Tangan Suri mengepal, menatap gemas pada Tanjung waktu tinjunya memukul-mukul boneka.
Suri menghela napas panjang. Berulang kali, baru ia bisa berpikir jernih.
"Oke, here's the thing." Suri beranjak ke depan cowok itu. "Lo cuma mau nidurin gue, kan? Habis itu, lo bakal pergi jauh-jauh-jauh-jauuuuuuuuuh banget dari gue, kan?"
"...."
"Duh, plis dong jawab. Jawab kalo ditanya, plissssssssssss! Plis!"
*
__ADS_1