Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
19. Entah Namanya Siapa


__ADS_3

Selama beberapa waktu, Suri hanya bertukar chat dengan Dayan. Cowok itu bersedia menemaninya bicara selama Suri sumpek di tempat asing ini.


Tapi kegiatan itu diinterupsi oleh kedatangan Si Aku Tidak Punya Nama Dan Tidak Suka Bersuara. Entah dia dari mana, karena dia mana mungkin menjelaskan apa-apa pada Suri.


Suri terpaksa harus berjalan mengikutinya. Turun ke bawah, bergabung dengan lautan manusia yang menyesaki lantai di luar ring.


"Hei." Suri menarik lengan dia waktu mereka semakin berdesak-desakan. "Lo enggak boleh masuk kerumunan. Rusuk lo masih sakit."


Orang ini lupa yah dia hampir mati? Dokter Moris kan bilang kalau tulang rusuknya dia itu retak.


Tapi bukannya menjawab, dia lagi-lagi menarik tangan Suri kasar. Dia menempatkan Suri di depannya tapi dengan posisi memunggungi kerumunan. Dia berjalan hingga mau tak mau Suri mencengkram kaus hitamnya, berlindung dari sikutan orang-orang.


Mau apa coba orang sekarat ke sini? Kalau orang mwnyikut rusuk dia sedikit saja, sakitnya bakal luar biasa minta ampun.


Pertanyaan itu terjawab ketika mereka duduk di kursi penonton yang terbatas.


"Lo ke sini mau nonton?!" teriak Suri emosi, walau suara teriakannya diredam kerumunan dan musik.


Serius deh kenapa dia banyak lagak kalau ujung-ujungnya cuma mau berjudi?!


Setidaknya dia harus tanya Suri karena Suri tidak mau berjudi bahkan kalau matahari mendadak jadi dingin!


"Heh! Jawab dong kalo ditanya!" sentaknya lagi.


Tangan orang itu mendarat di kepala Suri, membuatnya tersentak ngeri. Dia memutar kepala Suri ke depan, seperti kalian memutar kepala robot dari menoleh jadi lurus ke depan.


Lalu dia melepaskan tangannya tanpa peduli Suri merasakan sakit bekas tangan itu.


Saat itu, Suri berpikir, ialah yang mau naik ke ring untuk mencabik-cabik tubuh orang sialan ini.

__ADS_1


Semahal apa sih dia membayar kalau banyak bicara?! Mulutnya harus digesek kartu dulu gitu baru terbuka?


Dasar robot sinting!


*


Wajah Suri berangsur-angsur pucat waktu pertandingan dimulai.


Apa dirinya sudah bilang kalau ia benci perkelahian? Melihat orang saling memukul sampai berdarah membuat Suri membayangkan sakitnya yang menusuk.


Suri mau pulang.


Tapi ia tertahan di sini, menyaksikan aksi saling tinju dua orang pria yang nampaknya lebih bernafsu saling membunuh.


"Aw!" pekik Suri spontan waktu salah satu dari mereka terpukul di wajah sampai terpental. "Aw, aw, akh!"


Cowok di sampingnya menoleh, apalagi karena Suri memegangi lengan dia erat.


Ya jelaslah Suri dongkol. Tidak berhati yah dia? Tidak kesakitan melihat dua orang saling memukul?


Sayangnya Suri tak bisa berkata demikian, karena waktu ia melihat sekitaran, yang terliat hanyalah sekumpulan manusia bersorak-sorai seperti merayakan sebuah pesta penuh suka cita, alias sangat menikmati kekerasan itu.


Demi Tuhan, ini bukan tempat orang waras dan sehat mental seperti Suri. Ia harus keluar dari sini, menyelamatkan dirinya dari ketidakwarasan.


"Gue laper." Suri membuat alasan. "Udah ah, pulang aja. Males gue di sini."


Cowok itu menatapnya datar, menepis tangan Suri lagi dari lengannya.


Dia membuka ponsel, tampak mengetik sesuatu lalu diam.

__ADS_1


Suri berdecak jengkel lagi. Melihat sekitar berharap ia menemukan Dayan.


Memang Suri pernah bersama Dayan di sini dan terjadi pertarungan juga, tapi Dayan tidak memaksanya melihat, fokus menceritakan bahwa petarung yang berhasil membunuh lawannya akan dapat banyak uang.


Katanya, uang yang didapatkan berbeda kalau lawannya mati dengan tidak mati.


Biarpun malam itu Suri tidak melihat pembunuhan berkedok pertarungan karena pemenang memilih tidak bersikap sangat kejam.


Kalau ada Dayan, Suri lebih tenang.


Maka bergegas ia mengirim chat.


^^^Yan, lo di mana? ^^^


Hanya perlu lima belas detik sudah terbaca. Namun Suri tidak melihat dia membalas.


Baru saja Suri akan mengirim chat lagi, menjelaskan kondisi, sebuah tangan mendarat di bahunya.


"Loha?" Dayan menyengir. "Kangen gue, yah?"


Suri mau menangis melihat malaikat penolongnya.


Duh, mana dia ganteng banget malam ini. Suri perlu mengerjap untuk menyadari jaket yang dipakai Dayan malam ini adalah jaket VSC.


Siapa sebenarnya cowok ini? Pertama LV sekarang VSC?


Tapi lupakan dulu soal jaket branded! Maksud Suri, terima kasih Tuhan sudah mengirim malaikat penolong ganteng.


Hufh, sekarang Suri aman dan tinggal capcus.

__ADS_1


Gue adalah manusia suri, batin Suri penuh keyakinan. Tidaklah pantas gue di sini, teman-teman. Jadi ayo cabut, plus jauh-jauh dari cowok gila Entah Namanya Siapa ini.


*


__ADS_2